Fathul Qorib: Shalat (Bagian 3)

Fathul Qorib-Terdapat beberapa kajian mengenai shalat pada kitab ini, antara lain: hal-hal yang membatalkan shalat, bilangan shalat, waktu-waktu yang dilarang mendirikan shalat, dan lain-lain. Tulisan tentang shalat ini akan dibagi menjadi beberapa bagian atau seri.

Lima Waktu yang Dilarang untuk Shalat

Dalam fasal ini diterangkan waktu-waktu yang dimakruhkan untuk mendirikan shalat di dalamnya. Ada lima waktu yang dilarang untuk melaksanakan shalat, kecuali ada sebab yang mendahuluinya. Adapun lima waktu tersebut, ialah

  1. Setelah salat subuh sampai terbitnya matahari,
  2. Ketika terbitnya matahari sampai sempurnanya terbit,
  3. ketika matahari tepat di atas kepala (ketika suatu benda tidak mempunyai bayangan) sampai matahari sedikit tergelincir, pengecualian pada hari jumat tidak dilarang, demikian pula pada jika salat dilakukan di tanah haram Makah,
  4. Setelah salat asar sampai terbenamnya matahari,
  5. Ketika matahari terbenam sampai benar-benar sempurna tenggelam.

Hukum Shalat Berjamaah bagi Kaum Lelaki

Berjamaah pada salat jumat hukumnya fardhu ‘ain, adapun berjamah dalam salat fardhu selain salat jumat hukumnya sunnah muakad. Ketika salat berjamaah, makmum wajib niat sebagai makmum, sedangkan imam tidak wajib niat sebagai imam, kecuali pada salat jumat hukumnya sunnah.

Orang yang merdeka boleh makmum kepada seorang budak. Orang baligh boleh makmum kepada murohiq (laki-laki yang sudah tamyiz tetapi belum baligh). Laki-laki tidak diperbolehkan makmum kepada wanita maupun khuntsa (orang yang mempunyai dua alat kelamin dan keduanya berfungsi dengan baik). Wanita boleh makmum kepada wanita. Wanita boleh makmum kepada khuntsa. Khuntsa tidak boleh makmum kepada khuntsa maupun wanita.

Ketika salat berjamaah, imam dan makmum harus dalam satu tempat. Jika makmum tidak bisa melihat imam karena safnya terlalu panjang, maka dia cukup melihat saf depannya, saf depannya bisa melihat saf depannya, berlanjut sampai ke imam. Makmum tidak boleh mendahului imam. Batas toleransi mendahului imam adalah dua kali fi’li (gerakan). Tidak ada penghalang yang menghalangi antara imam dengan makmum atau antara makmum dengan saf depannya. Sehingga makmum tidak tau apa yang dilakukan imam.

Fathul Qorib: Bab Shalat 2

Fathul Qorib: Bab Shalat (Bagian 2)

Fathul Qorib-Terdapat beberapa kajian mengenai shalat pada kitab ini, antara lain: hal-hal yang membatalkan shalat, bilangan shalat, waktu-waktu yang dilarang mendirikan shalat, dan lain-lain. Tulisan tentang shalat ini akan dibagi menjadi beberapa bagian atau seri.

