Categories
Artikel Opini pendidikan

Kita untuk Pendidikan di Indonesia

Mendengar kata pendidikan di Indonesia tak ubahnya membayangkan kesemrawutan pendidikan di era reformasi. Mari kita tengok pendidikan di Era orde baru, walaupun belum terlalu tersebar secara, tetapi kualitas pelajar yang dihasilkan secara integritas lebih unggul daripada pelajar di era milenial ini. Tidak bermaksud untuk menjunjung tinggi pendidikan di zaman orba, tetapi itulah yang terjadi di lapangan. Bapak pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, ingin membentuk pendidikan di Indonesia yang menyenangkan bagi para pelajar, maka dibuatlah oleh beliau tempat mengampu ilmu yang bernama “Taman Siswa”, tetapi hal itu nampaknya kurang disetujui oleh bangsa kita. Hal ini terlihat pada era ini, masyarakat terlalu memperbandingkan cara belajar negara Indonesia dengan negar Finlandia yang disebut-sebut sebagai negara dengan pendidikan terbaik di Dunia.

Seharusnya bangsa kita yang katanya “gemah ripah loh jinawi” ini dapat berkembang dengan pesat. Indonesia tidak dipungkiri lagi memiliki kekayaan alam yang luar biasa jumlahnya. Menurut para pujangga, Indonesia adalah negeri “cipratan” Surga yang luruh ke bumi. Tetapi sangat disayangkan, pendidikan di Indonesia berada di posisi 62 dari 72 negara yang disurvei oleh PISA (Programme for International Student Assessment) pada tahun 2015.

Secara garis besar, pembangunan gedung pendidikan di Indonesia bertambah, partisipasi siswa yang mengikuti pembelajaran di sekolah juga bertambah, angka melek huruf di Indonesia juga terus meningkat. Namun, pembangunan gedung yang meningkat tersebut kurang disertai pembangunan tenaga pendidik di Indonesia. Selain itu, kualitas moral pelajar Indonesia terus menerus mencitrakan keburukan, seperti pembunuhan seorang guru di Sampang dan kriminalisasi guru di Makassar.

Semestinya pemerintah di Indonesia dan masyarakat menciptakan kondisi pendidikan yang baik dan bagus bagi para pelajar. Pemerintah bisa membuat peraturan yang berguna untuk memberikan imun bagi para pendidik, peningkatan kualitas guru dapat dilakukan dengan memberikan kegiatan lokakarya dan mengirim para tenaga pendidik terpilih untuk berkuliah lagi, memberikan insentif yang lebih besar bagi sekolah, guru, maupun pelajar yang dapat menemukan inovasi-inovasi baru, pengembangan inovasi ke khalayak ramai agar inovasi yang telah ditemukan tidak hanya menjadi pajangan di Kemendikbud/sekolah-sekolah, tetapi juga dapat dinikmati sebagai oleh masyarakat, pemerataan pendidikan dengan mengirim guru-guru ke daerah-daerah tertinggal dengan disertai pembangunan infrastruktur yang cepat dan baik. Masyarakat juga memiliki peran yang besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia, masyarakat harus sadar terlebih dahulu bahwa pendidikan sangatlah penting dan tidak dapat dipandang sebelah mata. Salah satu cara untuk menyadarkan masyarakat terhadap pentingnya pendidikan yaitu pengiriman relawan-relawan ke daerah pelosok seperti yang dilakukan oleh Indonesia Mengajar.

Sebagai kesimpulan, pendidikan adalah penerang ketika kita berada di kegelapan. Tanpa adanya kesadaran pendidikan di dalam jiwa masing-masing, maka sudah pasti individu yang menolak pendidikan akan tenggelam dikenyam zaman atau mungkin menjadi salah satu contoh kegagalan pembentukan generasi penerus sejarah. Selain pendidikan secara akademik, pendidikan moral setiap individu juga harus ditanamkan sedari dini. Saat itulah peran orang tua terkhusus ibu sebagai sekolah pertama bagi anaknya menjadi landasan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Septian Fajar Bima

Sumber bacaan :

https://news.idntimes.com/indonesia/rosa-folia/meski-akses-mudah-kualitas-pendidikan-di-indonesia-masih-rendah-1/full

https://www.jpnn.com/news/kualitas-pendidikan-indonesia-masuk-ranking-bawah

Categories
Kajian Islam Opini

Satanologi : Ilmu Persetanan

SATANOLOGI merupakan ilmu atau kajian yang menjelaskan seluk-beluk setan: siapa setan, bagaimana siasat dan tipu dayanya, apa sarana dan prasarananya untuk menggoda manusia, sejauh mana bahaya, peran, pengaruh dan kehadirannya dalam sepanjang sejarah hidup manusia, serta bagaimana melawan dan mengatasinya. Tentu saja, ilmu ini tidak menjadi satu jurusan di perguruan tinggi atau bidang ahli sungguhan tetapi agaknya sebagai manusia yang mengaku umat Kanjeng Nabi paling tidak mengetahui (sebagai sesama ciptaan Allah pula) apa itu setan dan perannya di dunia.

