Kesejahteraan Hewan dalam Islam

Isu animal welfare (kesejahteraan hewan/kesrawan) mulai diperbincangkan sejak awal abad ke-15 sebagai bentuk kedekatan manusia dengan hewan, kemudian terus bergulir. Di beberapa negara seperti Amerika Utara dan Irlandia, undang-undang yang mengatur perlindungan hewan telah disahkan.

Pada tahun 1967, seorang petani asal inggris dan seorang aktivis animal welfare, Peter robert, memprotes dan melawan tindakan kekerasan pada hewan dengan membentuk Compassion in World Farming. Tindakan Peter itu dilatarbelakangi oleh peternakan intensif broiler yang tidak memperhatikan kesejahteraan hewan.

Five of Freedom (FoF) (5 Kebebasan)

Puncaknya pada tahun 2004, Office International des Epizooties (OIE) atau Organisasi Kesehatan Hewan Dunia mengeluarkan standar-standar animal welfare yang mengatur kondisi hewan di bawah pengaturan manusia. FoF yaitu:
1. Freedom from hunger and thirst (bebas dari rasa lapar dan haus)
2. Freedom from thermal and physical discomfort (bebas dari panas dan rasa tidak nyaman)
3. Freedom from injury, disease and pain (bebas dari luka, penyakit dan rasa sakit)
4. Freedom to express most normal pattern of behavior (bebas mengekspresikan perilaku normal dan alamiahnya)
5. Freedom from fear and distress (bebas dari rasa takut dan penderitaan)

Islam Memperlakukan Hewan

Isam muncul pada abad ke-7 yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau diutus untuk memberikan rahmat (kasih sayang) kepada semesta alam seperti dalam surah Al-Anbiya’ ayat 107. Definisi alam yg dimaksud disini adalah selain Allah. Jadi kasih sayang Nabi SAW kepada manusia, jin, hewan, tumbuhan, mikroba, virus, dan makhluk Allah yang lain.

Islam sangat menjunjung tinggi kesejahteraan hewan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama makhluk Allah. Islam memandang hewan dan makhluk hidup lain sebagai hamba Allah yang sama-sama beribadah kepada-Nya. Seperti dalam surah Al-An’am ayat 38:

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗمَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ

“Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.”

Islam memandang hewan secara proporsional, tidak seperti faham animal right yang melarang bentuk pemanfaatan hewan seperti untuk konsumsi, pakaian, objek penelitian, dan pembebanan dalam suatu pekerjaan. Islam melegalkan bentuk pemanfaatan hewan seperti untuk tujuan konsumsi, untuk kendaraan, atau untuk tujuan-tujuan lain. Ini dijelaskan oleh Allah dalam al-quran surat Ghofir Ayat 79-80:

“Allah-lah yang menjadikan hewan ternak untukmu, sebagian untuk kamu kendarai dan sebagian lagi kamu makan (79). Dan bagi kamu (ada lagi) manfaat-manfaat yang lain padanya (hewan ternak itu) dan agar kamu mencapai suatu keperluan (tujuan) yang tersimpan dalam hatimu (dengan mengendarainya). Dan dengan mengendarai binatang-binatang itu, dan di atas kapal mereka diangkut (80).”

Nabi Muhammad SAW menunjukkan sifat kepedulian terhadap kesejahteraan hewan, seperti yang dijelaskan dalam banyak riwayat hadist, dimana beliau mengasihi kucing, burung, anjing, dan hewan-hewan lain.

“Diriwayatkan dari Sa’ad Bin Jubair berkata: suatu ketika aku dihadapan Ibnu Umar, kemudian ada sekelompok orang lewat yang menjadikan sasaran lempar seekor ayam betina. Saat melihat ada Ibnu Umar, mereka berpisah menjauhinya. Ibnu Umar berkata: “Siapa yang melakukan ini ? Sesungguhnya Nabi SAW melaknat orang yang melalukan seperti ini (sasaran lempar) kepada hewan” (HR Bukhari No. 5515).

