Santri yang Menjawab

0
17

Biru langit senja terlihat indah, arakan awan hitam menari syahdu diterpa angin pegunungan. Disela dedaunan tampak membias sinar surya berwarna jingga kemerahan. Nada sholawat menjemput waktu magrib tiba terdengar merdu, bergema dan meneduhkan. Ahsan busyra terlihat menikmati dan menghayati sholawat yang di lagukannya dengan intonasi nada naik turun yang lembut, sambil sesekali menerbitkan senyum sosok Ibnun yang mengayunkan perlahan sapu jerami dari shaf satu ke shaf berikutnya sepanjang lantai masjid An-Nur. Ahsan Busyra mahasiswa fakultas pertanian yang sebelumnya dari pondok pesantren bahrul ulum, satu angkatan dengan Ibnun, mahasiswa perikanan ilmu kelautan yang dulunya juga berasal dari madrasah aliyah.

“Nak, sudah adzan magrib,” kata pak kiai dari balik pintu belakang masjid. “Jo,, pukul kentongan dan beduk!” suruh Ahsan kepada Ibnun dan bersiap untuk mengumandangkan adzan magrib . “Siap, kapten!” jawab Ibnun sambil menaruh sapu di sudut ruangan masjid. Dug … dug… dug,,, tek tretek tek .. dung, bunyi beduk terdengar lantang hingga mampu mengusik kerumunan burung gereja yang bertengger di ranting pohon jambu, terbang ke segala arah.
Kentongan dan bedug merupakan alat tradisional yang dipakai sebagai pertanda waktu sholat tiba. Kentongan terbuat dari kayu atau batang pohon dan dilubangi bagian tengah, saat dipukul dengan sebatang kayu menimbulkan suara yang nyaring dan lantang. Sekarang alat semacam ini mulai digeser keberadaannya dengan adanya teknologi jam digital yang secara otomatis berbunyi sebelum waktu sholat. Ibu kos tampak berlari kecil dan perlahan mendekati Ahsan dan Ibnun. “Ibnun, kalau habis magrib membantu teteh ngajar ngaji anak-anak yah?” kata ibu kos kepada Ahsan dan Ibnun.

Ada sekitar 30 sampai 40 anak-anak yang mengaji setiap harinya. Dengan niatan memberi manfaat kepada orang lain, Ibnun membantu mengajar ngaji anak-anak usai sholat magrib di masjid. Mulai dari hukum nun mati atau tanwin Ibnun menikmati suasana kebersamaan di majlis ilmu bersama anak-anak. Sedangkan Ahsan, yang menjadi muadzin dan qari’ dimasjid An-Nur, sekaligus menjadi badal pak kiai sebagai imam saat sholat berjamaah. Dan mengisi waktu libur, setiap sabtu malam minggu mengadakan rebanaan atau bersholawat bersama warga dan mahasiswa KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama) lainnya untuk memakmurkan masjid.

Sofyan seorang teman karib Ibnun pernah bertanya tentang organisasi apa yang sekarang mereka ikuti dikampus. Bagi sebagian mahasiswa aktifis memang terlihat keren dan memiliki nilai tambah tersendiri. Namun sudah saatnya menyadari bahwa ada hal yang sekarang sangat dibutuhkan ditengah masyarakat. Kesibukan akademik perkuliahan memang sangatlah padat, apalagi ditambah adanya praktikum, responsi, laboratorium komputer, tugas, laporan, modul, analisis, pengamatan, fieldtrip, dan lain-lain. Namun terkadang bagi sebagian mahasiswa dengan berorganisasi menjadi hiburan tersendiri bagi mereka. Sama halnya dengan Ahsan dan Ibnun yang menjadikan KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama) sebagai wadah untuk memperdalam keagamaan dan mengabdi di masyarakat. Apalagi mereka berasal dari pesantren yang lebih mengerti dan faham bagaimana kondisi masyarakat melalui pendekatan sosial keagamaan dan kultur atau budaya setempat. Usai sholat isya didepan mimbar, tiba-tiba pak kiai datang dan duduk bersila disamping Ibnun. “Nak, lihat lah sekarang masjid ini sudah berbeda sama dulu waktu bapak masih muda,” kata pak kiai pada Ibnun. Ibnun hanya terdiam dan memperhatikan pak kiai. “Dulu, masjid ini ramai, anak-anak seusia adek banyak pada ke masjid. Tapi sekarang, adek lihat sendiri yang sholat berjamaah di masjid bisa diitung jari, satu sampai dua shaf jamaah, dan kebanyakan seumuran bapak, bahkan lebih tua. Bapak bersyukur adanya adek-adek disini, membantu bapak memakmurkan masjid. Selain Adek, dan Ahsan yang sering adzan ada satu lagi siapa? Bapak lupa yang selalu berpakaian koko panjang rapi.” Jawab pelan Ibnun menanggapi pertanyaan pak kiai, “Muhsya bapak.” “Nah, itu namanya Muhsya yah alhamdulilllah, bareng-bareng memakmurkan masjid ini, dengan tahlil dan tawasulan, sholawatan, istigosahan, dan yasinan.” Tambah pak kiai menjelaskan.

