Categories
Kajian Islam KMNU IPB Sastra, Puisi, dan Humor Uncategorized

TAWASUL CINTA DALAM SEBUAH TRADISI

Hari ini begitu indah. Mereka bertanya kepadaku seberapa Indahkah? Ku jawab bahwa bahwa keindahan tak mengenal waktu, dan keindahan tak mampu dianalogikan bahkan dengan perumpamaan gunung uhud sekalipun. Keindahan selalu bersanding dengan kebahagiaan. Kebahagiaan berjalan diatas Shirath-mustaqim adalah selalu merasa tenang dengan segala kebaikan hidup dan menyongsong kehidupan ukhrowi sesuai dengan keyakinan. Tatkala hidayah telah Allah limpahkan semua kesusahan, kegundahan, dan segala duka kan sirna.

KMNU IPB (Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Institut Pertanian Bogor) menjaga istiqamah dalam melestarikan tradisi berziarah makam ulama di bogor, hanya karena ta’dzim dan ngalap berkah. Disisi lain juga menyadarkan bahwa hal yang paling dekat dengan kita adalah kematian dan semakin mengingatkan kepada Allah melalui kalimah dzikir dan ayat suci Alquran yang dibaca saat berziarah. Makam ulama yang diziarahi adalah KH. Tb. Muhammad Falak di pagentongan dan Alhabib Abdullah bin Mukhsin Al-atas di Empang.

Nama lengkap beliau adalah Al-Habib Abdullah bin Muhsin bin Muhammad bin Muhsin bin Husein bin Al-Qutub Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas bin Agil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Al-Ghuyyur bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Sahib Mirbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-‘Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal ‘Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah SAW. Beliau lahir di Al-Kasri, sebuah desa di Hadramaut, pada hari Selasa 20 Jumadil Awwal 1265 H (1849 M). Diantara Karomah beliau adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Al Habib Muhammad Bin Idrus Al Habsyi bahwa Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas ketika mendapatkan anugrah dari Allah SWT, beliau tenggelam penuh dengan kebesaran Allah, hilang dengan segala hubungan alam dunia dan segala isinya. Allahumanfa’naa bibarkatihim

Kitab-kitab beliau kurang lebih ada 850 kitab, sebagian tersimpan di “Jamatur khair atau di Rabitoh”. Tanah Abang Jakarta. Salah satu kitab karangan beliau yang terkenal adalah “Fatur-rabaniah” konon kitab itu hanya beredar dikalangan para ulama besar. Adapun karangan beliau yang lain adalah kitab “Ratibul Ahtas dan Ratibul Hadad.” Kedua kitab ini merupakan pelajaran rutin yang diajarkan setiap maghrib oleh beliau kepada murid-muridnya dimasa beliau masih hidup, bahkan kepada anak dan cucunya, Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas, dan menganjurkan supaya tetap istiqamah dibaca. Semasa hidup sampai menjelang ahir hayat beliau selalu membaca Sholawat Nabi yang setiap harinya dilakukan secara dawam/ langgeng di baca sebanyak seribu kali, dengan kitab Sholawat yang dikenal yaitu “ Dala’l Khoirot” artinya kebaikan yang diperintahkan oleh Allah SWT. Beliau wafat pada hari Selasa, 29 Zulhijjah 1351 Hijriah.

Semoga kegiatan ini, tetap istiqamah. Tawasul cinta dan kerinduan akan teduhnya ilmu dengan keberkahan para ulama, kiai serta guru-guru kita semuanya. Sebuah syair dalam kitab ta’limul muta’alim berkata:

Orang berilmu hidup abadi sesudah mati,,, sedangkan orang bodoh itu telah mati padahal ia berjalan diatas bumi, dikira hidup ternyata mati

Kehidupan hati dengan ilmu, ambillah!!!

Matinya hati dengan kebodohan, Hindarilah!

Kontributor : Ahmad Nur Hijayat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.