Pada abad ke-12 , jauh sebelum muncul isu animal welfare di barat, seorang ulama dengan gelar Sulthanul Ulama Syaikh Izzuddin Bin Abdissalam telah merumuskan dan memerinci hak-hak hewan yang harus dipenuhi oleh manusia bila memeliharanya. Hal itu ditulis oleh beliau dalam sebuah kitab Qawaaid Al-Ahkam fi Mashaalih Al-Anam, Juz 1 Halaman 167:

ﺣﻘﻮﻕ البهائم ﻭاﻟﺤﻴﻮاﻥ ﻋﻠﻰ اﻹﻧﺴﺎﻥ، ﻭﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﻳﻨﻔﻖ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻧﻔﻘﺔ ﻣﺜﻠﻬﺎ ﻭﻟﻮ ﺯﻣﻨﺖ ﺃﻭ ﻣﺮﺿﺖ ﺑﺤﻴﺚ ﻻ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻬﺎ، ﻭﺃﻻ ﻳﺤﻤﻠﻬﺎ ﻣﺎ ﻻ ﺗﻄﻴﻖ ﻭﻻ ﻳﺠﻤﻊ ﺑﻴﻨﻬﺎ ﻭﺑﻴﻦ ﻣﺎ ﻳﺆﺫﻳﻬﺎ ﻣﻦ ﺟﻨﺴﻬﺎ ﺃﻭ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺟﻨﺴﻬﺎ ﺑﻜﺴﺮ ﺃﻭ ﻧﻄﺢ ﺃﻭ ﺟﺮﺡ، ﻭﺃﻥ ﻳﺤﺴﻦ ﺫﺑﺤﻬﺎ ﺇﺫا ﺫﺑﺤﻬﺎ ﻭﻻ ﻳﻤﺰﻕ ﺟﻠﺪﻫﺎ ﻭﻻ ﻳﻜﺴﺮ ﻋﻈﻤﻬﺎ ﺣﺘﻰ ﺗﺒﺮﺩ ﻭﺗﺰﻭﻝ ﺣﻴﺎﺗﻬﺎ ﻭﺃﻻ ﻳﺬﺑﺢ ﺃﻭﻻﺩﻫﺎ ﺑﻤﺮﺃﻯ ﻣﻨﻬﺎ، ﻭﺃﻥ ﻳﻔﺮﺩﻫﺎ ﻭﻳﺤﺴﻦ ﻣﺒﺎﺭﻛﻬﺎ ﻭﺃﻋﻄﺎﻧﻬﺎ، ﻭﺃﻥ ﻳﺠﻤﻊ ﺑﻴﻦ ﺫﻛﻮﺭﻫﺎ ﻭﺇﻧﺎﺛﻬﺎ ﻓﻲ ﺇﺑﺎﻥ ﺇﺗﻴﺎﻧﻬﺎ، ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺤﺬﻑ ﺻﻴﺪﻫﺎ ﻭﻻ ﻳﺮﻣﻴﻪ ﺑﻤﺎ ﻳﻜﺴﺮ ﻋﻈﻤﻪ ﺃﻭ ﻳﺮﺩﻳﻪ ﺑﻤﺎ ﻻ ﻳﺤﻠﻞ ﻟﺤﻤﻪ.

Hak-hak hewan ternak atas manusia yaitu:

  1. memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari jenis hewan-hewan tersebut, walaupun hewan-hewan tersebut telah menua atau sakit yang tidak dapat diambil manfaatnya;
  2. tidak membebani hewan-hewan tersebut melebihi batas kemampuannya;
  3. tidak mengumpulkan di antara hewan tersebut atau antara hal-hal yang membuat hewan tersebut terluka, baik dari jenisnya atau selain dari jenisnya dengan mematahkan tulangnya, menusuk, atau melukainya;
  4. menyembelihnya dengan baik jika menyembelihnya, tidak menguliti kulitnya dan tidak pula mematahkan tulang hingga hewan tersebut menjadi dingin dan hilang hidupnya, tidak menyembelih anak hewan tersebut di depannya, namun mengisolasinya;
  5. membuat nyaman kandang dan tempat minumnya,
  6. menyatukan antara jantan dan betina bila telah datang musim kawin;
  7. tidak membuang buruannya,
  8. tidak menembak dengan apapaun yang mematahkan tulangnya atau membunuhnya dengan benda-benda yang menyebabkan tidak halal dagingnya.

Korelasi Animal Welfare dan Syariat Islam

Bila kita mencermati isi dalam five of freedom dengan nash-nash dalam alqur’an, hadist, atupun hukum fiqih pada uraian di atas tidak bertentangan. Keduanya sejalan dalam konteks memerlakukan hewan. Oleh karena itu, animal welfare yang dalam hal ini direpresentasikan dengan FoF tidak bertentangan dengan syariat islam dan bahkan sejalan dengan syariat islam.

