Shalat Jama’ah Online, Bolehkah?

Masa pandemi COVID-19 membuat aktivitas yang umumnya bertatap muka beralih ke media daring seperti rapat, kuliah, bahkan mengaji. Namun, apakah kegiatan peribadatan seperti shalat berjamaah dapat dilakukan secara daring atau online?

Dalam Kifayatu Al-Akhyat (hlm 168-168), shalat dianggap sah bila:

1. Makmum mengetahui shalatnya imam.
Artinya makmum mengetahui pergerakannya imam secara langsung. Ini sudah dinash oleh imam Syafi’i dan sudah sepakat para ashbab syafi’i. Sedangkan batasan ‘mengetahui’ disini yaitu bisa dengan melihat imam secara langsung, melihat sebagian shaf, atau mendengarkan suaranya muballigh (penerus suara imam).

2. Makmum tidak berada di posisi yang mendahului imam.
Bila seorang makmum berada di posisi yang mendahului imam maka shalatnya batal menurut qoul jadid, seperti halnya keharama mendahului dalam gerakannya (imam). Bila posisi yg mendahului imam tersebut di tengah-tengah shalat terdapat khilaf. Pertama berpendapat sah dan ini adalah pendapat sahih. Kedua berpendapat batal. Bagaimana kalau sejajar ? Menurut Ibnu Rif’ah tidak apa-apa.

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa kondisi makmum ini ada 3 keadaan:
1. Imam dan makmum di luar masjid
2. Imam di dalam masjid dan makmum di luar masjid
3. Imam dan makmum di dalam masjid.

Kondisi ke-3
Bila imam dan makmum sama sama berada dalam masjid maka hukumnya sah shalatnya makmum, baik shafnya terputus atau bersambung, sama juga (tetap sah) antara imam dan makmum terdapat penghalang atau tidak. Sama juga sah, keduanya berkumpul di satu tempat atau tidak. Bahkan, bila imam salat di atas menara dan makmum di dalam sumur, atau sebaliknya, jamaahnya tetap sah, karena keduanya berada dalam satu tempat, yaitu masjid.

Kondisi ke-2
Bila imam shalat di dalam masjid, dan makmum di luar masjid dan tidak ada penghalang di antara keduanya, maka jamaahnya sah, dengan syarat jaraknya tidak lebih dari 300 dzira’ (hasta) (kurang lebih 144 m, dengan asumsi 1 dzira’=48 cm). Jarak ini diukur dari posisi terakhir masjid menurut pendapat yang sahih.

Imam Nawawi dalam kitab Ar-Raudhah menjelaskan bila makmum berada di jalan yang bersambung dengan masjid maka dihukumi seperti tanah kosong menurut qoul sahih.

Kondisi ke-1
Imam dan makmum berada di luar masjid ada dua keadaan: (1) ruang terbuka, (2) ruang tidak terbuka. Bila di ruang terbuka maka jamaahnya sah dengan syarat tidak lebih dari 300 dzira’. Ruang tidak terbuka yang dimaksud seperti imam berdiri di halaman rumah dan makmum di rumah yang lain, atau keduanya berada di madrasah/rubath yang mencakup rumah-rumah. Maka imam berdiri di serambi dan makmum membuat shaf di belakangnya di serambi makmum.

Jadi kesimpulannya, apakah boleh jamaah online, imam berada di masjid memandu dengan speaker dan jamaah di rumahnya masing-masing?

Jawabannya tidak sah jamaahnya, karena
1. Makmum tidak mengetahui shalatnya imam atau mengetahui makmum yg tahu shalatnya imam,
2. Imam dan makmum berada di tempat yg berbeda-beda yg tidak pada kondisi 3, saling terpisah, dan tidak tahu satu dengan yg lain,
3. Posisi makmum juga tidak diketahui apakah di depan, di samping, atau di belakang imam.

Hamzah Alfarisi
(Khodim Ma’had Jawi)

Fathul Qorib: Shalat (Bagian 3)

Fathul Qorib-Terdapat beberapa kajian mengenai shalat pada kitab ini, antara lain: hal-hal yang membatalkan shalat, bilangan shalat, waktu-waktu yang dilarang mendirikan shalat, dan lain-lain. Tulisan tentang shalat ini akan dibagi menjadi beberapa bagian atau seri.

Lima Waktu yang Dilarang untuk Shalat

Dalam fasal ini diterangkan waktu-waktu yang dimakruhkan untuk mendirikan shalat di dalamnya. Ada lima waktu yang dilarang untuk melaksanakan shalat, kecuali ada sebab yang mendahuluinya. Adapun lima waktu tersebut, ialah

  1. Setelah salat subuh sampai terbitnya matahari,
  2. Ketika terbitnya matahari sampai sempurnanya terbit,
  3. ketika matahari tepat di atas kepala (ketika suatu benda tidak mempunyai bayangan) sampai matahari sedikit tergelincir, pengecualian pada hari jumat tidak dilarang, demikian pula pada jika salat dilakukan di tanah haram Makah,
  4. Setelah salat asar sampai terbenamnya matahari,
  5. Ketika matahari terbenam sampai benar-benar sempurna tenggelam.

