Fathul Qorib : Waktu-waktu Makruh Salat

0
117
Fasal VIII Dalam fasal viii Fathul Qorib diterangkan waktu-waktu yang dimakruhkan untuk mendirikan salat di dalamnya. Ada lima waktu yang dilarang untuk melaksanakan salat, kecuali ada sebab yang mendahuluinya. Adapun lima waktu tersebut, ialah (1) setelah salat subuh sampai terbitnya matahari, (2) ketika terbitnya matahari sampai sempurnanya terbit, (3)  ketika matahari tepat di atas kepala (ketika suatu benda tidak mempunyai bayangan) sampai matahari sedikit tergelincir, pengecualian pada hari jumat tidak dilarang, demikian pula pada jika salat dilakukan di tanah haram Makah, (4) setelah salat asar sampai terbenamnya matahari, (5) ketika matahari terbenam sampai benar-benar sempurna tenggelam. Fasal IX Dalam fasal ini dijelaskan hukum salat berjamaah bagi kaum lelaki. Berjamaah pada salat jumat hukumnya fardhu ‘ain, adapun berjamah dalam salat fardhu selain salat jumat hukumnya sunnah muakad. Ketika salat berjamaah, makmum wajib niat sebagai makmum, sedangkan imam tidak wajib niat sebagai imam, kecuali pada salat jumat hukumnya sunnah. Orang yang merdeka boleh makmum kepada seorang budak. Orang baligh boleh makmum kepada murohiq (laki-laki yang sudah tamyiz tetapi belum baligh). Laki-laki tidak diperbolehkan makmum kepada wanita maupun khuntsa (orang yang mempunyai dua alat kelamin dan keduanya berfungsi dengan baik). Wanita boleh makmum kepada wanita. Wanita boleh makmum kepada khuntsa. Khuntsa tidak boleh makmum kepada khuntsa maupun wanita. Ketika salat berjamaah, imam dan makmum harus dalam satu tempat. Jika makmum tidak bisa melihat imam karena safnya terlalu panjang, maka dia cukup melihat saf depannya, saf depannya bisa melihat saf depannya, berlanjut sampai ke imam. Makmum tidak boleh mendahului imam. Batas toleransi mendahului imam adalah dua kali fi’li (gerakan). Tidak ada penghalang yang menghalangi antara imam dengan makmum atau antara makmum dengan saf depannya. Sehingga makmum tidak tau apa yang dilakukan imam.

Fasal VIII

Dalam fasal viii Fathul Qorib diterangkan waktu-waktu yang dimakruhkan untuk mendirikan salat di dalamnya. Ada lima waktu yang dilarang untuk melaksanakan salat, kecuali ada sebab yang mendahuluinya.

Adapun lima waktu tersebut, ialah (1) setelah salat subuh sampai terbitnya matahari, (2) ketika terbitnya matahari sampai sempurnanya terbit, (3)  ketika matahari tepat di atas kepala (ketika suatu benda tidak mempunyai bayangan) sampai matahari sedikit tergelincir, pengecualian pada hari jumat tidak dilarang, demikian pula pada jika salat dilakukan di tanah haram Makah, (4) setelah salat asar sampai terbenamnya matahari, (5) ketika matahari terbenam sampai benar-benar sempurna tenggelam.

Fasal IX

Dalam fasal ini dijelaskan hukum salat berjamaah bagi kaum lelaki. Berjamaah pada salat jumat hukumnya fardhu ‘ain, adapun berjamah dalam salat fardhu selain salat jumat hukumnya sunnah muakad. Ketika salat berjamaah, makmum wajib niat sebagai makmum, sedangkan imam tidak wajib niat sebagai imam, kecuali pada salat jumat hukumnya sunnah.

Orang yang merdeka boleh makmum kepada seorang budak. Orang baligh boleh makmum kepada murohiq (laki-laki yang sudah tamyiz tetapi belum baligh). Laki-laki tidak diperbolehkan makmum kepada wanita maupun khuntsa (orang yang mempunyai dua alat kelamin dan keduanya berfungsi dengan baik). Wanita boleh makmum kepada wanita. Wanita boleh makmum kepada khuntsa. Khuntsa tidak boleh makmum kepada khuntsa maupun wanita.

Ketika salat berjamaah, imam dan makmum harus dalam satu tempat. Jika makmum tidak bisa melihat imam karena safnya terlalu panjang, maka dia cukup melihat saf depannya, saf depannya bisa melihat saf depannya, berlanjut sampai ke imam. Makmum tidak boleh mendahului imam. Batas toleransi mendahului imam adalah dua kali fi’li (gerakan). Tidak ada penghalang yang menghalangi antara imam dengan makmum atau antara makmum dengan saf depannya. Sehingga makmum tidak tau apa yang dilakukan imam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here