Categories
Opini Sastra, Puisi, dan Humor Uncategorized

Syukur di Balik Cerita Akhir Semester, Sedih atau Senang

Akhir semester selalu menjadi momok bermuka dua, di satu sisi menandakan status liburan di depan mata dan di sisi yang lain adalah hasil dari pertempuran selama satu semester akan segera tiba. Sore ini seakan menjadi puncak kesedihan yang begitu mendalam bagi kebanyakan orang dan sebagian kecil lainnya menyunggingkan senyum puas atas hasil usahanya. Satu persatu nilai muncul di kartu rencana studi kami , mahasiswa yang dinobatkan sebagai pengenyam studi di kampus dengan seabrek tugas dan ube rampenya. Hari ini mengingatkan duka tragedi penabrakan pesawat yang meluluhlantakn dua menara kembar kebanggan AS dikawasan WTC. Kejadian tersebut menyisakan duka mendalam bagi sebagian orang dan memicu kebencian terhadap umat muslim. Sungguh berlebihan jika status IPK disamakan dengan kejadian nahas itu. Namun bagaimana jika ini adalah semester terakhirnya menjajakan kaki dikampus tercinta, bagaimana kalau namanya tidak muncul di daftar hadir semester depan atau jika dia harus merelakan impiannya terkubur bersama dua huruf yang muncul di KRS (DO). Sungguh tidak pernah terbayang, bagaimana menjalani perjuangan keras selama ini. Membuka lembar demi lembar ilmu, mencoba mencerna kata demi kata. Berat rasanya membayangkan harus menenteng kopor bukan untuk sekerdar mengunjungi orang tua di kampung melaikan meninggalkan tanah perantauan untuk selamanya. Rasa malu tak hanya menampar dirinya, namun juga keluarga besarnya tak luput adalah kedua orang tuanya. Harapan tulus yang tak hentinya terucap dalam rajutan doa di sepertiga malam orang-orang yang sangat menyayanginya harus dibayar dengan takdir yang memilukan.

 Tidak jarang mahasiswa yang terpaksa harus menanggalkan almater berlogo lima helai daun dengan gambar buku dibawahnya, lalu menggantinya dengan almamater lain. Atau hanya mampu memandangnya digantungan lemari karena sekarang harus dimusiumkan, tak ada hak lagi untuk mengenakannya, bahkan harus memutus mimpi wisuda di gedung megah Graha widya Wisuda. Sekeras apapun menjerit,sekencang apapun menangis bahkan sampai air mata menjadi darah takkan mengembalikkan statusnya sebagai mahasiswa IPB. Satu hal yang kadang terlupakan oleh kita yaitu nikamat syukur. Sering kali kita masih saja mengeluhkan nilai, padahal nilai hanya sedikit meleset dari target yaitu AB atau B. Tengoklah kawan-kawan dibawah kita yang berjuang mati-matian hanya ingin menyelamatkan diri dari nilai E ataupun D agar mereka bisa melanjutkan kuliah tanpa harus menggu semester berikutnya dengan mengulang mata kuliah yang sama. Atau mereka yang bertaruh nilai agar tidak dicopot status beasiswanya bahkan menyelamatkan diri dari cengkraman dua huruf mengerikan (DO). Tidakkah kita bersyukur kawan atas pertolongan Allah Ta’ala yang masih berbaik hati pada kita dan membiarkan kita sedikit terjatuh agar tak melupakan nikmatNya, merasakan perjuangan hidup bak roda yang berputar tak selamanya bertengger di atas. Masih ingatkan dengan QS Ibrahim (14) ayat 7 tentang janji Allah terhadap orang yang bersyukur maka akan Allah menambah nikmatNya, namun jika kita kufur sungguh adzab Allah sangat pedih.

 Semua yang berlalu biarlah menjadi penghuni dalam memori kita, menjadi pemicu semangat untuk lebih baik lagi dan tidak terjatuh ke dalam lubang yang sama. Kadang kita merasa tak adil dengan takdir Tuhan, begitu menyakitkan. Namun perlu disadari, di balik semua kejadian yang Allah rancang ini tersimpan hikmah yang begitu besar. Allah tutup jalan yang satu karena jalan itu bisa saja menjerumuskan kita, lalu Allah tuntun kita untuk melewati jalan yang sedikt panjang dan berliku, namun balasan Allah sungguh tak terduga. Akulah saksi bagaimana sekenario Allah itu berjalan. Akulah salah satu lakon yang Allah pilih untuk merasakan nikmatnya berjuang hingga mampu merajut sedikit demi sedikit impian. Setiap yang bernyawa pastilah diuji, itulah cara Alalh mengangkat derajad umatNya. Jika kita menilik lagi firman Allah dalam QS. Al-Insyirah ayat 6, bahwa sesudah kesulitan pasti ada kemudahan, itulah janji Allah yang Agung.

Sumber : Sumber :  Al-Qur’an : Surat Ibrahim (14) ayat 7. Surat al-Insyiroh (94) ayat 6

Oleh : Ummu Asma’ul Husna/ FKH IPB 50

Leave a Reply

Your email address will not be published.