Hukum Shalat Berjamaah bagi Kaum Lelaki

Berjamaah pada salat jumat hukumnya fardhu ‘ain, adapun berjamah dalam salat fardhu selain salat jumat hukumnya sunnah muakad. Ketika salat berjamaah, makmum wajib niat sebagai makmum, sedangkan imam tidak wajib niat sebagai imam, kecuali pada salat jumat hukumnya sunnah.

Orang yang merdeka boleh makmum kepada seorang budak. Orang baligh boleh makmum kepada murohiq (laki-laki yang sudah tamyiz tetapi belum baligh). Laki-laki tidak diperbolehkan makmum kepada wanita maupun khuntsa (orang yang mempunyai dua alat kelamin dan keduanya berfungsi dengan baik). Wanita boleh makmum kepada wanita. Wanita boleh makmum kepada khuntsa. Khuntsa tidak boleh makmum kepada khuntsa maupun wanita.

Ketika salat berjamaah, imam dan makmum harus dalam satu tempat. Jika makmum tidak bisa melihat imam karena safnya terlalu panjang, maka dia cukup melihat saf depannya, saf depannya bisa melihat saf depannya, berlanjut sampai ke imam. Makmum tidak boleh mendahului imam. Batas toleransi mendahului imam adalah dua kali fi’li (gerakan). Tidak ada penghalang yang menghalangi antara imam dengan makmum atau antara makmum dengan saf depannya. Sehingga makmum tidak tau apa yang dilakukan imam.

Fathul Qorib: Bab Shalat 2

Fathul Qorib: Bab Shalat (Bagian 2)

Fathul Qorib-Terdapat beberapa kajian mengenai shalat pada kitab ini, antara lain: hal-hal yang membatalkan shalat, bilangan shalat, waktu-waktu yang dilarang mendirikan shalat, dan lain-lain. Tulisan tentang shalat ini akan dibagi menjadi beberapa bagian atau seri.

Hal-hal yang membatalkan salat

  1. Berbicara dengan sengaja. Pembicaraan yang dimaksud ialah ucapan-ucapan yang disengaja dan difahami orang lain. Sengaja yang dimaksudkan ialah berbicara layaknya berbincang dengan orang lain, baik dalam rangka pembenahan salat maupun lainnya. Berbicara selain membaca ayat Al-Qur’an Walaupun hanya mengatak “قِ” yang berarti jagalah, maka itu akan membatalkan salat.
  2. Bergerak yang berlebihan, yang dimaksud berlebihan ialah bergerak lebih dari tiga gerakan atau satu gerakan tetapi frontal, misalnya loncat. Meskipun hanya satu gerakan, tetapi itu tidak dihitung satu gerakan karena gerakannya terlalu frontal. Adapaun gerakan-gerakan kecil seperti gerakan jari, erakan bibir, gerakan kelopak mata tidak dihitung sebagai gerakan yang mebatalkan.
  3. Hadas, baik hadats kecil maupun hadats besar.
  4. Terkena najis, contohnya kotoran cicak. Lain halnya apabila najis tersebut kering lalu menimpa pakaian dan dengan segera dikibaskan, maka salatnya tidak batal.
  5. Terbukanya aurat, kalau terbukanya hanya sebentar kemudian ditutup itu tidak membatalkan salat.
  6. Berubahnya niat, contohnya ketika imam salah, kemudian makmum mengucapkan tasbih (bagi laki-laki) tetapi hanya berniat mengingatkan imam bukan diniati dzikir, maka dia salatnya batal.
  7. Berpaling dari kiblat, Imam Syafi’i menggunakan acuan dada, ketika dada berpaling dari kiblat maka salatnya batal.
  8. Tertawa terbahak-bahak sampai badannya ikut bergerak-gerak.
  9. Makan, contohnya ketika sebelum salat seseorang makan terlebih dahulu. ketika salat, terdapat sisa makanan yang tertinggal di gigi , kemudian sisa itu ditelan, maka salatnya batal.
  10. Minum
  11. Murtad

Bilangan Shalat

Dalam salat fardhu ada 17 rakaat, 34 sujud, 94 takbir, 9 tasyahud, 10 salam, 153 tasbih, dan jumlah rukun salat fardhu ada 126. Orang yang tidak kuat untuk berdiri, maka diperbolehkan salat dengan duduk, yang paling afdhal adalah duduk seperti duduk iftirasy. Jika tidak kuat duduk, maka salat dengan tidur miring, lambung berada di sebelah bawah dan miring menghadap kiblat, jika tidak mampu maka menggunakan isyarat.

Tiga Perkara yang Tertinggal dalam Shalat

Pertama, fardhu atau rukun salat.Jika perkara wajib yang ditinggal atau rukun salat, maka harus ditambah dan disempurnakan sesuai dengan rukun yang ditingggalkan dan ditambah dengan sujud sahwi.

Kedua, sunah dalam salat. Jika yang ditinggalkan adalah sunnah, maka tidak perlu menambah tetapi tetap melakukan sujud sahwi.

Ketiga, perkara bukan wajib maupun sunah. Jika yang ditinggalkan bukan wajib dan sunnah, maka tidak perlu menambah dan tidak perlu sujud sahwi.