Habib Novel Alaydrus : Hidup Atau Mati Aku Tetap Bahagia

Habib Novel Alaydrus – Suatu hari seorang ibu yang terapung di lautan karena kapalnya karam tampak tetap bahagia. Seorang pemuda yang kebetulan berada didekatnya merasa sangat penasaran dan bertanya kepadanya,

“Bu,bagaimana ibu masih bisa berbahagia dalam kondisi yang tidak menentu ini. Jika pertolongan tidak segera datang, maka kita akan mati.”

Ibu itupun menjawab,

“Saya mempunyai dua orang anak laki laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua masih hidup di tanah seberang. Seandainya berhasil selamat, saya sangat bahagia karena saya akan berjumpa dengan anak kedua saya. Dan jika ternyata tidak terselamatkan, maka saya juga bahagia karena akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”

Hikmah dibalik kisah

Berpikir positif dalam keadaan yang sulit membuat seseorang tetap bahagia. Jika kita menyikapi setiap kondisi dengan cara berpikir yang baik, maka apapun kondisinya, kita akan bersyukur. Oleh karena itu, mari kita belajar untuk menyikapi setiap kondisi kita dengan positif.

(Habib Novel)

Editor : MA

Belajar Kesederhanaan dari Kisah Gus dur (Biografi Tokoh)

KMNU IPB – Siapa yang tidak kenal dengan yang namanya Gus Dur? Sosok yang mempunyai banyak kisah berharga yang bisa kita jadikan motivasi untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Berikut ada penggalan kisah dari Gus Dur yang ditulis oleh Ahmad Tohari, salah satu budayawan berdasarkan pengalamannya bersama Gus Dur.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernah tidur di lantai tanah beralaskan tikar dari daun kurma. Maka, ketika beliau bangun ada bekas guratan daun kurma pada pipi beliau. Hal serupa ternyata juga diamalkan mantan Presiden ke-4 RI KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang beberapa tahun lalu kembali ke haribaan Sang Khaliq.


Pada tahun 1995, Gus Dur tidur dua hari dua malam di rumah Ahmad Tohari yang sederhana di kampung. Malam pertama, Gus Dur mau tidur di dipan kayu yang Ahmad Tohari sediakan. Tetapi, malam kedua beliau memilih untuk tidur di karpet murahan yang menutup lantai ruang tengah. Gus Dur tampak santai dan tidur amat lelap. Kepalanya hanya tersangga bantal sandaran kursi. Continue reading “Belajar Kesederhanaan dari Kisah Gus dur (Biografi Tokoh)”

Sejarah Shalawat Asyghil Lengkap dengan Liriknya

KMNU IPB – Shalawat Asyghil merupakan bentuk shalawat yang populer dibaca oleh masyarakat Indonesia, terutama masyarakat NU dan kalangan pesantren. Hampir dalam setiap istighasah, shalawat ini termasuk bacaan utama yang harus dikumandangkan secara berjemaah.

Disebutkan bahwa pertama kali yang membaca shalawat Asyghil ini adalah Imam Ja’far Assadiq (w. 138 H). Beliau biasa membaca shalawat ini saat malakukan doa qunut shalat Subuh. Namun kemudian shalawat ini masyhur dengan sebutan Sholawat Habib Ahmad bin Umar Alhinduan Ba ‘Alawy (w.1122 H). Hal ini karena shalawat ini termasuk bacaan shalawat yang dihimpun dalam kitabnya Alkawakib Almudhi’ah fi Zikris Shalah ‘ala Khairil Bariyyah.

Selain untuk memohonkan shalawat dan salam atas Nabi SAW, keluarga dan sahabatnya, shalawat ini bertujuan meminta kepada Allah agar kita diselamatkan dari kejahatan orang-orang yang zalim. Berikut lafadz shalawat Asyghil;

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَشْغِلِ الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِيْنَ وَعَلَي الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Allahumma sholli ‘ala sayyidina muhammad wa asyghilidz dzolimin bidz dzolimin wa akhrijna min bainihim salimin wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.

“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada pemimpin kami Nabi Muhammad, dan sibukkanlah orang-orang zalim dengan orang zalim lainnya. Selamatkanlah kami dari kejahatan mereka. Dan limpahkanlah shalawat kepada seluruh keluarga dan para sahabat beliau.”

