Kajian Kitab Aqidatul Awwam : Bait Pertama

Untitled

Seperti dalam kitab-kitab yang lain, kiyai nadhim memulai mandhumah ini dengan basmalah. Tujuan dibalik ini yaitu ingin mendapat pertolongan dari Allah azza wa jalla yang sangat luas rahmatnya bagi setiap mahluknya tanpa batasan, dan sangat luas pemberian, dan kenikmatan Allah tanpa putus. Dalam kitab jalaul afham dijelaskan ada 3 alasan kiyai nadhim memulai mandhumah ini dengan basamalah :

1). Mengikuti Al-quran berdasarkan urutannya bukan turunnya. Maksudnya Alquran diawali dengan lafad basmalah dalam surat fatihah.

2). Mengamalkan hadist Nabi SAW :

“كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لَايُبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرًحِيْمِ, فَهُوَ أَقْطَعُ”. (رواه الخطيب عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعا).

“Setiap perkata yang tidak diawali dengan bacaan bismillahirrohamirrohim, maka perkata itu lebih terputus” (HR. Khotib dari Abu Hurairah RA, dengan sanad marfu’). Maksud dari kata lebih terputus adalah kurang dan sediitnya kebaikan serta berkahnya.

3). Mengikuti Nabi SAW, sesungguhnya Nabi SAW mengawali kitab dan risalah-risalahnya dengan basmalah, seperti yang telah dicontohkan dalam suratnya yang disampaikan untuk Raja Hercules (raja kerajaan Romawi) dan yang lainnya.

Menurut imam as-Suyuthi seperti yang dicuplik oleh imam Nawawi al-bantani1 dalam kitab Nurudzdzolam, makna “Allah” yaitu dzat yang telah terdahulu adanya, yang agung dzat dan sifatnya, dan menyeluruh kedermawanannya.

Selanjutnya imam Nawawi al-Bantani mencuplik perkataan Ahmad Showi, bahwa “Allah” adalah nama yang mengumpulkan, karena semua nama-nama itu termasuk kedalam Allah. “Ar-Rohman” yaitu dzat yang memberikan nikmat dengan segala nikmat, termasuk nikmat duniyawiyah (keduniaan) dan ukhrowiyah dhohiriyah wa bathiniyah (akhirat, baik lahir maupun batin). Sedangkan lafad “Ar-Rahim” yaitu dzat yang memberikan nikmat dengan selembut-lembutnya nikmat, termasuk nikmat duniyawiyah (keduniaan) dan ukhrowiyah dhohiriyah wa bathiniyah (akhirat, baik lahir maupun batin).  Adapun maksud selembut-lembutnya nikmat yaitu perkara yang menjadi furu’ (percabangan) dari perkara ushul (asal), berupa tambahnya iman, ilmu, ma’rifat, taufiq, kesehatan, pendengaran, dan penglihatan.

Keterangan selanjutnya dalam kitab Nurudzdzolam, imam Nawawi mencuplik perkataan Ahmad Malawi, bahwa lafad “Ar-Rohman” itu lebih baligh (lebih sampai) dari pada lafad “Ar-Rohim”, karena tambahnya salah satu dari dua perkara yang sama mustaqnya (isim mustaq) dan macamnya menunjukkan tambahnya makna. Karena sesunggunya makna “Ar-Rohman” itu dzat pemberi yang hakiki yang sampai dalam puncaknya rahmat. Oleh sebeb itu tidak benar bahwasannya ada sesuatupun yang dapat memeberikan rahmat selain Allah Ta’ala.

1 imam Nawawi al-Bantani adalah ulama Nusantara yang sangat alim ilmunya, sehingga beliau termasuk ulama yang terkenal di makkah al-mukarromah, karena imam Nawai tinggal di makkah dan mengajar di masjidil haram. Beliau termasuk penulis aktif yang mempunyai banyak karya, salah satunya adalah syarah kitab aqidatul awam yang diberi nama Nurudzdzolam.

Kontributor: Hamzah Alfarisi

Kajian kitab Aqidatul Awam : Sejarah kitab Aqidatul Awam

Segala puji milik Allah yeng telah memberikan nikmat atas hambanya yang mukmin dengan cara memuliakannya berupa melihat-Nya di surga nanti. Sholawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada seorang hamba yang telah diutus untuk memberikan rahmat bagi seluruh manusia, seumpama tanpa beliau niscaya keadaan manusia lebih buruk daripada hewan,  atas keluarga nabi yang mulia, dan atas sahabat nabi yang menjadi lampu dalam kegelapan, serta para tabiin sampai hari dimana lisan terkunci dan semua anggota badan berbicara.