Hamzah Alfarisi
(Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Kedokteran Hewan IPB & Khadim Ma’had Jawi)

Fathul Qorib: Shalat (Bagian 3)

Fathul Qorib-Terdapat beberapa kajian mengenai shalat pada kitab ini, antara lain: hal-hal yang membatalkan shalat, bilangan shalat, waktu-waktu yang dilarang mendirikan shalat, dan lain-lain. Tulisan tentang shalat ini akan dibagi menjadi beberapa bagian atau seri.

Lima Waktu yang Dilarang untuk Shalat

Dalam fasal ini diterangkan waktu-waktu yang dimakruhkan untuk mendirikan shalat di dalamnya. Ada lima waktu yang dilarang untuk melaksanakan shalat, kecuali ada sebab yang mendahuluinya. Adapun lima waktu tersebut, ialah

  1. Setelah salat subuh sampai terbitnya matahari,
  2. Ketika terbitnya matahari sampai sempurnanya terbit,
  3. ketika matahari tepat di atas kepala (ketika suatu benda tidak mempunyai bayangan) sampai matahari sedikit tergelincir, pengecualian pada hari jumat tidak dilarang, demikian pula pada jika salat dilakukan di tanah haram Makah,
  4. Setelah salat asar sampai terbenamnya matahari,
  5. Ketika matahari terbenam sampai benar-benar sempurna tenggelam.

Hukum Shalat Berjamaah bagi Kaum Lelaki

Berjamaah pada salat jumat hukumnya fardhu ‘ain, adapun berjamah dalam salat fardhu selain salat jumat hukumnya sunnah muakad. Ketika salat berjamaah, makmum wajib niat sebagai makmum, sedangkan imam tidak wajib niat sebagai imam, kecuali pada salat jumat hukumnya sunnah.

Orang yang merdeka boleh makmum kepada seorang budak. Orang baligh boleh makmum kepada murohiq (laki-laki yang sudah tamyiz tetapi belum baligh). Laki-laki tidak diperbolehkan makmum kepada wanita maupun khuntsa (orang yang mempunyai dua alat kelamin dan keduanya berfungsi dengan baik). Wanita boleh makmum kepada wanita. Wanita boleh makmum kepada khuntsa. Khuntsa tidak boleh makmum kepada khuntsa maupun wanita.

Ketika salat berjamaah, imam dan makmum harus dalam satu tempat. Jika makmum tidak bisa melihat imam karena safnya terlalu panjang, maka dia cukup melihat saf depannya, saf depannya bisa melihat saf depannya, berlanjut sampai ke imam. Makmum tidak boleh mendahului imam. Batas toleransi mendahului imam adalah dua kali fi’li (gerakan). Tidak ada penghalang yang menghalangi antara imam dengan makmum atau antara makmum dengan saf depannya. Sehingga makmum tidak tau apa yang dilakukan imam.

Fathul Qorib: Bab Shalat 2

HUKUM ORANG KAFIR MASUK KE DALAM MASJID

‪#‎Pertanyaan‬
Apa orang kafir boleh masuk ke mesjid?
-M. Fahmi Amir (FMIPA IPB)

‪#‎Jawaban‬
Semoga kesejahteraan dan lindungan Allah senantiasa tercurah untuk Ust. Fahmi yang mulia. Guru sekaligus kakak kelas saya yang saya hormati.

Bismillah… saya mencoba menjawab, mohon dikoreksi jika salah

Di dalam madzab Syafi‘iyyah, orang kafir diperbolehkan masuk ke dalam masjid dan berdiam di dalamnya dengan izin orang islam yang baligh dan berakal, meskipun orang kafir tersebut dalam keadaan junub, kecuali Masjidil-Haram.

Imam Asy-Syafi’i رحمه الله تعالى didalam kitab Al-Umm berkata :
ولا بأس أن يبيت المشرك في كل مسجد إلا المسجد الحرام فإن الله عز وجل يقول {إنما المشركون نجس فلا يقربوا المسجد الحرام بعد عامهم هذا}
“Tidak mengapa orang musyrik menetap di dalam seluruh masjid kecuali masjidil haram, sebab Allah berfirman : ‘Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil-Haram sesudah tahun ini’ (QS. al-Taubah : 28).”

