Pertanian Berkelanjutan : Petani Tak Pernah Membenci

KMNU IPBPertanian Berkelanjutan

“Mau diberi bantuan atau tidak, petani akan tetap menanam.”

Kalimat itu muncul di cerita WA dari Gus Ridwan. Kiranya menjadi petani tidak pernah mudah sejak dahulu.

Petani memang selalu dianggap rendah dari sudut manapun. Sejak dari anak-anaknya sendiri sampai pemimpinnya petani selalu dicap tidak bisa apa-apa.

Nasib tak pernah diidolakan dari sudut manapun akan tetap melekat. Jangankan diidolakan, diakui jasanya saja tidak. Mungin sampai suatu saat tidak ada petani lagi .

Respon pemerentah malahmenerbitkan UU Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan yang beberapa poin berpotensi merugikan petani sebagai pelestari keanekaragaman benih lokal dan tradisi pemuliaan tanaman secara tradisional. Maka dari itu, terus menanam menjadi sebuah bentuk perlawanan.

Petani melawan dengan cara memberi makan yang dilawan. Seperti kisah suku Inca yang mengocorkan emas cair di mulut penjelajah Eropa yang rakus.

Ini adalah bentuk perlawanan tingkat tinggi. Sekarang jelas siapa yang sebenarnya kalah.

Bukankah tanpa petani kita semua modyar?

Baca lebih lanjut

“Download PDF Isi RUU SBPB 2019 yang Berpotensi Rugikan Petani”

Rehat Setahun, Bertani dan Bersholawat Kembali Mewarnai Kampus Institut Pertanian Bogor

KMNU IPB – Bertani dan Bersholawat diagendakan kembali oleh mahasiwa Departemen Agronomi dan Hortikultura (AGH) sekaligus anggota KMNU Institut Pertanian Bogor pada hari kamis (7/11) di Koridor Pinus Fakultas Pertanian IPB. Pada sambutannya di awal acara, Alif Ibrahim (KMNU IPB 55) sebagai ketua pelaksana mengaharapkan acara Bertani dan Bersholawat dapat dirutinkan kembali.  Tema acara ini, “Kembali ke khittah pertanian Nusantara”, dan konsep acara yang unik menarik minat mahasiswa hingga yang berasal dari  departemen dan fakultas lain.

Acara dimulai dengan pembacaan maulid dan sholawat lalu dilanjutkan dengan materi. Materi dibawakan oleh dua mahasiswa senior AGH, Ahmad Fauzi Ridwan (Mas Gus Ridwan) dan Abdul Mujiib (Ki Ngabdoel Lemper). Kedua pembicara menyampaikan bahwa pertanian haruslah selaras dengan ritme alam seperti yang dilakukan oleh leluhur dulu ketika revolusi hijau belum merebak di Nusantara. Tanah harus dijaga kualitasnya dengan sebaik mungkin, contohnya dengan memberi jeda tanam agar tanah dapat pulih setelah ditanami.

Rangkaian terakhir dari acara tersebut adalah tanya-jawab. Pertanyaan yang diajukan hadirin seputar pertanian organik serta hama dan penyakit. Ki Ngabdoel menekankan, “Mahasiswa IPB harus mengetahui agriculture principles.” Yaitu, pertanian yang selaras dengan alam. Mas Gus Ridwan menambahkan apabila lingkungan tumbuh tanaman sehat, maka tanaman akan sehat dan terhindar dari serangan hama maupun penyakit. Suasana yang dibentuk sepanjang acara yaitu santai dan akrab sambil menikmati hidangan kopi, kedelai rebus, dan bubur kacang hijau. [HR]