Categories
KMNU IPB Sastra, Puisi, dan Humor Uncategorized

“Setapak Jalan Panjang Pasukan Berkuda”

“Setapak Jalan Panjang Pasukan Berkuda”
Genangan air menyeruak di setiap sudut pelosok negeri membiaskan rona kuning mentari dari ufuk barat. Gugus awan yang pekat mulai memudar, memutih, dan sirna. Altokumulus perlahan menari indah diangkasa dengan buaian nada dan irama angin pegunungan. Burung kutilang bersahut merdu di atas pohon cemara menikmati indahnya senja hari di kerajaan Kameno.
Kerajaan di negeri yang hijau, hijau dengan kemakmuran dan hijau penuh dengan kedamaian. “woiii, bocah sini cepat nak!” teriak panglima Zima dengan sebilah pedang panjang di tangan kirinya. Sibocah kecil yang sibuk memperbaiki perahu bercadik untuk berlayar tak mengindahkan seruan panglima Zima dan menjawab dengan sederhana, “jos, bentar lagi!”. Tampak diujung pandang mata ahli berkuda pangeran Bis dan Ahli siasat perang, Mafqu menyiapkan seekor kuda yang gagah dan perkasa. Perlahan mulai kesal panglima Zima menghampiri bocah kecil yang asyik  dengan perahu bercadik , menyeret dan menaikannya diatas pelana kuda putih. “aduhhh… sakit panglima pelan-pelan!” teriak si bocah kesakitan. Pangeran Bis, Guru mafqu, panglima Zima, dan sibocah kecil dengan dua kuda gagah yang perkasa mulai perjalanan untuk berguru dan bertamu dengan seseorang yang pandai silat seni hidup dan sastra perjuangan di lembah Jabal, Padepokan Pagerati.
           Mentari diufuk barat masih melambaikan sinar Ilahy dan arakan awan putih mengikuti langkah mereka. “Kesempurnaan hidup adalah bagaimana kita tetap menghijaukan negeri kita dan melestarikannya untuk para penerus kita” kata panglima kepada sang bocah. Dengan kata sederhana dan tawa yang khas sang bocah berpura memahaminya, “joss!”.  “Nanti kalau bertemu pengasuh padepokan pagerati di lembah Jabal engkau akan mengerti apa persilatan seni hidup dan sastra perjuangan,”  tambah panglima meyakinkan si bocah.
     Tak lama kemudian tampak didepan mata sebuah bangunan sederhana dengan segala keunikannya, seolah  memberi isyarat selamat  datang “ahlan wa marhabanbihudhurikum” di Padepokan Pagerati. Panglima Zima dan sang guru Mafqu mengikat leher kuda dengan seutas tali pada batang pohon  jati. Tak lama kemudian Sosok kharismatik yang dikenal sebagai ahli beladiri seni hidup dan sastra perjuangan menyapa kafilah tersebut. Teh hangat madu dan irisan gandum seolah menjadi saksi bisu pembicaraan mereka. Hingga permintaan mereka terhadap sang pengasuh padepokan pagerati untuk di ajari silat pergerakan bathin pun dipenuhi. Panglima dan guru Mafqu menyimak dan mempelajari perlahan dengan sabar. Sibocah dan pangeran Bis hanya tersenyum pertanda tidak mengerti. Tiada terasa hari di pertemukan dengan malam oleh waktu maghrib. Sang pengasuh harus melatih kembali para pesilat di padepokan pagerati. Sebelum kafilah pergi sang pengasuh berkata kepada panglima Zima dan rombongan. “Jika kalian ingin derajat sabuk hijau maka Jamu yang pahit akan menjadi minuman kalian, namun persiapkan juga disamping jamu yang pahit itu, segelas madu. Pahit dan manis itulah sejatinya derajat sabuk hijau
. . . . . . . .
Oleh: Ibnun
                                                                                                                        KajianpoenyaJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.