Categories
Ke-Indonesia-an Opini Renungan Uncategorized

POTENSI ZAKAT NASIONAL MENUTUP DEFISIT APBN

Analisis penyebab tingginya utang luar negeri serta potensi zakat nasional sebagai solusi menutup defisit anggaran dalam APBN Defisit anggaran dalam APBN dan pengaruhnya terhadap utang luar negeri. Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) merupakan neraca pembayaran atas seluruh faktor pembangunan nasional di dalam maupun luar negeri.

APBN Indonesia terdiri dari beberapa sumber dana masukan yaitu pajak, penghasilan negara sektor agraris, penghasilan negara sektor migas, penghasilan negara sektor industri dan utang luar negeri. Bentuk ideal perekonomian sebuah negara bahwa APBN dapat membiayai seluruh faktor pembangunan nasional yang berasal dari sumber dana non utang. Namun, pada kenyataannya APBN Indonesia selalu mengalami peningkatan defisit anggaran dari tahun ke tahun. Data Kementerian Keuangan menunjukan bahwa APBN Indonesia tahun 2013 mengalami defisit anggaran sebesar 153,3 triliun rupiah, dan pada tahun 2014 diproyeksikan APBN Indonesia mengalami defisit anggaran sebesar 156,3 triliun rupiah. Untuk menutup defisit tersebut maka pemerintah Indonesia meningkatkan penjualan Surat Utang Negara (SUN) ke luar negeri, sehingga dengan hal ini pemerintah dapat menutup defisit anggaran dalam APBN dari tahun ke tahun. Meningkatnya penjualan SUN oleh pemerintah Indonesia berdampak pada meningkatnya jumlah utang luar negeri yang harus ditanggung oleh pemerintah Indonesia. Statistik utang luar negeri Indonesia per Januari-Desember 2013 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia menunjukkan bahwa utang luar negeri Indonesia meningkat sebesar 7% pada tahun 2012-2013 dengan jumlah nominal sebesar 140,5 miliar dollar. Nominal ini akan terus bertambah dengan bunga yang harus dibayarkan pemerintah sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan. Pada tahun 2014 Bank Indonesia memproyeksikan bahwa utang luar negeri Indonesia akan meningkat sebesar 5% dengan perkiran jumlah nominal sebesar 147,75 miliar dollar. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki jumlah utang luar negeri yang cukup besar untuk dikembalikan. Berdasarkan data pertumbuhan ekonomi tahun 2013 bahwa Indonesia hanya mengalami kenaikan sebesar 2.5% sehingga, ahli ekonomi memperkirakan Indonesia tidak mampu membayar utang luar negeri dan hanya mampu membayar bunga dari utang tersebut tahun ini. Potensi zakat nasional sebagai solusi menutup defisit APBN Indonesia Zakat secara etimologi (lughat) memiliki beberapa makna, diantaranya adalah suci, sedangkan menurut syar’i zakat adalah sedekah tertentu yang diwajibkan dalam syari’ah terhadap harta golongan orang mampu secara finansial (muzakki) dan diberikan kepada orang yang berhak menerimanya (mustahiq). Hal ini dijelaskan dalam Q.S Al-Baqarah;267 “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Zakat dalam Islam terbagi menjadi dua jenis, yaitu zakat fitrah dan zakat maal. Zakat yang dibicarakan dalam hal ini adalah zakat maal, yaitu zakat terhadap harta yang sudah mencapai nisabnya dan harus dikeluarkan setiap tahun minimal 2.5% dari total harta yang dimiliki. Hikmah zakat dalam analisis makro ekonomi yaitu mengurangi kesenjangan pendapatan yang ada pada masyarakat sehingga mengurangi kesenjangan sosial meningkatkan konsumsi dan investasi negara secara agrerat yang mendorong laju pertumbuhan ekonomi nasional. Seperti diketahui bahwa mayoritas penduduk Indonesia merupakan penduduk muslim, yaitu sekitar 85% dari jumlah total penduduk Indonesia. Hal ini merupakan potensi yang besar sebagai pemasukan negara melalui zakat untuk menutupi defisit APBN. Dana zakat di Indonesia bersumber dari beberapa pihak, yaitu rumah tangga, sektor industri, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Budan Usaha Milik Swasta (BUMS) serta gaji pegawai negeri dan gaji pegawai swasta. Menurut hasil riset yang dilakukan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) tahun 2011 bahwa potensi zakat nasional