Diharapkan dengan kajian ini kita dapat membedakan apakah kita berada di barisan para Nabi dan para pewarisnya atau di barisan, agen, golongan, murid dan penggemar setan serta para korbannya yang mengikuti, taktik, bisikan dan program-program jangka panjangnya. Intinya kajian ini termasuk ikhtiar kita untuk menjemput rida Allah.

Termaktub di surat Al-A’raf ayat 16, setan menyalahkan Allah (tidak merasa bersalah) dan bersumpah bakal duduk nongkrongin Nabi Adam seketurunannya di jalan Allah yg lurus. Maksudnya, justru di saat manusia beribadah dan taat itulah setan getol menggoda manusia agar putus dari ibadah dan ketaatannya. Target minimalnya, kita dibiarkan ibadah tapi ga sempurna atau ga khusyuk.

Jikalau setan bersumpah di hadapan Allah untuk menggoda kita agar kita tidak ibadah atau ibadah kita tidak benar bahkan tidak segan-segan menyeret manusia ke neraka, nah sekarang bagaimana dengan kita? Sudahkan kita benar-benar bersumpah agar kita serius beribadah dan bersumpah agar berusaha khusyuk dalam beribadah?

Setan bener-bener serius dan tidak main-main menggoda kita, manusia. Bayangkan jika sebumnya seorang Nabi berada dalam surga, atas izin Allah, turun ke dunia karena godaan setan. Lalu bagaimana dengan nasib kita yang sejak mbrojol sudah di dunia plus kita dan bapak kita bukanlah seorang Nabi? Loh setan itu sudah tahu dan sudah bersumpah akan menjerumuskan kita jauh sebelum kita lahir (QS Al-Isro 62).

Itu artinya setan sudah membaca dan mempelajari tentang manusia dan metodologi menggoda manusia, sedangkan kita? Sejak kapan mulai serius mempelajari dan meneliti bagaimana trik dan langkah setan, serta bagaimana cara melewannya yang notabene merupakan “musuh bersama”?

Belum lagi setan sudah berpengalaman dan profesional dalam hal menjerumuskan manusia. Pretasi pertama setan yaitu menurunkan manusia dari surga lalu prestasi kedua membuat cerita pembunuhan pertama justu di zaman belum ada keluarga dan pergaulan selain keluarga Nabi Adam dan hal-hal yang menginspirasi tindakan pembunuhan. Nah, bagaimana dengan kapasitas keilmuan dan pengalaman kita? Yang jelas, seiring dengan perkembangan zaman, jebakan dan perangkap setan semakin banyak, canggih pula.

Semoga kita semua semakin sadar akan hal ini. Momen hitungan minggu menuju bulan Ramadan bisa kita manfaatkan untuk merenungi hal ini agar semakin madhep mantep di bulan suci itu. Karena pada dasarnya setan itu seakan-akan hampir mustahil untuk dideteksi, hendaknya kita berusaha dalam memperbaiki diri dan melalukan amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.

Bertanyalah di dalam diri Anda, siapakah guru agama atau mursyid kita yang dengan sami’na wa atha’na dan mengikuti bimbingan dan arahan beliau kita mampu mencari rida Allah? Atau justru pikiran dan kesombongan setan sudah tertanam di benak kita bahwa kita bisa belajar sendiri dan menemukan sendiri jalan dalam menuju rida Allah?
Kalau memang manusia sejak dahulu bisa demikian, hanya dengan modal akal dan kecerdasannya, menemukan petunjuk sendiri, tentu Allah tidak akan Mengutus 313 rasul, 124 ribu nabi, menurunkan 104 mushaf berikut kitabnya, serta menghadirkan pewaris-pewaris Kanjeng Nabi yang meneruskan perjuangan Beliau. Jangan sampai karena kesombongan, merasa bisa, dan bermodal akal, kita malah menjadi agen yang menggantikan peran setan. [HR]

Tulisan ini merupakan olahan kembali dari karya Ustadz Ahmad Said, Pengasuh Majlis Ta’lim Darul Futuh.

Categories
KMNU IPB Opini Sastra, Puisi, dan Humor Uncategorized

Belajar Dari KMNU : Biasa Luar Biasa

Ketika baru bergabung dalam Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Institut Pertanian Bogor (KMNU IPB) rasa heran yang paling membuat saya berlatih sabar adalah sikap hampir semua anggotanya yang “biasa saja”. Biasa saja terhadap banyak hal yang terjadi di luar sana, biasa saja dalam berbahasa, biasa saja dalam bersikap, biasa saja dalam penampilan, pokoknya biasa saja. Ya seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, biasa saja.