Categories
Kajian Fiqih Kajian Islam

Apa Hukum Najis Percikan Air Hujan?

KMNU IPB – Seringkali saat musim hujan, banyak air tergenang di jalan. Ketika kendaraan lewat, wushhh tercipratlah air itu ke pejalan-pejalan kaki ataupun pengendara sepeda motor. Ketika kalian mengalami kejadian seperti yang menimpa pejalan kaki tersebut, pernahkah kalian berpikir bagaimana hukum pakaian yang terpapar genangan air tersebut? Apakah najis? Apakah masih bisa digunakan untuk sholat?

Sebagai umat islam kita dianjurkan untuk meperhatikan aspek-aspek kesucian dalam sholat baik yang menempel pada pakaian yang dikenakan saat sholat maupun kesucian dari tempat sholat itu sendiri, tentunya hal tersebut berkaitan dengan sah atau tidaknya sholat. Namun, dalam islam pun dikenal juga istilah rukhsah atau keringanan. Agama yang rahmatal lil alamin ini tentunya tidak akan menyusahkan umatnya.

Kembali lagi pada hukum percikan genangan air di jalan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Kitab Al-Wajiz (Syarhul Kabir) karya Imam Al-Ghazali.

 قال الغزالي : يُعْذَرُ مِنْ طِيْنِ الشَّوَارِعِ فِيْمَا يَتَعَذَّرُ الإِحْتِرَازُ عَنْهُ غَالِبًا

Imam Al-Ghazali berkata: Pakaian yang terkena percikan lumpur maupun air dijalan karena sulitnya menghindarkan diri darinya, maka hal ini dimaafkan.

Kemudian jika percikan air maupun lumpur tersebut diyakini mengandung najis, misalnya genangan air tersebut adalah luapan dari got ataupun comberan yang najis. Maka hal ini juga dimaafkan jika memang percikan tersebut sedikit. Ingat, sedikit lho ya, tidak berlaku jika kalian berguling-guling atau berendam di genangan itu.

 Seperti pendapat Imam Ar-Rafi’I dalam kitabnya Al-Aziz Syarhul Wajiz.

 وَأَمَّا مَا تَسْتَيْقِنُ نَجَاسَتَهُ فَيُعْفَى عَنِ القَلِيلِ مِنْهُ. وأمَّا الكَثِيْرُ فَلاَ يُعْفَى عنهُ كَسَائِرِ النَّجَاسَاتِ

Jika diyakini jalan tersebut ada najisnya, maka hukumnya dimaafkan jika percikan tersebut hanya sedikit, namun jika percikan tersebut banyak maka tidak dimaafkan, sebagaimana hukumnya najis-najis yang lain. Alasan kenapa najis yang sedikit diatas dimaafkan, karena akan memberatkan jika harus diperintahkan untuk segera mencuci pakaian yang terkena percikan tersebut. Padahal ia hanya membawa satu pakaian dan juga ia harus memenuhi kebutuhan hidupnya.

Namun, keringanan ini jangan dijadikan alasan untuk tidak mencuci baju yang terkena cipratan itu ya. Walau bagaimanapun dalam genangan air tersebut bisa saja mengandung makhluk-makhluk renik yang bersifat patogen alias membawa penyakit, yang bisa jadi bikin kita gatal-gatal, diare, atau sakit yang lain.

 

Diadaptasi dari NU Online.

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/41096/hukum-percikan-najis-dari-air-hujan-di-jalanan

Categories
Ubudiyah

Pawang Hujan : Doa Memindahkan dan Memberhentikan Hujan

KMNU IPB – Pernah ngga kalian sudah siap-siap ke suatu acara penting, sudah cantik, ganteng, nan menawan tiba-tiba… gledek, bresss… turun hujan? Rasanya seperti sia-sia saja berdandan cantik dan ganteng. Eits ngga boleh gitu ya, hujan itu rezeki yang seharusnya kita syukuri. Toh ada teknologi bernama payung ataupun mantel yang dapat kalian gunakan melindungi diri dari terpaan hujan, atau mungkin berteduh menunggu hujan reda. Apapun itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena hujan.

