Pertanian Modern : Memanfaatkan Lahan Pekarangan

Pertanian Modern – Menurut Hartono (1985) Pekarangan merupakan sebidang tanah yang mempunyai batas-batas tertentu, yang diatasnya terdapat bangunan tempat tinggal dan mempunyai hubungan fungsional baik ekonomi, biofisik maupun sosial budaya dengan penghuninya.

Sementara menurut Soemarwoto dan Otto (1991), Pekarangan merupakan lahan yang merupakan area ruang terbuka dimana keberadaannya mengelilingi bangunan rumah dengan pemanfaatan sebagai tambahan pendapatan keluarga maupun berfungsi sebagai ketahanan pangan khususnya di kawasan pedesaan. Pekarangan biasanya ditandai dengan beberapa karakter, yaitu: letaknya di sekitar rumah atau tempat tinggal, mempunyai bentuk beraneka ragam, biasa digunakan sebagai tempat produksi pertanian bagi pemiliknya, memiliki batas-batas yang jelas. Pembatas pekarangan selain pagar juga biasa dengan tanaman pembatas (Diwanti 2018).

Jika dikelola dengan baik pekarangan rumah dapat memberikan manfaat bagi kehidupan keluarga seperti : tempat bermain, tempat rekreasi, sumber pangan dan juga sebagai sumber pendapatan. Pemanfaatan lahan pekarangan baik di daerah pedesaan maupun perkotaan bisa mendukung ketahanan pangan nasional dengan memberdayakan potensi pangan lokal yang dimiliki masing-masing daerah. Dalam pelaksanaannya, terdapat 3 nilai pemanfaatan lahan pekarangan yaitu nilai konservasi, ekonomi, dan pangan.

Fungsi pekarangan secara umum:

  • Sumber pangan keluarga, seperti sayur-sayuran, umbi-umbian, buah-buahan serta ternak dan ikan.
  • Sumber obat-obatan atau apotik hidup.
  • Sumber bumbu, rempah masakan.
  • Sumber pupuk organik.
  • Sumber keindahan/Estetika.

Manfaat pekarangan rumah untuk keluarga antara lain :

  1. Pemenuhan gizi keluarga : ada beberapa tanaman, ternak dan ikan yang dapat dipelihara di pekarangan dan menghasilkan makanan yang dibutuhkan keluarga.
  2. Seperti umbi-umbian sebagai sumber vitamin, sedangkan ternak dan ikan sebagai sumber protein dan lemak.
  3. Sebagai lumbung ternak : hasil dari usaha pekarangan dapat diambil sewaktu-waktu dan tidak ada musim pacekliknya.
  4. Apotik hidup : pekarangan dapat ditanami berbagai tanaman obat yang berkhasiat, jika anggota keluarga sewaktu-waktu sakit dapat ditanggulangi sementara dengan obat yang ada di pekarangan.
  5. Menambah penghasilan : pekarangan yang dikelola dengan baik, hasilnya dapat dijual sebagai sumber pendapatan keluarga karena banyak komoditas yang tidak membutuhkan lahan yang luas untuk membsudidayakannya.
  6. Menghasilkan bahan bangunan : jenis tanaman pohon seperti bambu, kelapa, nangka dan tanaman lainnya yang ditanam di pekarangan dapat dijadikan bahan bangunan dan kerajinan rumah tangga.
  7. Sebagai tempat rekreasi keluarga : pekarangan yang ditata dan dirawat secara teratur akan memberikan keindahan dan rasa tentram bagi orang yang melihatnya.

Daftar Pustaka

Diwanti DP. 2018. Pemanfaatan pertanian rumah tangga (pekarangan rumah) dengan teknik budidaya tanaman sayuran secara vertikultur. Jurnal Pengabdian Masyarakat. 1(3): 101-107

Hartono. 1998. Pengolahan Sampah Organik. Erlangga. Jakarta

Soemarwoto, Otto. 1991. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta : Penerbit Djabatan.

Oleh : MA

Rehat Setahun, Bertani dan Bersholawat Kembali Mewarnai Kampus Institut Pertanian Bogor

KMNU IPB – Bertani dan Bersholawat diagendakan kembali oleh mahasiwa Departemen Agronomi dan Hortikultura (AGH) sekaligus anggota KMNU Institut Pertanian Bogor pada hari kamis (7/11) di Koridor Pinus Fakultas Pertanian IPB. Pada sambutannya di awal acara, Alif Ibrahim (KMNU IPB 55) sebagai ketua pelaksana mengaharapkan acara Bertani dan Bersholawat dapat dirutinkan kembali.  Tema acara ini, “Kembali ke khittah pertanian Nusantara”, dan konsep acara yang unik menarik minat mahasiswa hingga yang berasal dari  departemen dan fakultas lain.

Acara dimulai dengan pembacaan maulid dan sholawat lalu dilanjutkan dengan materi. Materi dibawakan oleh dua mahasiswa senior AGH, Ahmad Fauzi Ridwan (Mas Gus Ridwan) dan Abdul Mujiib (Ki Ngabdoel Lemper). Kedua pembicara menyampaikan bahwa pertanian haruslah selaras dengan ritme alam seperti yang dilakukan oleh leluhur dulu ketika revolusi hijau belum merebak di Nusantara. Tanah harus dijaga kualitasnya dengan sebaik mungkin, contohnya dengan memberi jeda tanam agar tanah dapat pulih setelah ditanami.

Rangkaian terakhir dari acara tersebut adalah tanya-jawab. Pertanyaan yang diajukan hadirin seputar pertanian organik serta hama dan penyakit. Ki Ngabdoel menekankan, “Mahasiswa IPB harus mengetahui agriculture principles.” Yaitu, pertanian yang selaras dengan alam. Mas Gus Ridwan menambahkan apabila lingkungan tumbuh tanaman sehat, maka tanaman akan sehat dan terhindar dari serangan hama maupun penyakit. Suasana yang dibentuk sepanjang acara yaitu santai dan akrab sambil menikmati hidangan kopi, kedelai rebus, dan bubur kacang hijau. [HR]