Kebolehan non-muslim masuk masjid juga berdasarkan hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim berikut ini :
بعث رسول اللَّهِ خَيْلًا قِبَلَ نَجْدٍ فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ من بَنِي حَنِيفَةَ يُقَالُ له ثُمَامَةُ بن أُثَالٍ فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ من سَوَارِي الْمَسْجِدِ
“Rasulullah صلى الله عليه و آله و سلم mengutus pasukan berkuda ke arah Nejd, mereka datang kembali dengan seorang laki-laki Bani Hanifiah bernama Tsumanah Bin Utsal, kemudian mereka mengikatnya pada salah satu tiang masjid.”

Imam An-Nawawi رحه الله تعالى di dalam Syarah Shahih Muslim mengatakan :
وفي هذا جواز ربط الأسير وحبسه وجواز إدخال المسجد الكافر ومذهب الشافعي جوازه بإذن مسلم سواء كان الكافر كتابيا أو غيره وقال عمر بن عبد العزيز وقتادة ومالك لا يجوز وقال أبو حنيفة رضي الله عنه يجوز لكتابي دون غيره ودليلنا على الجميع هذا الحديث وأما قوله تعالى إنما المشركون نجس فلا يقربوا المسجد الحرام فهو خاص بالحرم ونحن نقول لا يجوز إدخاله الحرم والله أعلم
“Dalam hal ini boleh hukumnya mengikat tawanan dan menahannya, serta boleh hukumnya orang kafir (non-muslim) memasuki masjid. Madzhab Asy-Syafi’i memperbolehkannya dengan syarat ada izin dari orang islam, sama saja terhadap kafir kitabiyah (ahli kitab) atau orang kafir lainnya. Namun, Umar bin Abdul ‘Aziz, Qatadah dan Imam Malik tidak memperbolehkannya. Sedangkan Imam Abu Hanifah mengatakan boleh bagi kafir kitabiyah, tidak yang lainnya. Adapun firman Allah ‘Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis , maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram’, itu maksudnya khusus dengan al-Haram, dan kami telah mengatakan tidak boleh orang kafir memasuki masjidil Haram, wallahu a’lam.”

Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqalani di dalam Fathul-Bari juga berkata :
وفي دخول المشرك المسجد مذاهب فعن الحنفية الجواز مطلقا وعن المالكية والمزني المنع مطلقا وعن الشافعية التفصيل بين المسجد الحرام وغيره للآية وقيل يؤذن للكتابي خاصة وحديث الباب يرد عليه فإن ثمامة ليس من أهل الكتاب
“Dalam masalah orang musyrik memasuki masjid terdapat beberapa pendapat. Madzhab Hanafiyah membolehkan secara mutlak, madzhab Malikiyah dan Al-Muzani melarang secara mutlak, madzhab Syafi’iyah merinci antara memasuki Masjidil-haram dan masjid lainnya berdasarkan ayat al-Qur’an (QS. al-Taubah : 28). Ada pula pendapat, mengizinkan khusus bagi orang kafir kitabi, namun bab hadits ini membantah pendapat tersebut, sebab Tsumanah Bin Utsal bukan orang kitabi (bukan ahli kitab, tapi orang kafir).”

Imam An-Nawawi رحمه الله di dalam Raudlatuth Thalibin :
أما الكافر فلا يمكن من دخول حرم مكة بحال، سواء مساجده وغيرها. وله دخول مساجد غير الحرم بإذن مسلم. وليس له دخولها بغير إذن على الصحيح..
“Orang kafir tidak diperbolehkan memasuki Al-Haram Makkah dengan keadaan apapun, sama saja pada masjidnya atau lainnya. Namun, boleh bagi orang kafir memasuki masjid-masjid yang lainnya dengan izin orang Islam, bukan masuk tanpa izin.”

Demikian kebijaksanaan para Imam kita, khususnya dalam mazhab Syafi’iyah yang masyhur di Indonesia. Saya tidak berani memberi komentar apapun, biarlah qaul (perdapat) ulama kita murni, sebab saya takut karena ini bidang fiqh dan hadis yang cukup rumit.

Bogor, 6 Muharram 1436
TIM KAJIAN KMNU IPB (adhli_alkarni)

Nb. Silakan disebarkan sebagai ilmu dan amal jariyah.
Wal-‘afw minkum