Ada satu lagi opsi yang dapat kita pilih. Sebagimana seorang hamba, kita bisa memohon kepada Allah Swt yang memiliki kuasa atas alam semesta ini, termasuk di dalamnya cuaca dan hujan. Kita dapat mencoba berdoa untuk menghentikan hujan atau mengalihkannya ke tempat lain loh. Rasanya sudah seperti pawang hujan atau tokoh superhero Storm di film X-men saja ya gaes.

Sebagaimana tercantum dalam Sahih Bukhari yang diriwayatkan oleh Annas, Rasulullah Saw pernah berdoa :

 

للهم حوالينا ولا علينا اللهم على الأكام والظراب وبطون الأودية ومنابت الشجر

 

Allahumma hawalayna wa la ‘alayna, Allahumma alal akami wad thirobi, wa buthunil audiyyati wa manabitis syajari

Artinya: Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami, dan jangan turunkan kepada kami untuk merusak kami.  Ya Allah turunkanlah hujan di dataran tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan.

Doa tersebut bisa diamalkan nih, apalagi bagi sobat-sobat yang tinggal di Bogor yang katanya kota hujan itu. Namun, sebagaimana manusia kita hanya bisa berdoa dan berusaha, sisanya urusan Alloh Yang Maha dari segalanya. Toh inti dan makna doa itu adalah mengharapkan hujan yang berkah dan everybody can be pawang hujan. Namun, kalau hujannya ngga pindah-pindah atau tetap saja deras, husnudzan, mungkin itulah yang terbaik bagi kita. Semoga Allah  Swt menghindarkan kita dari hujan yang menyebabkan bencana. Amin. (Mil)

Disunting dari : https://islam.nu.or.id/post/read/48731/do039a-istimewa-memindah-dan-menghentikan-hujan

Categories
HUMOR Opini

Bogor Kota Hujan, Mengapa Demikian?

KMNU IPB – Sudah tidak asing lagi dengan julukan Bogor Kota Hujan. Julukan yang disematkan karena tingginya curah hujan di kota ini, bahkan pada musim kemarau pun masih banyak hujan dibandingkan daerah lain yang umumnya sedikit menerima hujan. Mengapa Bogor memiliki curah hujan yang relatif tinggi? Berikut penjelasan singkat menjawab hal tersebut.

Secara geografis Kota Bogor terletak di antara 1060 48’ BT dan 60 26’ LS yang memiliki ketinggian 190-330 meter di atas permukaan laut (mdpl). Suhu udara rata-rata bulanan mencapai 260 C dengan suhu terendah 21,80 C dan suhu tertinggi 30,40 C serta kelembaban udara 70-80 %.  Kota Bogor sering mengalami hujan karena wilayahnya berada di kaki Gunung Gede dan Gunung Salak, sehingga sering terjadi hujan orografis atau hujan yang terjadi di daerah pegunungan dimana Bogor berada pada daerah hadap hujan (Handoko 2006).

Hujan orografis dapat terjadi di Bogor karena adanya massa udara atau angin laut yang banyak mengandung uap air dari Laut Jawa (di utara) bergerak ke selatan menuju wilayah Bogor, karena terdapat Gunung Gede dan Gunung Salak, massa udara dipaksa naik ke atas gunung yang suhu udaranya lebih rendah sehingga uap air mengalami kondensasi (perubahan uap air menjadi butir-butir air hujan) membentuk awan-awan yang selanjutnya turun menjadi hujan. Kondisi tersebut yang menyebabkan Bogor sering terjadi hujan yang bersifat “lokal” dan disebut sebagai Kota Hujan. Udara yang mengandung uap air telah menjadi hujan orografis namun udara tersebut tetap bergerak ke daerah bayangan hujan yang bersifat kering atau disebut Angin Fohn karena uap air sudah menjadi hujan orografis.

Sumber : ilmugeografi.com

Curah hujan Kota Bogor mencapai 3.500-4.000 mm per tahun. Namun, curah hujan tersebut bukanlah yang tertinggi di dunia maupun di Indonesia. Daerah di Indonesia yang memiliki curah hujan tertinggi adalah Baturaden, Jawa Tengah dengan curah hujan mencapai 4.280 mm per tahun (lebih tinggi dari Bogor).

Handoko. 2006. Klimatologi Dasar : Landasan Pemahaman Fisika Atmosfer dan Unsur-unsur Iklim. Bogor(ID): IPB Press.