Wanatani Lestari Mencegah Timbulnya Pandemi

0
221
https://perfectdailygrind.com/2020/01/the-benefits-challenges-of-agroforestry-for-coffee-farming/

Pandemi COVID-19 cukup membuat dunia gonjang-ganjing. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa virus penyebab penyakit ini diduga bersumber dari satwa liar (sebagai penyakit zoonosis—penyakit yang ditransmisikan dari binatang ke manusia) yang dikonsumsi seperti kelelawar. Potensi penyakit semacam ini dapat muncul sejak bertahun-tahun lalu dan berevolusi seiring dengan interaksi antara manusia dengan satwaliar. Selain itu, evolusi penyakit zoonosis baru diprediksi dapat semakin marak akibat kerusakan ekosistem (contoh: deforestasi) dan perubahan iklim dimana cuaca dan iklim di suatu daerah menjadi tidak menentu.

Salah satu penyebab munculnya penyakit-penyakit baru adalah kerusakan ekosistem seperti deforestasi. Deforestasi adalah alih fungsi lahan dengan tutupan hutan menjadi non-hutan misalnya lahan pertanian, lahan penggembalaan, pertambangan, atau pemukiman. Deforestasi menyebabkan meningkatnya potensi interaksi satwa liar dan manusia. Satwa liar yang selama ini menjadi inang suatu mikroorganisme atau virus  kehilangan habitat akibat deforestasi lalu terdesak dan keluar dari habitatnya.

Hal ini memperbesar potensi interaksi satwa liar tersebut dengan binatang ternak atau manusia begitu pula dengan potensi transmisi patogen.  Akhirnya, mikroorganisme atau virus yang tadinya tidak berbahaya untuk manusia berkembang menjadi penyakit berbahaya. Tentu saja transmisi patogen–inang–manusia tidak semudah itu. Hal ini memiliki mekanisme yang rumit dan perlu dipelajari lebih lanjut.

Keberadaan wanatani (agroforestry) yang umumnya diterapkan pada hutan-hutan rakyat dan hutan adat di Indonesia selama ini telah terbukti menjaga kelestarian lingkungan. Wanatani adalah sistem menanam tanaman penghasil kayu keras dengan tanaman perkebunan atau penghasil pangan lainnya. Wanatani menjamin ketersediaan kayu dan pangan untuk masyarakat tanpa harus merusak hutan alam sebagai ekosistem alami satwa liar.

Dengan begitu, sistem wanatani dapat menjamin kelestarian hutan alam. Wanatani dapat menjaga dan menjadi habitat keanekaragaman hayati yang tinggi dibandingkan kebun monokultur dan pertanian intensif. Terjaganya ekosistem alami satwa liar berarti juga menjaga keberadaan predator alami dari satwa yang berpotensi menjadi inang suatu patogen sehingga populasinya tidak meledak.

Wanatani dalam jangka panjang menjadi tindakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Wanatani dapat menjadi penyerap karbon dan pengendali laju perubahan iklim. Wanatani dapat menjadi metode alternatif penghijauan, reforestasi, maupun pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dengan cara ini, produktifitas lahan dapat ditingkatkan tanpa merusak ekosistem lebih lanjut. Penerapannya dapat dilakukan pada zona-zona penyangga kawasan konservasi, ekosistem perawan, lahan kritis atau lahan rehabilitasi. Dengan menekan laju perubahan iklim, kerusakan eksoistem dapat dicegah begitu pula dengan evolusi penyakit baru. Hal ini akan berlaku dan berdampak dalam jangka panjang.

Satwa liar tidak dapat disalahkan sebagai penyebab penyakit yang telah merenggut ribuan manusia. Satwa liar telah berasosisasi dengan mikroorganisme dan virus tertentu selama ribuan tahun. Hal ini tidak menjadi masalah hingga akhirnya manusia bertambah banyak dan merusak ekosistem lalu mikroorganisme atau virus tersebut menjadi penyakit baru. Masih ada waktu untuk mencegah munculnya penyakit mematikan baru dengan mengubah cara interaksi manusia dengan alam menjadi lebih bijak. Bagaimanapun, menjaga ekosistem asli dari satwa liar adalah solusi terbaik.

Hani Ristiawan—Mahasiswa Koservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here