Categories
Opini Renungan

Penyandang Disabilitas dalam Dunia Perawi Hadis

Disabilitas yang disandang oleh seseorang tidak menghalangi orang tersebut untuk berkarya dan berprestasi. Sejatinya, ketidaksempurnaan merupakan sesuatu yang melekat pada setiap insan bahkan segala ciptaan. Ajaran Islam menekankan bahwa ketidaksempurnaan pada diri seseorang termasuk penyandang disabilitas seharusnya menjadi sarana untuk berdamai dengan kondisi dan tidak berputus asa terhadap rahmat Allah. Allah berfirman dalam Alquran surah al-Mulk: 1-2;

“Mahasuci Dzat yang dalam genggamnya kerajaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa di antara kalian yang paling baik amal perbuatannya. Dia Mahamulia lagi Maha Mengampuni.”   

Sosok dengan disabilitas dikenal dan turut mewarnai perkembangan agama Islam contohnya dalam dunia periwayatan (rawi) hadis Nabi saw. Sebenarnya tidak ada pelarangan seorang difabel atau penyandang disabilitas menjadi perawi hadis profesional. Aspek yang terpenting adalah sejauh mana orang tersebut memenuhi kriteria menjadi perawi yang kredibel. Paling tidak ada lima kriteria utama:

  1. Ketaatan menjalankan agama (adl),
  2. Memiliki hafalan yang baik (dabth),
  3. Dapat dibuktikan pertemuan dengan gurunya (ittishal sanad),
  4. Tidak bertentangan dengan hadis lain (syaddz), dan
  5. Tidak ada cacat yang tersembunyi (illat).

Meskipun seseorang memiliki keterbatasan fisik namun dapat memenuhi kriteria tersebut dan adapat diuji secara adil menggunakan standar-standar ilmu hadis orang tersebut dapat dikategorikan sebagai perawi yang andal dan periwayatannya dianggap sahih. Ibnu Hibban, seorang ulama hadis terkemuka dan kritikus professional perawi hadis, menyebutkan tidak kurang dari 14 orang perawi berkualitas penyandang disabilitas kebutaan di dalam kitabnya al-Tsiqat.

Salah satu perawi  tersebut yaitu Abu Mu’awiyah yang bernama lengkap Muhammad bin Khazim al-Kufi. Abu Mu’awiyah dicatat pernah belajar kepada ulama-ulama besar seperti Hisyam bin Urwah, keponakan dari Aisyah, istri Nabi saw. Abu Mu’awiyah merupakan guru dari Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in, keduanya merupakan kritikus rawi terkemuka yang sampai sekarang pernyataan mereka selalu dikutip. Salah satu sosok ulama penyandang disabilitas kebutaan lain adalah Hafsh bin Umar Abu Umar al-Dharir. Ibnu Hibban mencatat bahwa Hafsh bin Umar selain seorang perawi hadis yang andal juga ahli dan mengusai ilmu waris (fara’id), astronomi (hisab), sastra (puisi), sejarah Arab kuno, dan ilmu fikih.

Hal ini menunjukkan bahwa pada masa kedua tokoh besar itu terdapat kesempatan bagi siapapun untuk belajar dan berkembang serta adanya apresiasi terhadap karya orang lain tanpa melihat kekurangan fisik yang ada pada seseorang. Dengan lingkungan yang mendukung dapat menimbulkan motivasi yang kuat dari dalam diri penyandang disabilitas untuk berkarya sesuai dengan minat mereka. Dengan begitu, sosok dengan karya dan prestasi besar dapat muncul dari penyandang disabilitas. (HR)

Sumber: Huda MK. 2015. Para Ahli Hadis Difabel. Pekalongan (ID): Menara Publisher.

Categories
Opini

Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Perdamaian dan Demokrasi

KMNU IPB – “Kehadiran Islam Indonesia yang direpresentasikan oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama mampu menjadi oase dan kiblat baru bagi masa depan Islam di dunia.”

Buya Syafii Maarif.

Identitas buku

Judul                 :Dua Menyemai Damai: Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Peradamaian dan Demokrasi.

Penulis               :Muhammad Nadjib Azca, Hairus Salim, Moh Zaki Arrobi, Budi Syafii, Ali Usman.

Tahun Terbit      : 2019

Kota terbit         : Yogyakarta, Indonesia.

Jumlah halaman: 252

Penerbit             :Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian, Universitas Gadjah Mada

Siapa yang tidak kenal dua organisasi Islam besar Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama? Kedua organisasi ini digadang-gadang sebagai representasi Islam bercorak keindonesiaan yang damai, demokratis, dan berkeadaban. Lalu, bagaimana sebenarnya peran dua organisasi ini dalam pembangunan perdamaian dan demokrasi di kancah nasional, regional, dan bahkan internasional?

Peran-peran tersebut disajikan buku “Dua Menyemai Damai, Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Perdamaian dan Demokrasi” Buku ini disusun dan diterbitkan oleh Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gadjah Mada sebagai sebuah narasi damai di tengah kemelut atmosfer tahun politik 2018-2019 di Indonesia.