Hal-hal yang membatalkan salat

  1. Berbicara dengan sengaja. Pembicaraan yang dimaksud ialah ucapan-ucapan yang disengaja dan difahami orang lain. Sengaja yang dimaksudkan ialah berbicara layaknya berbincang dengan orang lain, baik dalam rangka pembenahan salat maupun lainnya. Berbicara selain membaca ayat Al-Qur’an Walaupun hanya mengatak “قِ” yang berarti jagalah, maka itu akan membatalkan salat.
  2. Bergerak yang berlebihan, yang dimaksud berlebihan ialah bergerak lebih dari tiga gerakan atau satu gerakan tetapi frontal, misalnya loncat. Meskipun hanya satu gerakan, tetapi itu tidak dihitung satu gerakan karena gerakannya terlalu frontal. Adapaun gerakan-gerakan kecil seperti gerakan jari, erakan bibir, gerakan kelopak mata tidak dihitung sebagai gerakan yang mebatalkan.
  3. Hadas, baik hadats kecil maupun hadats besar.
  4. Terkena najis, contohnya kotoran cicak. Lain halnya apabila najis tersebut kering lalu menimpa pakaian dan dengan segera dikibaskan, maka salatnya tidak batal.
  5. Terbukanya aurat, kalau terbukanya hanya sebentar kemudian ditutup itu tidak membatalkan salat.
  6. Berubahnya niat, contohnya ketika imam salah, kemudian makmum mengucapkan tasbih (bagi laki-laki) tetapi hanya berniat mengingatkan imam bukan diniati dzikir, maka dia salatnya batal.
  7. Berpaling dari kiblat, Imam Syafi’i menggunakan acuan dada, ketika dada berpaling dari kiblat maka salatnya batal.
  8. Tertawa terbahak-bahak sampai badannya ikut bergerak-gerak.
  9. Makan, contohnya ketika sebelum salat seseorang makan terlebih dahulu. ketika salat, terdapat sisa makanan yang tertinggal di gigi , kemudian sisa itu ditelan, maka salatnya batal.
  10. Minum
  11. Murtad

Bilangan Shalat

Dalam salat fardhu ada 17 rakaat, 34 sujud, 94 takbir, 9 tasyahud, 10 salam, 153 tasbih, dan jumlah rukun salat fardhu ada 126. Orang yang tidak kuat untuk berdiri, maka diperbolehkan salat dengan duduk, yang paling afdhal adalah duduk seperti duduk iftirasy. Jika tidak kuat duduk, maka salat dengan tidur miring, lambung berada di sebelah bawah dan miring menghadap kiblat, jika tidak mampu maka menggunakan isyarat.

Tiga Perkara yang Tertinggal dalam Shalat

Pertama, fardhu atau rukun salat.Jika perkara wajib yang ditinggal atau rukun salat, maka harus ditambah dan disempurnakan sesuai dengan rukun yang ditingggalkan dan ditambah dengan sujud sahwi.

Kedua, sunah dalam salat. Jika yang ditinggalkan adalah sunnah, maka tidak perlu menambah tetapi tetap melakukan sujud sahwi.

Ketiga, perkara bukan wajib maupun sunah. Jika yang ditinggalkan bukan wajib dan sunnah, maka tidak perlu menambah dan tidak perlu sujud sahwi.

Fathul Qorib: Hukum-hukum Hibah

KMNU IPBHibah menurut bahasa berasal dari kata hubuub yang berarti “tiupan angin”, atau “orang terbangun dari tidurnya ketika ia terjaga”, maka seakan-akan orang yang melakukan hibah tersebut terjaga untuk melakukan kebaikan.

Menurut syara’ hibah adalah memberikan kepemilikan suatu benda secara langsung dan dimutlakkan saat masih hidup tanpa meminta sedikitpun timbal balik walaupun kepada orang yang lebih tinggi derajatnya.

Singkatnya, hibah merupakan pemberian kepemilikian suatu barang karena Alloh dengan tidak menuntut pengganti, dinyatakan secara lisan melalui serah terima (ijab qabul) untuk pengesahannya.

Barang yang dihibahkan adalah barang yang dimiliki penuh oleh orang yang memberi hibah. Hibah harus diberikan dengan barangnya bukan hanya manfaatnya. Mushannif kitab Fathul Qarib menjelaskan batasan barang yang bisa dihibbahkan di dalam perkataan beliau “setiap barang yang boleh dijual, maka boleh dihibbahkan”. Sesuatu yang tidak sah dijual-belikan, maka tidak sah pula untuk hibbah.

Hibbah tidak bisa dimiliki dan belum tetap kecuali barangnya telah diterima dengan seizin pemberi. Seandainya orang yang diberi atau yang memberi meninggal dunia sebelum barang yang dihibbahkan diterima, maka hibbah tersebut tidak rusak, dan yang menggantikan keduanya adalah ahli warisnya di dalam menerima maupun menyerahkannya.

