Categories
Kajian Islam

FATHUL QORIB: SHALAT JAMAK DAN QASHAR

Kajian Fiqih-Islam memperbolehkan peringkasan dan penggabungan dalam shalat empat rakaat menjadi dua rakaat ( shalat jamak qashar) pada seorang musafir. Shalat yang dapat diringkas yaitu zhuhur, ashar dan isya’. Seseorang yang melakukan perjalanan jauh diberi  rukhsah (keringanan) dalam tatacara pelaksanaan shalat.  Meski demikian, ijma’ ulama tidak memperbolehkan qashar untuk shalat maghrib dan subuh.

Syihabuddin Abu Syuja’ Al Ashfahani dalam kitab Fathul Qorib menjelaskan bahwa syarat qashar antara lain:

  1. Hanya untuk shalat yang jumlah rakaatnya 4
  2. Jarak minimum untuk diperbolehkannya qashar yaitu 16 Farsyakh atau 88,6 Km
  3. Bepergian tidak untuk tujuan maksiat
  4. Niat qashar shalat saat takbiratul ihram

Ada lima macam bepergian:

  1. Bepergian yang wajib : Haji, membayar hutang
  2. Bepergian yang sunnah : Haji ke-2, umroh
  3. Bepergian yang mubah : berdagang, rekreasi
  4. Bepergian yang makruh : berpergian sendiri tanpa ada teman
  5. Bepergian yang haram : mengedarkan narkoba, bepergian dengan perempuan tanpa seizin suaminya.

Seseorang yang yang belum shalat, kemudian melakukan perjalanan hingga memenuhi syarat untuk mengqashar shalat. Saat diperjalanan dia ingat belum shalat, dan hendak mengqodho’nya. Maka dia tidak boleh mengqashar shalat yang di qodho’.

Jama’ ada dua macam, yaitu jama’ Takdim dan jama’ takhir.

  1. Jama’ takdim yaitu melaksanakan jama’ di awal. Contohnya yaitu melaksanakan jama’ sholat Dzuhur dengan Ashar di waktu Dzuhur.
  2. Jama’ takhir yaitu melaksanakan jama’ di akhir. Contohnya yaitu melaksanakan jama’ sholat Maghrib dengan Isya di waktu Isya.

Syarat-syarat jama’ takdim:

  1. Mendahulukan shalat yang waktunya lebih awal. Melaksanakan sholat dzuhur baru kemudian sholat ashar, melaksanakan shalat maghrib baru kemudian shalat isya.
  2. Niat jama’ takdim ketika takbiratul ihram, apabila lupa boleh ditengah-tengah shalat.
  3. Tidak boleh terpisah atau ada jeda waktu yang lama antara shalat yang di jama’
  • Jama’ takhir tidak diharuskan urut dalam melaksanakan sholat, dan tidak pula harus berturut-turut, artinya boleh ada pemisah.
  • Ulama memperbolehkan menjama’ shalat bagi yang mukim, karena ada hal tertentu yang menghalanginya untuk shalat dan tidak menjadi adat kebiasaan. Seperti orang menikah, maka boleh menjama’nya.
  • Bepergian yang niatnya digantungkan masih mendapat rukhsah selama apa yang digantungkan belum terpenuhi. Contoh, seumpama ada orang yang ingin melakukan perjalanan, tetapi dengan niat jika dia telah menemukan apa yang dia cari maka dia akan membatalkan perjalanannya. Selama dia masih belum menemukan apa yang dicari, maka dia masih mendapatkan rukhsah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.