Setiap santri pasti memegang dua hal sebagai bekal dalam hidupnya. Dua hal yang tidak mampu bisa dilogika dan tidak dapat dikalkulasi dengan angka berapapun, yaitu berkah dan kualat. Rahmat adalah segala karunia yang telah Allah Swt berikan. Berkah adalah hasil budidaya manusia terhadap rahmat Allah Swt. Ketika manusia memperlakukan rahmat Allah Swt. Yang berupa pohon dengan merawatnya, akan muncul buah-buah itulah berkah, ketika kapas di transformasikan manusia dengan teknologi menjadi kaos, dan baju itu juga yang disebut berkah. Manusia yang terlibat dalam kegiatan masjid akan memperoleh nilai dari ayat-ayat muhkamat, memperoleh teman yang lurus, memperoleh ilmu yang benar, mendapat rahmat yang ditunggu-tunggu, memperoleh kalimat yang bermanfaat, dan mendapat taubat yang lurus.

Hari ini, kepala Ahsan terasa berat. Terserang flu dan batuk membuatnya hanya bisa bergelung dan berkelumun dibawah selimut di kamar tidur. Sapu tangan tiada henti ia bekapkan ke hidung untuk mengeringkan ingus yang mengalir lancar. Ibnun menemani istirahat Ahsan sambil menonton film one piece. Film anime yang paling dia sukai saat di pesantren hingga sekarang di bangku kuliah. Tiba-tiba mereka terkejut seseorang datang dan membuka pintu kamar sambil mengucapkan salam, dan ternyata mas Imamul adi. Imamul Adi atau lebih akrab dipanggil mas imam adalah kakak tingkat Ahsan dan Ibnun, yang sering memberikan nasihat dan berbagi pengalaman kepada mereka. “loh,, kenapa jo?” tanya mas imam kepada Ibnun. “biyasa mas, emang ini anak lebay. Flu sedikit sok-sok an sakit, bilang aja mau diperhatiin sama si dia,” jawab Ibnun sambil memukul tangan Ahsan yang lagi mengusapkan sapu tangan ke hidungnya. Walau sering terlihat bercanda dan selalu bertengkar beda pendapat, mereka mengerti kapan saat yang tepat untuk bercanda dan saat untuk serius. Begitulah persahabatan mereka, sulit untuk diterjemahkan namun begitu indah untuk diartikan. Sambil membuka kue kering yang dibawanya dari pondok, mas imam berkata “ Jo,, masih ingatkah kalian pesan ustad ubaidillah saat ngaji kemaren malam, selalu Kirimkanlah surat-surat kita menjelang subuh. Surat yang ditulis dengan tinta air mata, dengan kertas pipi, dengan perangko pengabulan, dan dengan alamat yang dituju adalah Arsy, setelah itu tunggu balasannya. Saat bersujud, bisikkanlah semua urusan kepada Allah, karena Dia mengetahui yang samar dan tersembunyi. Maha suci Allah yang menjadikan kepasrahan kepada-Nya sebagai kekuatan, yang menjadikan rasa butuh kepada-Nya sebagai kekuatan, yang menjadikan permohonan kepada-Nya sebagai kekayaan, yang menjadikan rasa rendah diri kepada-Nya sebagai ketinggian, dan tawakal kepada-Nya sebagai kecukupan.” Dengan bersemangat dan mengarahkan jempol kepada mas imam, Ahsan yang lagi sakit dan ibnun berkata,”Yoshaaaa, mas!”

Imam Syafi’i berkata:

Biarlah hari trus berlari
Tetaplah menjadi manusia mulya, apapun yang terjadi
Janganlah galau dengan tiap kejadian sehari-hari
Karena tiada yang abadi, semua kan datang dan pergi
Jadilah pemberani melawan rasa takutmu sendiri
Karena lapang dan tulus adalah dirimu sejati
Janganlah pandang hina musuhmu
Karena jika ia menghinamu, itu ujian tersendiri bagimu
Takkan abadi segala suka dan lara
Takkan kekal segala sengsara serta sejahtera
Merantaulah, gapailah setinggi-tinggi impianmu
Bepergianlah, maka ada lima keutamaan untukmu
Melipur duka dan memulai penghidupan baru
Memperkaya budi, pergaulan yang terpuji
Serta meluaskan ilmu

Kontributor : Ibnun

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here