Categories
Renungan Uncategorized

Remote Control Iblis

Mohon  Ma’af Jika Judul tulisan ini terkesan tidak lazim dan tidak akrab dalam dialektika keseharian kita. Namun yang pasti, apa-apa yang menjadi muatan dalam tulisan ini merupakan fakta tak terbantahkan tentang pertunjukan drama kehidupan yang benar-benar terjadi di depan mata kita, di hampir setiap perilaku kita, dan bahkan di dalam setiap sisi ruang pikiran kita.

Drama kehidupan itu terjadi begitu saja tanpa kita sempat melakukan koreksi atau identifikasi, apakah persitiwa demi peristiwa di dalamnya adalah murni karya diri kita, ataukah sebuah drama kolosal dari sekian banyak lakon penyesatan yang langsung disutradarai iblis. Untuk mengetahui persis tentang hal ini diperlukan pengetahuan yang memadai tentang realitas “diri” dan iblis di dalam jiwa dan pikiran kita.
Selama ini, keberadaan “Diri” yang kita pahami baru sebatas casing materiilnya, atau hanya pada icon-icon nisbi yang terpampang pada status sosial masing-masing individu. Ada pengusaha, pejabat, politisi, praktisi, kiyai, ustadz, dan semacamnya. Dan secara substansif kita belum mampu memahami “Diri” dalam dimensi spiritual yang lebih mendalam, yakni “diri” yang bersifat lathifah-ruhaniyah dan universal.
Begitupun pengetahuan kita tentang iblis, baru sebatas lahiriyah dengan stigma negative yang kita sebut sebagai setan, tuyul, dedemit, kolor ijo, jurik, uka-uka, dsb. Sementara iblis dalam arti spiritual yang merupakan energi, signal, frekwensi, ataupun gelombang metafisic yang mengalir menjadi spirit dalam setiap perilaku kita, masih sangat jarang kita pahami secara sungguh-sungguh. Bahkan kita cenderung tak perlu tahu banyak tentang hal ini, sebab mempelajari bab ini jelas tidak akan menghasilkan uang atau dollar.
Dalam momen tertentu, sangat boleh jadi kita melakukan segala sesuatu bukanlah berasal dari inisiatif diri pribadi, bukan mewakili nilai-nilai Tuhan, melainkan hanya sebatas menjadi kepanjangan tangan (penampakan) dari sekian banyak operasi iblis di alam nyata, menjadi agen dan antek iblis di setiap sisi ruang dan waktu, baik di rumah, di kantor, atau bahkan di dalam mesjid sekalipun. Karenanya fenomena ini harus diupdate ke permukaan agar setiap perilaku kita dapat dipahami betul dari mana sumbernya, apa motifnya, dan apa targetnya.
Selama ini kita sudah terlanjur mensepakati bahwa iblis, setan, jin, dan malaikat merupakan makhluk gaib nun jauh di sana, di antabaranta, atau di tempat-tempat angker, di pohon-pohon tua yang biasa dipakai sarana uka-uka. Atau paling tidak, kita telah terbiasa mempercayai bahwa iblis dan gerombolannya senang living-kos gratisan di rumah-rumah tua yang tak berpenghuni. Kemudian kita tak pernah mau tahu lebih detil bahwa iblis dan kroninya berada sangat dekat dengan “diri” kita, bahkan berada pada titik kordinat “sejiwa” dengan akal pikiran kita.
Dalam konteks ini, iblis tentu saja jangan kita pandang hanya dengan terminologi materi atau jasadiyah semata, melainkan harus dipahami dari sisi spiritual. Pada dimensi ini, iblis adalah gelombang metafisic, freqwensi alias getaran tertentu dalam jiwa, atau signal ruhaniyah yang memancar kuat dan menjadi aliran energi pada pikiran dan tingkah laku kita. Dengan persfektif semacam ini maka kita akan mudah mengendentifikasi, apakah sesuatu yang kita lakukan adalah berasal dari inisiatif diri pribadi, ataukah berasal dari dorongan energi iblis yang mengalir di setiap ujung syaraf nafsu dan syahwat kita.