dari seluruh sektor keuangan dan pribadi yang ada di Indonesia yaitu sekitar 217 triliun rupiah. Hal ini merupakan potensi yang besar apabila pemerintah Indonesia dapat mengelola dalam baik dan mengumpulkan dana zakat dari penduduk Indonesia dengan efisien. Jika diasumsikan utang luar negeri Indonesia sama dengan utang tahun 2013 sebagai tahun dasar yaitu sekitar 153,5 triliun rupiah, dan potensi zakat diasumsikan pula sebesar 217 triliun rupiah maka keuangan APBN Indonesia akan mengalami surplus sekitar 53,5 triliun rupiah. Selain itu, sisa surplus tersebut pula dapt digunakan untuk mencicil utang luar negeri Indonesia yang besar. Hal ini merupakan tantangan bagi pemerintah untuk mengumpulkan dan mengelola dana zakat nasional sebagai kebutuhan pemasukan APBN Indonesia tahun-tahun berikutnya. Peranan Baznas sebagai lembaga pengelola zakat serta masalah dan solusi dalam merealisasikan potensi zakat nasional. Baznas merupakan lembaga nasional yang menghimpun dan mengorganisir dana zakat dari masyarakat. Selain itu lembaga ini merupakan lembaga representatif dari Baitul Maal pada zaman Rasulullah SAW. Namun ketika zaman Rasulullah SAW fungsi Baitul Maal lebih luas daripada menghimpun dan menyalurkan zakat, tetapi sebagai lembaga keuangan sentral negara. Kesamaan antara Baznas dengan baitul maal ketika zaman Rasulullah yaitu mengandalkan sumber dana dari zakat nasional serta menyalurkan zakat yang terhimpun untuk pembangunan nasional. Realita yang terjadi di Indonesia saat ini adalah Baznas menyalurkan dana masih lebih banyak porsinya terhadap pembiyaan sektor riil secara langsung dibanding menyumbang pemasukan negara dalam APBN. Hal ini terjadi karena penyerapan zakat dari masyarakat oleh Baznas masih terlalu kecil, yaitu hanya sekitar 1% dari potensi zakat nasional yang telah dihitung, yaitu hanya 1.7 triliun rupiah dari potensi zakat nasional yang mencapai 217 triiliun rupiah. Rendahnya penyerapan zakat nasional terjadi karena beberapa hal, menurut survey yang dilakukan oleh Baznas menyebutkan bahwa ada tiga faktor penyebab penyerapan zakat nasional masih belum optimal, yaitu ketidakpercayaan masyarakat terhadap lembaga zakat nasional, kurang transparansi alokasi pengelolaan zakat oleh lembaga zakat, dan rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya manfaat dari zakat yang terorganisir secara nasional. Maka dari itu, Baznas melaksanakan lima strategi dalam meningkatkan zakat nasional yaitu sosialisasi, edukasi, regulasi, kordinasi dan sinergi dalam optimalisasi zakat. kelima program itu telah memulai dampak yakni kajian zakat yang mulai dijadikan studi pendidikan di berbagai perguruan tinggi. Baznas melakukan sosialisasi ke masyarakat untuk hal transparansi alokasi akat yang terhimpun, lalu edukasi tentang peranan dan kewajiban porsi zakat yang harus dikeluarkan dari harta yang dimiliki masyarakat. Selain itu, adanya regulasi ajakan berzakat di Baznas diatur dalam UU no.23 tahun 2011 menjadi acuan dasar Baznas dalam menyerap potensi zakat nasional. Kordinasi terhadap pemerintah daerah dan masjid-masjid di Indonesia yang umumnya menjadi tempat berzakat masyarakat menjadi penting dilakukan oleh Baznas. Sehingga harapannya Baznas dapat menyerap potensi zakat nasional secara optimal dan sebagai lembaga keuangan yang berperan dalam menutup defisit anggaran dalam APBN Indonesia.

Sumber :

-Yusanto, M. Ismail. 2009. Pengantar Ekonomi Islam. Bogor. Al-Azhar Press.

-Huda, Nurul. Dkk. 2009. Ekonomi Makro Islam ; pendekatan teoretis. Jakarta. Kencana Premada Media Group

-[Kemenkeu]. 2013. Infografis APBN-P 2013. www.kemenkeu.go.id (terhubung berkala). http://www.kemenkeu.go.id/Page/infografis-apbn-p-2013 (15 September 2014)

– [Republika]. 2013. Potensi zakat Rp. 217 T terserap satu persen.

www.republika.co.id (terhubung berkala). http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/syariah-ekonomi/13/04/29/mm039y-potensi-zakat-rp-217-triliun-terserap-satu-persen (15 September 2014)

Leave a Reply

Your email address will not be published.