Ketika orang yang diberi telah menerima barang pemberiannya, maka bagi si pemberi tidak diperkenankan menarik kembali kecuali ia adalah orang tua orang yang diberi, walaupun seatasnya. Ketika seseorang memberikan seumur hidup suatu barang, semisal rumah , seperti ucapannya, “aku memberikan rumah ini seumur hidup padamu.” Akad tersebut yaitu disebut akad أعمر (akad yang berlaku untuk selamanya). Atau melakukan raqbah (رقبه) rumah tersebut pada orang lain seperti perkataannya, “aku memberikan raqbah rumah ini padamu dan aku menjadikan ruqbah padamu”, atau seseorang mengawasi kepada rumah tersebut, misalnya berkata “aku mengawasimu atas rumah ini, dan kujadikan rumah ini bagimu (pengawasan)” , maksudnya “jika engkau meninggal dulu sebelum aku, maka rumah ini kembali padaku. Dan jika aku meninggal dulu sebelum engkau, maka rumah ini tetap menjadi milikmu.”

Hibah berbeda dengan sedekah dan hadiah. Hadiah adalah sedekah yang diberikan dengan niat untuk mendapatkan pahala, hadiah diberikan dengan maksud untuk memuliakan orang yang diberi hadiah, sedangkan hibah adalah memberi barang tanpa mengharap apapun.

Fathul Qorib : Hukum Wakaf dan Pengertiannya

Pengertian

Hukum Wakaf – Ditinjau dari segi bahasa waqaf berarti menanam, sedangkan secara syara’ waqaf merupakan menahan harta untuk dialih milikkan, yaitu dengan cara memindah hak tasharruf (penggunaan) dari pewaqaf (waqif) ke penerima waqaf (mauquf alaih) dengan tujuan mendekat diri kepada Allah Ta’ala.

Waqaf hukumnya boleh dan memiliki tiga syarat

Pertama, harta yang diwaqafkan (mauquf) harus berupa barang yang dapat dimanfaatkan dan keadaannnya tetap (utuh, tahan lama). Oleh karena itu, waqif tidak boleh mewaqafkan uang atau makanan yang hanya sekali pemanfaatannya. Dari segi pemanfaatanya, mauquf dimanfaatkan dengan tujuan sesuai syara’j, bukan alat-alat untuk permainan ataupun perhiasan. Mauquf tidak disyaratkan memiliki kemanfaatan yang ada pada saat itu (aktual). Sehingga hukumnya sah mewaqafkan budak dan keledai yang masih kecil untuk diambil manfaatnya di kemudian hari.

Kedua, Waqaf harus diberikan pada asal (mauquf alaih pertama) yang sudah wujud, dan far’ (mauquf alaih selanjutnya) yang tidak terputus (akan selalu ada).
Sebagai contoh, waqif tidak boleh mewaqafkan barang kepada anaknya kemudian diwaqafkan kepada orang-orang miskin, sedangkan dia tidak memiliki anak. Contoh ini dinamakan dengan munqati’ al awwal (mauquf alaih yang pertamanya terputus).
Berkaitan dengan contoh sebelumnya, jika wakif tidak menyebutkan kata “kemudian setelahnya diberikan pada fuqara’”, maka contoh ini adalah mungqathi’ awwal wal akhir (maukuf pertama dan akhir terputus).

Ketiga, waqaf tidak dilakukan pada sesuatu yang diharamkan.
Sesungguhnya waqaf tidak disyaratkan harus nampak jelas tujuan ibadahnya, bahkan yang penting tidak mengandung unsur maksiatnya, baik nampak jelas tujuan ibadahnya seperti waqaf kepada kaum fuqara’, atau tidak nampak jelas seperti waqaf kepada orang-orang kaya.