Sebelum membahas kitab Aqidatul Awam, hendaknya sangat perlu diketahui latar belakang/sejarah ditulisnya kitab nadhom ini, yang telah dua abad lebih menjadi pedoman umat muslim sedunia. Suatu ketika nadhim kitab aqidatul awam yaitu Sayyid Ahmad Al-marzuqi Al-maliki bermimpi bertemu Rasulullah SAW dalam tidurnya di akhir malam jum’at pada awal bulan rajab hari ketujuh tahun 1258 H. Pada saat itu, sahabat nabi sedang berdiri disekitar nadhim. Terjadi percakapan singkat sebagai berikut :

Nabi SAW  bersabda : “Bacalah nadhom tauhid yang mana bila seseorang menghafalnya, maka akan masuk surga dan akan hasil maksudnya dari setiap kebaikan yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.”

Nadhim bertanya : “apakah nadhoman itu ya Rasulullah?”

Sahabat menyahut dan berkata kepada nadhim: “Dengarlah! apa yang akan diucapkan oleh Rasulullah SAW”

Rasulullah SAW berkata : “ katakanlah ! abda’u bismillahiwarrohmani…”

Rasulullah SAW membacakan nadhom pertama yaitu “abdau bismillahiwarrohamnni” hingga akhir nadhom yang berbunyi “washuhuful kholili wal kalimi # fiha kalamul hakamil alimi”. Kemudian nadhim membacakan nadhom tersebut dihadapan Rasulullah dan para sahabat.  Rasulullah pun mendengarkannya. Setelah bangun dari tidurnya maka nadhim membaca nadhom yang telah diajarkan oleh Rasulullah di dalam mimpinya. Atas izin Allah, nadhim telah hafal nadhom tersebut dari awal hingga akhir.

Suatu ketika di malam jum’at yaitu malam ke-18 bulan dzul qo’dah, nadhim bermimpi bertemu Rasulullah untuk yang kedua kalinya di waktu sahur. Terjadi perbincangan singkat,

Rasullah berkata : “Bacalah! apa yang telah kamu dapatkan sebelumnya”

Kemudian nadhim membacanya (dalam hal ini hafal) dari awal hingga akhir. Pada saat itu posisi nadhim dalam keadaan berdiri di depan Rasullah SAW. Sedangkan para sahabat berdiri diantaranya seraya berkata “Amiin” setelah dibacakan akhir setiap nadhom.

Setelah selesai membacanya, Rasul berkata kepada nadhim: “Allah akan memberikan pertolongan kepadamu terhadap apa yang telah Allah ridhoi  dan semoga Allah menerimamu atas nadhom tersebut. Semoga Allah memberkahi atas kamu dan atas orang-orang mukmin. Semoga nadhoman  ini bermanfaat bagi hamba-hamba Allah”. Adapun bait selanjutnya yaitu dari bait “wakulluma ata bihirrasulu # fa haqquhuttaslimu wal qabulu” hingga akhir kitab, nadhim menambahkannya sendiri.

Berikut sejarah ditulisnya nadhom aqidatul awam, penulis menyarankan kepada pembaca semuany untuk menghafal nadhom tersebut, insyaAllah akan mendapat manfaatnya seperti yang disabdakan Rasulullah dalam mimpi nadhim. Untuk pembahasan selanjutnya, setiap nadhom akan diberikan penjelasan dari Al-qur’an dan kitab-kitab tauhid lainnya, seperti syarah aqidatul awam, nurudholam karya Syekh Nawawi al-Bantani, kemudian Jalailul afham karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-maliki. Semoga penulis diberikan kekuatan oleh Allah sehingga mampu menulis hingga akhir bait kitab aqidatul awam.

Wallu a’lam bishowaab.

Catatan:

Nadhim : Pengarang kitab aqidatul awam.

Nadhom : Rangkaian kata dalam bahasa arab sehingga membentuk pola yang indah dan memiliki makna yang padat.

Kontributor: Hamzah Alfarisi