RAPID TEST COVID-19, EFEKTIFKAH?

0
307
Foto oleh Gustavo Fring dari Pexels

WHO mengumumkan COVID-19 sebagai pandemik pada 12 Maret 2020. Hanya butuh waktu 4 bulan sejak kasus pertama di Cina, COVID-19 dinyatakan sebagai pandemik. Dalam waktu 4 bulan pula, virus yang disebut Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) itu sampai di Indonesia. Berawal dari dua orang di daerah Depok yang dinyatakan positif COVID-19, kini COVID-19 telah menjadi wabah di Indonesia. Hingga 14 Mei 2020, 16.006 lebih dikonfirmasi positif, 3.518 diantaranya dinyatakan sembuh, dan 1.043 meninggal.

Apa itu Coronavirus?

Coronavirus adalah virus RNA dengan ukuran partikel 120-160 nm. Sebelum terjadinya wabah COVID-19, ada 6 jenis coronavirus yang dapat menginfeksi manusia, yaitu alphacoronavirus 229E, alphacoronavirus NL63, betacoronavirus OC43, betacoronavirus HKU1, Severe Acute Respiratory Illness Coronavirus (SARS-CoV), dan Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV). Coronavirus yang menjadi etiologi COVID-19 termasuk dalam genus betacoronavirus. Hasil analisis filogenetik menunjukkan bahwa virus ini masuk dalam subgenus yang sama dengan coronavirus yang menyebabkan wabah Severe Acute Respiratory Illness (SARS) pada 2002-2004 silam, yaitu Sarbecovirus. Atas dasar ini, International Committee on Taxonomy of Viruses mengajukan nama SARS-CoV-2.

Gejala Infeksi SARS-CoV-2

Gejala yang timbul pada pasien terinfeksi SARS-Cov-2 sangat beragam dan cenderung tidak menimbulkan gejala spesifik. Sebagian besar pasien yang terinfeksi SARS-CoV-2 menunjukkan gejala-gejala pada sistem pernapasan seperti demam, batuk, bersin, dan sesak napas. Gejala yang paling sering ditemukan adalah demam, batuk kering, dan fatigue. Gejala lain yang dapat ditemukan adalah batuk produktif, sesak napas, sakit tenggorokan, nyeri kepala, mialgia/artralgia, menggigil, mual/muntah, kongesti nasal, diare, nyeri abdomen, hemoptisis, dan kongesti konjungtiva. Sulitnya menentukan gejala spesifik ini berakibat pada sulitnya diagnosis COVID-19. Hingga saat ini, hanya ada dua cara yang digunakan yaitu uji virologi dan uji serologi.

Uji Virologi dalam Diagnosis Covid-19

Uji virologi merupakan uji yang direkomendasikan oleh WHO dan dianggap sebagai kontrol utama dalam diagnosis Covid-19. Uji virologi merupakan uji yang bertujuan untuk mengindentifikasi adanya virus dalam sampel. Metode yang direkomendasikan untuk uji virologi Covid-19 adalah amplifikasi asam nukleat dengan real-time Reverse Trancription Polymerase Chain Reaction (rRT-PCR). Sampel dikatakan positif (konfirmasi SARS-CoV-2) bila rRT-PCR positif pada minimal dua target genom (N, E, S, atau RdRP) yang spesifik SARS-CoV-2; atau rRT-PCR positif betacoronavirus, ditunjang dengan hasil sequencing sebagian atau seluruh genom virus yang sesuai dengan SARS-CoV-2.

Walaupun hasil pengujian dengan rRT PCR ini dinilai paling akurat, namun selalu ada harga dibalik itu. Uji rRT PCR hanya dapat dilakukan jika telah memenuhi standar, terutama terkait fasilitas. Pengerjaan pemeriksaan molekuler membutuhkan fasilitas dengan biosafety level 2 (BSL-2), sementara untuk kultur minimal BSL-3. Selain itu, bahan dan peralatan yang digunakan terbilang jarang terdapat pada lab penelitian di Indonesia. Hal ini menyebabkan ongkos untuk pengujian ini mahal, sekitar Rp 700 ribu per sampel. Waktu pengerjaannya juga terbilang lama. Setidaknya diperlukan waktu 6-7 jam untuk satu sampel. Beberapa alasan tersebut membuat metode rRT PCR kurang sesuai jika dijadikan satu-satunya pengujian terhadap Covid-19. Namun, metode rRT PCR dapat dijadikan pengujian lanjutan serta sebagai kontrol terhadap pengujian lainnya.