Di dalam waqaf disyaratkan pula untuk tidak dibatasi dengan waktu. Misalnya,

“aku waqafkan barang ini selama setahun.”,

maka waqaf seperti ini tidak sah. Waqaf (penggunaannya) disesuaikan dengan apa yang disyaratkan oleh waqif pada barang tersebut. Misalnya, mendahulukan sebagian dari orang-orang yang mendapatkan waqaf seperti,

“aku waqafkan pada anak-anakku yang paling wira’i.”,

atau mengakhirkan sebagiannya, seperti “aku waqafkan kepada anak-anakku. Kemudian ketika mereka sudah tidak ada, maka kepada anak-anak mereka.”,

atau menyamakan diantara seluruh mauquf alaih, seperti,

“aku wakafkan kepada anak-anakku sama rata antara yang laki-laki dan yang perempuan.”,

atau mengunggulkan sebagian anak-anaknya di atas sebagian yang lain seperti,

“aku waqafkan kepada anak-anakku, yang laki-laki mendapatkan bagian dua kali lipat dari bagian yang perempuan.”

Kajian Fiqih (Kitab Fathul Qorib)

Oleh: Ustadz Hamzah Alfarisi

Jumat, 22 November 2019

Editor : Mil

Fathul Qorib : Hal-hal yang membatalkan Sholat

Fathul Qorib : Fasal, Hal-hal yang membatalkan Sholat

Hal-hal yang membatalkan Sholat ada 11 ( Fathul qorib ),yaitu:

  1. Berbicara dengan sengaja, yaitu ucapan-ucapan yang disengaja dan difahami orang lain . Berbicara selain membaca ayat Al-Qur’an walaupun hanya mengatakan ” قِ” yang berarti jagalah, maka itu akan membatalkan sholat.
  2. Bergerak yang berlebihan, hitungan berlebihan adalah lebih dari tiga gerakan atau satu gerakan tetapi frontal, misalnya loncat. Meskipun hanya satu gerakan, tetapi itu tidak dihitung satu gerakan karena gerakannya terlalu frontal. Yang tidak dihitung sebagai gerakan yaitu gerakan-gerakan kecil seperti gerakan jari, gerakan bibir, gerakan kelopak mata.
  3. Hadats, baik hadats kecil maupun hadats besar.
  4. Terkena najis, contohnya kotoran cicak.
  5. Terbukanya aurat, kalau terbukanya hanya sebentar kemudian ditutup itu tidak membatalkan sholat.
  6. Berubahnya niat, contohnya ketika imam salah, kemudian makmum mengucapkan tasbih ( bagi laki-laki) tetapi hanya berniat mengingatkan imam bukan diniati dzikir, maka dia sholatnya batal.
  7. Berpaling dari kiblat, Imam Syafi’i menggunakan acuan dada, ketika dada berpaling dari kiblat maka sholatnya batal.
  8. Tertawa terbahak-bahak sampai badannya ikut bergerak-gerak.
  9. Makan, contohnya ketika sebelum sholat seseorang makan terlebih dahulu. ketika sholat, terdapat sisa makanan yang tertinggal di gigi , kemudian sisa itu ditelan, maka sholatnya batal.
  10. Minum
  11. Murtad
  • Fasal,

Dalam sholat fardhu itu ada 17 rokaat, 34 sujud, 94 takbir, 9 tasyahud, 10 salam, 153 tasbih, dan jumlah rukun sholat fardhu ada 126. Orang yang tidak kuat untuk berdiri, maka diperbolehkan sholat dengan duduk, yang paling afdhal adalah duduk seperti duduk iftirasy. Jika tidak kuat duduk maka sholat dengan tidur miring, lambung kanan berada di sebelah bawah dan miring menghadap kiblat, jika tidak mampu maka menggunakan isyarat.

Fasal, perkara yang ditinggalkan ketika sholat.

  1. Jika perkara wajib yang ditinggal atau rukun sholat, maka harus ditambah dan disempurnakan sesuai dengan rukun yang ditingggalkan dan ditambah dengan sujud sahwi.
  2. Jika yang ditinggalkan adalah sunnah, maka tidak perlu menambah tetapi tetap melakukan sujud sahwi.
  3. Jika yang di tinggalkan bukan wajib dan sunnah maka tidak perlu menambah dan tidak perlu sujud sahwi.