Muhammadiyah dan NU menjadi salah satu aktor utama dalam demokratisasi negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia pasca jatuhnya otoritarianisme Orde Baru. Bentuk kontribusi Muhammadiyah dan NU pada era transisi demokrasi ini terlihat dari peran pimpinan kedua ormas ini yaitu Prof Dr Amien Rais dan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Keduanya bahkan sempat menduduki dua jabatan tertinggi di Indonesia, Amien Rais sebagai Ketua MPR-RI dan Gus Dur sebagai Presiden RI.

Wujud kontribusi lainnya adalah ranting-ranting Muhammadiyah dan NU yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia mempunyai kekuatan struktural dan kultural yang telah membangun narasi damai dan konsolidasi demokrasi. Upaya Muhammadiyah dan NU berkembanh ke kontribusi pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi, filantropi, kebencanaan, dan, yang sudah jelas, dakwah.

Selama ini, kedua organisasi menjadi semacam representasi Islam damai dan “antidot” dari narasi besar Islam sebagai agama yang intoleran dan aktor konflik di kancah global. Di kancah internasional Muhammadiyah aktif dalam kegiatan filantropi dan bantuan kemanusiaan yang direalisasikan dalam pembangunan rumah sakit dan sekolah di Myanmar dan Palestina serta beasiswa untuk komunitas Mindanao di Filipina dan Pattani di Thailand Selatan. Sedangkan NU berkomitmen dalam ikhtiar mencari resolusi konflik dan bina damai misalnya di Afghanistan dan Palestina. Buku ini menjelaskan dengan runtut, lengkap, ringkas dan gamblang mengenai sejarah dan arah pergerakan Muhammadiyah dan NU di ranah demokrasi dan perdamaian. Ingin mengetahui dan membaca lebih lanjut? Buku ini tersedia gratis secara daring, unduh disini

Categories
Berita KMNU IPB Nahdlatul Ulama Uncategorized

KMNU IPB Melantik Anggota Baru dalam Acara Isti’laul Qudrah

Sebagai puncak dari pengkaderan anggota baru KMNU IPB kembali menyelenggarakan Isti’laul Qudrah (IQ) pada 22-23 Oktober 2016. IQ KMNU IPB 2016 kali ini bertempat di Pondok Pesantren Mina90, Desa Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Bogor.

Isti’laul Qudrah (IQ) ini sendiri merupakan sebuah agenda rutin tahunan KMNU IPB yang tahun ini diikuti sebanyak 47 anggota baru dan tidak kurang dari 10 orang anggota lama yang belum mengikuti IQ pada tahun sebelumnya. IQ ini sangat penting untuk menyambut serta mengenalkan anggota baru tentang KMNU IPB . IQ ini terdiri dari beberapa rangkaian acara, mulai dari Open Recruitment, First gathering, Achievment Motivation, dan Aswaja Youth Camp yang sebelumnya sudah sukses digelar oleh KMNU IPB. Setelah dikenalkan dengan internal KMNU beserta seluk beluk KMNU, Nahdlatul Ulama dan Ahlussunnah Waljama’ah, dalam IQ kali ini peserta kembali dibekali tentang ilmu kekeluargaan, ke-KMNU-an, Ke-NU-an serta penyaringan minat dan bakat.

Puncak dari acara IQ sendiri adalah upacara pelantikan anggota baru dengan pembacaan ikrar anggota KMNU IPB oleh ketua KMNU IPB Hamzah Alfarisi. Haru biru mewarnai prosesi pelantikan tersebut manakala pada pukul 03.59 WIB diakhiri dengan memberi penghormatan dan mencium bendera merah putih, bendera Nahdlatul Ulama, dan bendera KMNU IPB yang diiringi dengan menyanyikan lagu Syukur oleh peserta IQ.

Acara IQ tidak selesai sampai di situ, pagi harinya para peserta diajak outbound bersama NU-training dimana seluruh peserta sangat antusias dengan game dan jargon yang diberikan.

“Siapa kita ?!! NU ! – NKRI !!! Harga Mati!!! – Pancasila!!! Jaya!!!     KMNU!! GO! KMNU!! GO! KMNU!! GO GO GO !! – NU!! YESSS!!!” Teriak peserta, panitia, pengurus, dan alumni di akhir outbound.

Pada acara penutupan, peserta juga mempersembahkan penampilan angkatan berupa penampilan hadroh dari Nahdliyyin dan musikalisasi puisi dari Nahdliyyat.

“Adek-adek selamat yah sudah menjadi anggota. Dua hari satu malam telah kita lewati bersama. Seneng, sedih, laper, ngantuk, canda, dan tawa. Terimakasih atas pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran yang udah dicurahin buat KMNU IPB. Tak lupa KMNU IPB tunggu nih kontribusi lebih dari adek-adek semua.” Ujar Ketua Pelaksana IQ 2016, Janu Saefulloh di akhir sambutannya.

Setelah berakhirnya kegiatan IQ ini diharapkan tetap menjaga keistiqomahannya dalam mengikuti setiap kegiatan di KMNU IPB, saling menjaga kekompakan dan kekeluargaan antar KMNU IPB, jangan sampai di tengah perjalanan dalam meneruskan perjuangan pendiri NU dan KMNU IPB berkurang anggotanya. (K/F)