Categories
KMNU IPB Uncategorized

Peringatan Isro Mi’roj KMNU IPB : Sami’na Wa Atho’na

Peringatan Isro Mi’roj KMNU IPB diadakan pada hari Sabtu, 8 Juni 2013 bertempat di sekretariat KMNU IPB Desa Cangkurawak, Kecamatan Dramaga, Bogor. Acara yang diselenggarakan secara sederhana namun penuh hikmad dan kebersamaan diawali dengan istighosah dan tahlil serta dipandu oleh Muhammad Amilin selaku anggota divisi kajian dan pelestarian tradisi. Dalam sambutan yang disampaikan oleh ketua KMNU IPB menyampaikan bahwa kesederhanaan acara ini jangan sampai menyurutkan semangat memaknai isro mi’roj. Acara dilanjutkan dengan dengan pembagian halaqoh oleh divisi Kajian dan pelestarian tradisi. Dalam halaqoh ini dibagi menjadi 3 kelompok putra dan 2 kelompok putri. Harapannya  halaqoh yang terbentuk dapat mempererat kedekatan dhohir maupun bathin anggota dan pengurus KMNU IPB.
Dalam sambutannya, Slamet Heri Kiswanto selaku  ketua Divisi kajian dan pelestarian tradisi menyampaikan bahwa halaqoh ini dibentuk agar anggota KMNU IPB tidak hanya taqlid buta semata sudah ada pakem-pakem aqidah dan fiqhiyyah yang telah dijadikan semacam buku saku untuk bisa dijadikan pedoman bagi peserta halaqoh bukan untuk mendoktrin siapapun. “NU merupakan cerminan pemgang aswaja yang masih original”, begitu tukasnya. “Jangan sampai adanya halaqoh ini malah menyulut untuk mencerca bahkan mengkafirkan orang lain karena kita ada untuk menaungi dan memfasilitasi teman-teman yang basic nya aswaja dan berfokus pada aqidah, akhlaq, dzikir, sholawat , dan muamalah.
Acara kemudian diselingi dengan  istighfar dan sholawat bersama dn dilanjutkan dengan sholat maghrib berjamaah. Malam harinya acara dilanjutkan dengan penyampaian mauidhoh hasanah oleh ustadz Ahmad Said pimpinan Majelis Ta’lim Al-Futuh , Bogor yai diawali dengan pembacaan Al-Qur’an oleh Slamet Heri Kiswanto. Pada kesempatan kali ini usatadz ahmad menyampaikan bahwa peristiwa Isro Mi’roj terjadi pada malam hari sebab untuk menyempurnakan kedudukan Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam sebagai manusia yang dicintai dan menjadi kekasih Allah ta’ala yang sebelum diberangkatkan beliau shollallahu ‘alaihi wasallam telah dibelah dadanya kemudian dibasuh dengan air zamzam sebagai persiapan mental dan hati.
Pelajaran yang dapat dipetik dalam peristiwa Isro Mi’roj salah satunya adalah pribadi Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan juga para Nabi yang jika mendapat perintah dari Allah segera dilaksanakan. Dalam bahasa Al-Qur’an istilahnya sami’naa wa ‘atho’naa”. Contohnya saja ketika Nabi Musa a.s ditantang oleh tukang sihir Raja Fir’aun dengan ular yang begitu banyak maka Allah perintahkan beliau untuk melemparkan tongkatnya. Padahal jika dilogikakan tongkat itu lebih baik di pukulkan ke salah satu ular yang akan menyerang Nabi Musa as, namun beliau patuh perintah Allah ta’ala tanpa berpikir panjang terlebih dahulu dan memang atas izin Allah tongkat itu berubah menjadi ular besar yang memakan ular-ular kecil hasil sihir tukang sihir Nabi Musa a.s. contoh lainnya adalah ketika peristiwa Isro Mi’roj , setelah Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam naik Buroq lalu turun di Madinah, saat itu Rosulullah diperintah oleh malaikat Jibril untuk sholat 2 rokaat dan beliau langsung melkasanakan tidak bertanya terlebih dahulu, beliau baru bertanya setelah menunaikan perintah. Dan jika kita telah melaksanakan perintah maka jangan takut dan resah sebab Allah ada untuk menjaga kita. Pelajaran ini sesuai dengan kejadian yang terjadi pasca Isro Mi’roj.
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan perintah dari Allah untuk mengabarkan peristiwa Isro Mi’roj kepada orang-orang Makkah. Saat itu , Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pergi menemui khalayak ramai. Lalu beliau menceritakan peristiwa Isro Mi’roj yang beliau alami semalam kepada kafir Quraisy. Banyak dari kafir Quraisy yang menganggap Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam  gila. Kemudian Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam ditanya oleh salah seorang kafir Quraisy tentang bukti-bukti yang meyakinkan akan kebenaran peristiwa Isro Mi’roj dan Rosulullah dapat menjawab semua pertanyaan itu kecuali pertanyaan tentang Baitul Maqdis. Dan saat itulah Rosulullah sa shollallahu ‘alaihi wasallam mulai berkeringat dingin namun beliau shollallahu ‘alaihi wasallam tetap yakin Allah ta’ala akan menolongnya. Lalu datanglah malaikat Jibril yang membentangkan sayapnya dan dari sayap itulah diperlihatkan gambaran tentang Baitul Maqdis sehingga Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam  dapat menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh kaum kafir Quraisy.
Sebagai penutup ustacz Ahmad menambahkan bahwa kemantapan hati dalam beribadah (antah apapun bentuk ibadahnya) akan dapat dirasakan jika telah pada taraf ahliyyahdan jalannya harus mampunyai guru karena orang yang tidak mempunyai guru maka syaitan lah yang menjadi gurunya. Ada 4 model guru, yaitu : (1) Syaikhul fatah (guru yang membuka hati kita menapaki iman, islam, dan ihsan hingga mantap menempuh jalan yang lurus menuju Allah), (2) Syaikhul tahkim (guru yang mampu membuat kita sami’na wa ‘atho’na kepada semua hal yang beliau perintahkan maupun larang), (3) Syaikhut tabarruk (guru yang kita ambil keberkahannya setelah kita berkelana mencari ilmu), (4) Syaikhut ta’alluq (guru yang membuat kita mempunyai ikatan bathin yang sangat kuat dengan beliau sehingga dimanapun dan kapanpun kita berada akan selalu teringat pada beliau). Ketika kita sedang tholabul ‘ilmi misalnya menghadiri sebuah majelis maka Allah akan turunkan cahaya hidayah melalui orang yang menjadi guru dalam majelis tersebut kemudian menyalurkannya dalam hati orang-orang yang hatinya telah siap. Jika hidayah telah masuk ke dalam hatinya maka lapang lah hati tersebut. Acara ditutup dengan pembacaan lantunan sholawat dalam Maulid Ad-Dibai buah karya Imam Abdurrahman Ad-Dibai oleh seluruh jamaah yang hadir dengan penuh hikmad.
fa idzar taqoo ‘alal kaunaini ‘alal kaunaini wanfashola ‘anil ‘aalamiin
wa washola ilaa qoobi qousaini kuntu lahuu anan nadiima wal mukhootib
“Apabila ia (Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam) naik, melintas dua alamdan terpisah dari dua alam Dan sampai pada tempat yang dekat sejarak dua busur panah maka Aku (Allah) lah yang menemaninya dan berbicara kepadanya.”

(cuplikan peristiwa Isro Mi’roj Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dalam Maulid Ad-Dibai).
Rekaman Pengajian dapat didownload di http://kmnu-ipb.net/p/download.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.