Secara umum, kita memang semakin tidak paham tentang apa dan siapa jati diri kita, juga terhadap apa yang sejatinya menjadi inti paling substansial dari citra kemanusiaan kita. Termasuk dalam hal ini adalah kebodohan kita tentang realitas iblis, jin, dan malaikat, yang kesemuanya berada dalam tataran atmosfir ruhaniyah kita. Secara material, mereka memang tidak memiliki wujud apapun di alam nyata, namun oleh Tuhan mereka diberi keleluasaan untuk “menempati” (halla-yahullu) segala sesuatu, baik pada materi fisical maupun metafisical sebagai media untuk menampakkan eksistensinya.
Contoh penampakan eksistensi dimaksud misalnya; di mata petualang seks, iblis akan menampakkan diri dalam wujud fostur seksi dengan gerak dan gaya yang aduhai, sensual, dan erotis, sedemikian menggairahkan hingga akhirnya terjadi perzinahan. Di hati dan pikiran seorang pejabat, boleh jadi iblis menampakkan diri dalam wujud pesona dan imajinasi yang menggambarkan prestisisme dalam kedudukan, kemewahan, dan kekayaan. Lalu pelan-pelan tapi pasti, sang pejabat pun merancang strategi untuk mewujudkan imajinasi tersebut dalam kehidupannya, dan endingnya…, korupsilah yang terjadi. Hal serupa juga dapat terjadi kepada siapa saja sepanjang bernama manusia, mulai dari level  masyarakat awam hingga para ilmuwan top-class.
Bahkan orang yang sehari-hari kita panggil dengan gelar kemuliaan (baca : Abah, Kiyai, Ustadz, Ajeungan, dsb), pun tidak mustahil mereka bisa menjadi ejawantah dari drama dan orkestra iblis dan kroninya. Dan secara umum, kemungkinan serupa juga dapat terjadi pada orang-orang yang memproklamirkan dirinya sebagai pemangku jabatan terhormat, pemimpin, pengayom masyarakat, pembela umat, penyelamat bangsa, dan sebagainya.     Atau berupa  lembaga dan institusi tertentu seperti, parlemen, LSM, Advocat, Yayasan, organisasi, dan sebagainya, yang sangat boleh jadi semua itu hanyalah proyek-proyek iblis yang SDM-nya terdiri dari para manusia yang telah menjadi boneka-boneka iblis yang bergentayangan di mana-mana.
Alhasil, manusia yang tidak sanggup memahmi jati dirinya, yang orientasi pikirannya hanya terhenti pada segala sesuatu yang bersifat materi dan bendawi, maka ia tidak akan pernah mampu memahami realitas dirinya, termasuk realitas iblis selaku musuh bubuyutannya. Kemudian karena mereka tidak lagi memahmi iblis sebagai musuhnya, maka pada saat yang sama iblis akan menguasai seluruh sisi jiwanya, dan secara lebih sistematis iblis akan menanamkan sofwer berisi program kemaksiatan dan penyesatan di relung hati dan pusat pikirannya. Pada kondisi seperti ini, manusia bagi iblis telah menjadi seperti sebuah mainan di tangan anak kecil. Lalu iblis akan dengan seenaknya mengaktifkan sofwer di kepala manusia itu kapan saja, di mana saja, dan untuk tampilan apa saja. Inilah proto-type “remote control iblis” dalam jiwa dan pikiran manusia.
Di mata iblis dan kroninya, manusia jenis ini adalah recehan, yaitu orang-orang yang tak lagi memiliki model pertahanan apapun terhadap penetrasi iblis. Karenanya iblis tidak perlu susah-susah membangun jurus jitu untuk menggodanya, tapi cukup dengan hanya menekan “remote control iblis” yang sudah tertanam dalam jiwa dan pikirannya. Kemudian dalam sekejap, jadilah mereka robot-robot iblis yang berkeliaran di mana-mana, di jalan raya, di pasar-pasar, mall, perkantoran, dan sebagainya. Robot-robot iblis itu akan tampil dengan masing-masing perannya, ada yang lucu, seram, kejam, namun tetap dalam berbagai kemasan gaya-hipokritisme, pura-pura serius, pura-pura cinta, pura-pura ibadah, pura-pura membela umat, dan sebagainya.
Waspadalah, waspadalah, iblis tidaklah jauh nun di sana, iblis tidak berada di luar batok kepala dan pikiran kita, akan tetapi bisa jadi iblis itu adalah diri kita, atau kita adalah iblis-iblis bersafari, berdasi, bersorban, atau berbusana kehormatan apa saja. Allahu A’lam.


Cak Nul/Zainullah 

Web: pcnukabbogor.org
Dimuat: oktober  2010
Total Dibaca: 1613 kali.

Leave a Reply

Your email address will not be published.