Satanologi : Ilmu Persetanan

0
139
SATANOLOGI merupakan ilmu atau kajian yang menjelaskan seluk-beluk setan: siapa setan, bagaimana siasat dan tipu dayanya, apa sarana dan prasarananya untuk menggoda manusia, sejauh mana bahaya, peran, pengaruh dan kehadirannya dalam sepanjang sejarah hidup manusia, serta bagaimana melawan dan mengatasinya. Tentu saja, ilmu ini tidak menjadi satu jurusan di perguruan tinggi atau bidang ahli sungguhan tetapi agaknya sebagai manusia yang mengaku umat Kanjeng Nabi paling tidak mengetahui (sebagai sesama ciptaan Allah pula) apa itu setan dan perannya di dunia.arapkan dengan kajian ini kita dapat membedakan apakah kita berada di barisan para Nabi dan para pewarisnya atau di barisan, agen, golongan, murid dan penggemar setan serta para korbannya yang mengikuti, taktik, bisikan dan program-program jangka panjangnya. Intinya kajian ini termasuk ikhtiar kita untuk menjemput rida Allah.

SATANOLOGI merupakan ilmu atau kajian yang menjelaskan seluk-beluk setan: siapa setan, bagaimana siasat dan tipu dayanya, apa sarana dan prasarananya untuk menggoda manusia, sejauh mana bahaya, peran, pengaruh dan kehadirannya dalam sepanjang sejarah hidup manusia, serta bagaimana melawan dan mengatasinya. Tentu saja, ilmu ini tidak menjadi satu jurusan di perguruan tinggi atau bidang ahli sungguhan tetapi agaknya sebagai manusia yang mengaku umat Kanjeng Nabi paling tidak mengetahui (sebagai sesama ciptaan Allah pula) apa itu setan dan perannya di dunia.

Diharapkan dengan kajian ini kita dapat membedakan apakah kita berada di barisan para Nabi dan para pewarisnya atau di barisan, agen, golongan, murid dan penggemar setan serta para korbannya yang mengikuti, taktik, bisikan dan program-program jangka panjangnya. Intinya kajian ini termasuk ikhtiar kita untuk menjemput rida Allah.

Termaktub di surat Al-A’raf ayat 16, setan menyalahkan Allah (tidak merasa bersalah) dan bersumpah bakal duduk nongkrongin Nabi Adam seketurunannya di jalan Allah yg lurus. Maksudnya, justru di saat manusia beribadah dan taat itulah setan getol menggoda manusia agar putus dari ibadah dan ketaatannya. Target minimalnya, kita dibiarkan ibadah tapi ga sempurna atau ga khusyuk.

Jikalau setan bersumpah di hadapan Allah untuk menggoda kita agar kita tidak ibadah atau ibadah kita tidak benar bahkan tidak segan-segan menyeret manusia ke neraka, nah sekarang bagaimana dengan kita? Sudahkan kita benar-benar bersumpah agar kita serius beribadah dan bersumpah agar berusaha khusyuk dalam beribadah?

Setan bener-bener serius dan tidak main-main menggoda kita, manusia. Bayangkan jika sebumnya seorang Nabi berada dalam surga, atas izin Allah, turun ke dunia karena godaan setan. Lalu bagaimana dengan nasib kita yang sejak mbrojol sudah di dunia plus kita dan bapak kita bukanlah seorang Nabi? Loh setan itu sudah tahu dan sudah bersumpah akan menjerumuskan kita jauh sebelum kita lahir (QS Al-Isro 62).

Itu artinya setan sudah membaca dan mempelajari tentang manusia dan metodologi menggoda manusia, sedangkan kita? Sejak kapan mulai serius mempelajari dan meneliti bagaimana trik dan langkah setan, serta bagaimana cara melewannya yang notabene merupakan “musuh bersama”?

Belum lagi setan sudah berpengalaman dan profesional dalam hal menjerumuskan manusia. Pretasi pertama setan yaitu menurunkan manusia dari surga lalu prestasi kedua membuat cerita pembunuhan pertama justu di zaman belum ada keluarga dan pergaulan selain keluarga Nabi Adam dan hal-hal yang menginspirasi tindakan pembunuhan. Nah, bagaimana dengan kapasitas keilmuan dan pengalaman kita? Yang jelas, seiring dengan perkembangan zaman, jebakan dan perangkap setan semakin banyak, canggih pula.

Semoga kita semua semakin sadar akan hal ini. Momen hitungan minggu menuju bulan Ramadan bisa kita manfaatkan untuk merenungi hal ini agar semakin madhep mantep di bulan suci itu. Karena pada dasarnya setan itu seakan-akan hampir mustahil untuk dideteksi, hendaknya kita berusaha dalam memperbaiki diri dan melalukan amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.

Bertanyalah di dalam diri Anda, siapakah guru agama atau mursyid kita yang dengan sami’na wa atha’na dan mengikuti bimbingan dan arahan beliau kita mampu mencari rida Allah? Atau justru pikiran dan kesombongan setan sudah tertanam di benak kita bahwa kita bisa belajar sendiri dan menemukan sendiri jalan dalam menuju rida Allah?
Kalau memang manusia sejak dahulu bisa demikian, hanya dengan modal akal dan kecerdasannya, menemukan petunjuk sendiri, tentu Allah tidak akan Mengutus 313 rasul, 124 ribu nabi, menurunkan 104 mushaf berikut kitabnya, serta menghadirkan pewaris-pewaris Kanjeng Nabi yang meneruskan perjuangan Beliau. Jangan sampai karena kesombongan, merasa bisa, dan bermodal akal, kita malah menjadi agen yang menggantikan peran setan. [HR]

Tulisan ini merupakan olahan kembali dari karya Ustadz Ahmad Said, Pengasuh Majlis Ta’lim Darul Futuh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here