Rangkuman kajian
Kitab: Fathul Qorib
Pemateri: ust Hamzah Alfarisi
Waktu: Jumat, 30 November 2018
Tempat: node ARL lt 2

Kajian Fathul Qorib : Bab Haji Full Penjelasan

Fathul Qorib : Haji menurut bahasa artinya “berkeinginan”. Sedangkan menurut syari’at haji adalah mengunjungi Baitullah dengan rukun dan syarat tertentu.

  • Hukumnya adalah wajib, yaitu bagi orang yang mampu melaksanakannya.
  • Jika seseorang takut akan berbuat zina, maka menikah dulu baru melaksanakan haji.
  • Syarat wajib haji ada 7: Islam, baligh, berakal sehat, merdeka, mempunyai kendaraan dan bekal. Batas bekal yaitu punya bekal untuk kendaraan, makan atau kebutuhan sewaktu melaksanakan haji, dan bekal untuk keluarga yang ditinggalkan selama melaksanakan haji.
  • Menurut Imam Rofi’i: berangkat haji lebih utama dengan berjalan kaki, karena tingkat kesusahannya lebih besar.
  • Menurut Imam Nawawi: berangkat haji lebih utama dengan naik kendaraan, karena nabi dahulu ketika berangkat haji menggunakan kendaraan.
  • Orang yang mampu untuk melaksanakan haji yaitu: Jalannya aman untuk sampai ke baitullah, aman dari nafsu, aman hartanya (tidak dicuri atau dirampok). Jika rusaknya lebih besar dari amannya, maka tidak wajib haji. Jika sebaliknya maka wajib haji.

Jenis jenis haji ada 3, yaitu:

  1. Haji ifrad, mendahulukan haji baru kemudian umrah.
  2. Haji Tamatu’, melaksanakan haji dan umrah secara bersama-sama.
  3. Haji qiran, mendahulukan umrah baru haji.

Rukun Haji ada 4:

Ihram disertai niat, ihram yaitu mengharamkan sesuatu yang halal dan yang haram tetap haram, niat, wukuf di Arofah, thawaf di baitullah, dan sa’i antara Shofa dan Marwah.

Pertanyaan:

  1. Ketika seseorang niat untuk berangkat haji, namun dia juga ada keinginan untuk meninggal dan dikubur disana, apakah itu diperbolehkan?
  2. Bagaimana jika seseorang yang ingin berangkat haji tetapi mendapat masalah administrasi?
  3. Misalkan ada orang yang mendapat hadiah haji dari seseorang, tetapi hanya sebatas untuk dirinya dan keluarganya tidak mendapat biaya selama ditinggal, itu bagaimana?
  4. Jika setelah sampai di Baitullah dan tiba-tiba bekal yang dibawa habis tidak sesui dengan perkiraan itu bagaimana?

Jawab:

  1. Boleh-boleh saja, tetapi tidak niat untuk bunuh diri di sana atau meninggalnya disengaja.
  2. Menjadi tidak wajib untuk melaksanakan haji, tetapi harus tetap diusahakan untuk di urus administrasinya.
  3. Harus dicek dulu, apakah itu boleh menurut islam atau tidak. Jika sesuia, maka dia harus mencari biaya terlebih dahulu untuk keluarganya yang ditinggal. Jika tidak bisa, maka hukumnya belum wajib tetapi boleh-boleh saja jika dia tetap berangkat.
  4. Jika mau tetap dilanjut maka tetap sah, tetapi kalau mau dibatalkan juga tidak apa-apa.

Rangkuman Kajian Rutin Fiqih

Kitab  : Taqrib Karya Syihabuddin Abu Syuja’ Al Ashfahani

Waktu : Jum’at, 15 Maret 2019

Tempat : Node ARL

Pengisi: Ustadz  Hamzah Alfarisi, S.Si