[Source: Islami.co]

Yal Lal Wathon dan Sholawat Mahallul Qiyam menggema di IPB

KMNU IPB – Yal lal wathon dan sholawat mahalul qiyam menggema di hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober ditetapkan bedasarkan peristiwa “Resolusi Jihad” 74 tahun yang lalu. Peristiwa itu diinisasi oleh KH Hasyim Asyari dan KH Wahab Chasbullah yang menyatakan jihad melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban kaum santri dan umat Islam pada saat itu. Peristiwa ini turut menyulut semangat perlawanan pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.

Dalam rangka memeringati Hari Santri Nasional 2019 sekaligus hari Sumpah Pemuda, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Institut Pertanian Bogor (KMNU IPB) mengadakan diskusi kebangsaan pada minggu (3/11) di FEM Convention Hall, IPB. Tema yang diangkat yaitu “Peran Mahasiswa IPB dalam Memperkokoh Cinta Tanah Air (Hubbul Wathon minal Iman)”.

Diskusi ini menghadirkan mantan Menteri Riset dan Teknologi masa Presiden Abdurrahman Wahid, Prof. Dr. Muhammad A. S. Hikam, APU; guru bersar Fakultas Peternakan IPB, Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA; dan ahli psikologi anak-remaja dan radikalisme, Ny. Arijani Lasmawati, M. Psi, sebagai pembicara. Acara ini dimoderatori oleh Auhadillah Azizy, seorang aktivis kebangsaan dan alumnus IPB.

Diskusi diselenggarakan untuk mempertegas peran mahasiswa dalam menjaga keutuhan NKRI dari sudut pandang  pengamalan ilmu dan pengabdian masyarakat, psikologi remaja, serta aspek sejarah dan konteks narasi radikalisme. Isu cinta tanah air dianggap sebagai hal yang penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia yang notabene negara kesatuan besar dengan berbagai suku, ras, budaya, dan bahasa.

Cinta tanah air yang didefinisikan oleh Prof. Muladno adalah sesadar-sadarnya menghayati empat pilar Indonesia yaitu Proklamasi, Pancasila, UUD 1945 dan NKRI. Namun, dalam praktiknya, pemerintah dan perguruan tinggi malah tidak nasionalis dan berpihak pada rakyat. Contohnya hanya sekitar 2.5%  penelitian dari PT yang bermanfaat untuk rakyat dan program dari pemerintah di bidang perternakan yang cenderung tidak berkelanjutan.

Dalam mengkritisi hal ini, Prof. Muladno menekankan bahwa seharusnya mahasiswa dapat berpihak pada rakyat dalam bentuk penelitian atau pengabdian yang dapat memberdayakan masyarakat sebagai wujud nasionalisme. Wujud media untuk menerapkan hal ini yang sudah Prof. Muladno jalankan adalah Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) sebagai wujud sinergi PT, mahasiswa, dan peternak kecil.

Ny. Arjani lebih menekankan pada aspek psikologi remaja dalam pusaran narasi disintegrasi bangsa dalam bentuk radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. Beliau menuturkan bahwa sebagian besar pelaku terorisme dan radikalisme adalah remaja. Fase remaja merupakan masa seseorang sedang dalam fase mengekspresikan diri dan mencari jati diri sehingga mudah dihasut dan terpapar paham radikalisme.

Dalam hal ini, peran penting orang tua sebagai role model, pemberi pemahaman tentang nilai-nilai, monitoring sekaligus menjadi benteng terhadap paham-paham yang keliru. Maka dari itu, membangun kesadaran terhadap kondisi lingkungan sosial dan penguatan keluarga penting dilakukan untuk menjegah remaja menjadi korban paham-paham radikalisme yang mengancam keutuhan NKRI.

Prof. Hikam lebih menekankan pada aspek beragamnya narasi yang ada di publik tentang isu-isu radikalisme, ekstremesme, dan terorisme dan kompleksnya masalah tersebut. Narasi yang berbahaya dibangun oleh kelompok-kelompok radikalis, ekstermis, dan teroris transnasional dan biasanya mengenai keadaan umat Islam yang tidak berdaya dan anjuran keterlibatan dalam kegiatan dan penyebaran ideologi mereka.