Selain uji virologi, terdapat uji serologis yang dapat digunakan dalam diagnosis Covid-19. Uji serologi dilakukan berdasarkan ikatan antigen-antibodi. Metode ini dapat mendeteksi adanya antibodi atau antigen yang terdapat dalam tubuh. Pada umumnya, uji serologis menggunakan sebuah label agar dapat diamati. Hal ini dikarenakan ikatan antigen-antibodi sangat sulit diamati. Perbedaan label ini menghasilkan beberapa teknik serologis yang berbeda. Beberapa label yang diguakan dalam uji serologis ialah enzim (ELISA/EIA), senyawa berfluoresen (IFA), senyawa radioaktif (RIA), dan luminescence (LIA).

Uji serologis dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi yang terbentuk dalam tubuh yang terinfeksi SARS-CoV-2. Antibodi tersebut dibentuk sebagai respon imun tubuh terhadap infeksi SARS-CoV-2. Sejauh ini pengujian serologis Covid-19 dilakukan dengan Immunochromatography (ICT), dimana sampel dibiarkan mengalir melalui sebuah penanda yang terdapat antigen. Jika sampel mengandung antibodi maka reaksi antibodi-antigen akan terjadi dan menghasilkan label yang dapat diamati (umumnya berupa strip berwarna). Proses pengujian serologis ini terbilang cepat yakni hanya butuh 10 menit untuk mendapatkan hasil. Oleh karena itu, pengujian ini dikenal dengan nama Rapid Test. Ongkos pengujian rapid test terbilang jauh lebih murah dibandingkan metode rRT PCR. Tempat pengujian juga tidak terlalu spesifik. Pengujian dapat dilakukan dimanapun, termasuk semua fasilitas kesehatan yang ada. Beberapa faktor tersebut menjadikan rapid test sebagai pengujian yang cukup efektif diterapkan di tengah pandemik.

Rapid test untuk Covid-19 menggunakan kit yang mengandung anti-IgM dan anti-IgG yang akan bereaksi dengan IgM dan IgG dari sampel. IgM dan IgG merupakan salah satu jenis antibodi yang diproduksi oleh tubuh manusia. Keduanya dipilih menjadi indikator dalam diagnosis Covid-19 karena kedua antibodi tersebut yang paling cepat dibentuk ketika ada infeksi. IgM dibentuk sekitar 3-6 hari setelah infeksi, sedangkan IgG dibentuk 8 hari setelah infeksi. Selain itu, antibodi tersebut tidak langsung hilang seiring hilangnya virus dalam tubuh. Pada dasarnya, rapid test digunakan untuk mendeteksi antibodi yang terbentuk, bukan mendeteksi virus SARS-CoV-2. Hal tersebut tentunya dapat mempengaruhi hasil dari pengujian, misalnya terdapat istilah false positive dan false negative.

False positive adalah keadaan dimana hasil rapid test seseorang dinyatakan positif namun sebenarnya tidak ada virus dalam tubuh sesorang tersebut. Hal ini tentu saja dapat terjadi jika pengujian dilakukan setelah virus itu hilang dari tubuh. Seperti yang kita tahu bahwa antibodi tidak akan langsung hilang seiring hilangnya infeksi virus.

False negative adalah keadaan dimana hasil rapid test seseorang negatif namun sebenarnya orang tersebut tengah terinfeksi virus SARS-CoV-2. Hal ini dapat terjadi jika pengujian dilakukan setelah infeksi virus namun sebelum terbentuknya antibodi. Seperti yang kita tahu bahwa antibodi tidak terbentuk seketika saat infeksi, namun beberapa hari setelah infeksi.

Strategi dalam Uji dan Diagnosis Covid-19

Terdapat cara untuk menanggulangi beberapa kekurangan dari masing-masing metode. Cara yang dapat ditempuh ialah melakukan rapid test sebagai pengujian awal. Jika hasil rapid test positif, maka dilanjut dengan pengujian dengan rRT PCR. Hal ini untuk mencegah terjadinya false positive. Jika hasil rapid test negatif, maka ditunggu sekitar satu minggu kemudian dilakukan pengujian ulang dengan rapid test. Hal ini untuk mencegah terjadinya false negative. Selain itu, pengujian harus dilakukan secara masif dan menyeluruh. Pengujian harus dilakukan kepada setiap individu dalam satu populasi agar dapat mendapat gambaran penyebaran secara komprehensif.

Referensi:

Susilo A, Rumende CM, Pitoyo CW, Santoso WD, Yulianti M, Herikurniawan, Sinto R, Singh G, Nainggolan L, Nelwan EL, et al. 2020. Coronavirus disease 2019: review of current literatures. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia. 7(1): 45-67.

Li Z, Yi Y, Luo X, Xiong N, Liu Y, Li S, Sun R, Wang Y, Hu B, Chen W, et al. 2020. Development and clinical application of a rapid IgM-IgG combined antibody test for SARS-CoV-2 infection diagnosis. Journal of Medical Virology. doi: 10.1002/jmv.25727.

Tulisan oleh Aziz Syamsul Huda, mahasiswa departemen Biokimia, Institut Pertanian Bogor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here