Kelompok-kelompok ini memanipulasi ajaran Ukhuwah Islamiyah yaitu dengan menggunakan solidaritas umat sebagai dasar melakukan aksi teror terhadap pihak yang mereka tentang atau bahkan sesama muslim. Tugas mahasiswa dan santri, menurut beliau, adalah membangun awareness terhadap hal ini , menolak dan mencegah timbul dan meluasnya paham-paham yang berusaha merusak ideologi Pancasila ini.

KMNU IPB diharapkan menjadi pelopor dalam memberikan pencerahan pikiran terhadap para stakeholder di IPB mengenai trilogi  Ukhuwah Islamiah yang selama ini diusung Nahdlatul Ulama yaitu solidaritas sesama muslim, solidaritas sebangsa dan setanah air, serta solidaritas kemanusiaan bahkan sesama makhluk ciptaan Tuhan. Pandangan ukhuwah ini dapat diterapkan menjadi aksi konkret dalam konteks kehidupan mahasiswa sehari-hari di lingkungan kampus dan masyarakat. (HR)

Ini Sikap Final NU Atas Sistem Khilafah

Peserta Musyawarah Nasional Alim Ulama NU 2014 memandang Islam sebagai agama mewajibkan umatnya untuk membentuk sebuah pemerintahan dan mengangkat pemimpin yang menegakkan hukum agar tidak terjadi chaos (nashbul imamah). Namun, Islam tidak menunjuk satu bentuk negara dan sistem pemerintahan tertentu.

Berkaca pada khazanah sumber hukum dan sejarah Islam, agama Islam memberikan wewenang penuh kepada umatnya untuk mengatur dan merancang sistem pemerintahan sesuai kondisi zaman, tempat, dan kesiapan pranatanya.

“Bagi Islam, negara dan pemerintahan dianggap sah bukan karena bentuknya, tetapi substansinya. Dengan kata lain, Islam mengukur keabsahan bentuk sebuah negara sejauhmana negara secara konstitusional dan pemerintah sebagai penyelenggara negara melindungi dan menjamin warganya mengamalkan ajaran agamanya,” kata Rais Syuriyah PBNU KH Ishomuddin, pemimpin sidang komisi Diniyah yang membacakan hasil musyawarah sedikitnya 40 kiai NU yang datang dari setiap provinsi di Indonesia, Sabtu (1/11) malam.

Forum ini juga membahas hadits Rasulullah SAW yang menyebutkan khilafah. Mereka menyangsikan kualitas hadits tersebut. “Mengingat hadits ini diriwayatkan oleh Habib bin Salim, seorang rawi yang kredibiltasnya diragukan di kalangan ahli hadits,” kata Katib Aam PBNU Malik Madani.

Forum para kiai ini juga menegaskan, Islam melihat substansi negara dengan teritorialnya sebagai tempat yang kondusif bagi kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan bagi warganya. Mereka menggunakan ungkapan, Al-‘ibratu bil Jauhar la bil Mazhhar (Yang menjadi pegangan pokok adalah substansi, bukan simbol atau penampakan lahiriyah).

Khilafah itu memang fakta sejarah, pernah dipraktikkan di masa Al-Khulafa’ur Rasidyun yang sesuai dengan eranya di mana kehidupan manusia belum berada di bawah naungan negara bangsa (nation state).

“Pasalnya, perangkat pemerintahan dan kesiapan masyarakat saat era khilafah masih sederhana. Pada saat itu belum ada birokrasi yang tersusun rapi seperti sekarang, sehingga dibutuhkan orang dengan kemampuan lebih dalam pelbagai hal untuk menjadi khalifah. Sementara sekarang, kondisi masyarakat dan kesiapan pranata pemerintahan yang terus berkembang, menuntut bentuk pemerintahan yang berbeda lagi,” kata Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Mas’udi dalam forum.

Peserta musyawarah menegaskan, upaya memperjuangkan khilafah sebagai bentuk masyarakat ideal menjadi sebuah utopia. Dengan demikian, memperjuangkan tegaknya nilai-nilai substantif ajaran Islam seperti keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran dalam sebuah bentuk apapun negara, jauh lebih penting daripada memperjuangkan tegaknya simbol-simbol negara Islam yang bersifat partikular.

Untuk itu. Dalam konteks bentuk pemerintahan Indonesia, peserta musyawarah mendorong pemerintah dan mewajibkan umat Islam untuk menangkal setiap jalan dan upaya munculnya gerakan yang mengancam NKRI. (Alhafiz K)

Sumber nu.or.id