Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Perdamaian dan Demokrasi

KMNU IPB - “Kehadiran Islam Indonesia yang direpresentasikan oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama mampu menjadi oase dan kiblat baru bagi masa depan Islam di dunia.”Buya Syafii Maarif.Identitas bukuJudul                 :Dua Menyemai Damai: Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Peradamaian dan Demokrasi.Penulis               :Muhammad Nadjib Azca, Hairus Salim, Moh Zaki Arrobi, Budi Syafii, Ali Usman.Tahun Terbit      : 2019Kota terbit         : Yogyakarta, Indonesia.Jumlah halaman: 252Penerbit             :Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian, Universitas Gadjah MadaSiapa yang tidak kenal dua organisasi Islam besar Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama? Kedua organisasi ini digadang-gadang sebagai representasi Islam bercorak keindonesiaan yang damai, demokratis, dan berkeadaban. Lalu, bagaimana sebenarnya peran dua organisasi ini dalam pembangunan perdamaian dan demokrasi di kancah nasional, regional, dan bahkan internasional?Peran-peran tersebut disajikan buku “Dua Menyemai Damai, Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Perdamaian dan Demokrasi” Buku ini disusun dan diterbitkan oleh Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gadjah Mada sebagai sebuah narasi damai di tengah kemelut atmosfer tahun politik 2018-2019 di Indonesia.Muhammadiyah dan NU menjadi salah satu aktor utama dalam demokratisasi negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia pasca jatuhnya otoritarianisme Orde Baru. Bentuk kontribusi Muhammadiyah dan NU pada era transisi demokrasi ini terlihat dari peran pimpinan kedua ormas ini yaitu Prof Dr Amien Rais dan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Keduanya bahkan sempat menduduki dua jabatan tertinggi di Indonesia, Amien Rais sebagai Ketua MPR-RI dan Gus Dur sebagai Presiden RI.Wujud kontribusi lainnya adalah ranting-ranting Muhammadiyah dan NU yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia mempunyai kekuatan struktural dan kultural yang telah membangun narasi damai dan konsolidasi demokrasi. Upaya Muhammadiyah dan NU berkembanh ke kontribusi pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi, filantropi, kebencanaan, dan, yang sudah jelas, dakwah.Selama ini, kedua organisasi menjadi semacam representasi Islam damai dan “antidot” dari narasi besar Islam sebagai agama yang intoleran dan aktor konflik di kancah global. Di kancah internasional Muhammadiyah aktif dalam kegiatan filantropi dan bantuan kemanusiaan yang direalisasikan dalam pembangunan rumah sakit dan sekolah di Myanmar dan Palestina serta beasiswa untuk komunitas Mindanao di Filipina dan Pattani di Thailand Selatan. Sedangkan NU berkomitmen dalam ikhtiar mencari resolusi konflik dan bina damai misalnya di Afghanistan dan Palestina. Buku ini menjelaskan dengan runtut, lengkap, ringkas dan gamblang mengenai sejarah dan arah pergerakan Muhammadiyah dan NU di ranah demokrasi dan perdamaian. Ingin mengetahui dan membaca lebih lanjut? Buku ini tersedia gratis secara daring, unduh disini

KMNU IPB – “Kehadiran Islam Indonesia yang direpresentasikan oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama mampu menjadi oase dan kiblat baru bagi masa depan Islam di dunia.”

Buya Syafii Maarif.

Identitas buku

Judul                 :Dua Menyemai Damai: Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Peradamaian dan Demokrasi.

Penulis               :Muhammad Nadjib Azca, Hairus Salim, Moh Zaki Arrobi, Budi Syafii, Ali Usman.

Tahun Terbit      : 2019

Kota terbit         : Yogyakarta, Indonesia.

Jumlah halaman: 252

Penerbit             :Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian, Universitas Gadjah Mada

Siapa yang tidak kenal dua organisasi Islam besar Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama? Kedua organisasi ini digadang-gadang sebagai representasi Islam bercorak keindonesiaan yang damai, demokratis, dan berkeadaban. Lalu, bagaimana sebenarnya peran dua organisasi ini dalam pembangunan perdamaian dan demokrasi di kancah nasional, regional, dan bahkan internasional?

Peran-peran tersebut disajikan buku “Dua Menyemai Damai, Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Perdamaian dan Demokrasi” Buku ini disusun dan diterbitkan oleh Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gadjah Mada sebagai sebuah narasi damai di tengah kemelut atmosfer tahun politik 2018-2019 di Indonesia.

Muhammadiyah dan NU menjadi salah satu aktor utama dalam demokratisasi negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia pasca jatuhnya otoritarianisme Orde Baru. Bentuk kontribusi Muhammadiyah dan NU pada era transisi demokrasi ini terlihat dari peran pimpinan kedua ormas ini yaitu Prof Dr Amien Rais dan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Keduanya bahkan sempat menduduki dua jabatan tertinggi di Indonesia, Amien Rais sebagai Ketua MPR-RI dan Gus Dur sebagai Presiden RI.

Wujud kontribusi lainnya adalah ranting-ranting Muhammadiyah dan NU yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia mempunyai kekuatan struktural dan kultural yang telah membangun narasi damai dan konsolidasi demokrasi. Upaya Muhammadiyah dan NU berkembanh ke kontribusi pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi, filantropi, kebencanaan, dan, yang sudah jelas, dakwah.

Selama ini, kedua organisasi menjadi semacam representasi Islam damai dan “antidot” dari narasi besar Islam sebagai agama yang intoleran dan aktor konflik di kancah global. Di kancah internasional Muhammadiyah aktif dalam kegiatan filantropi dan bantuan kemanusiaan yang direalisasikan dalam pembangunan rumah sakit dan sekolah di Myanmar dan Palestina serta beasiswa untuk komunitas Mindanao di Filipina dan Pattani di Thailand Selatan. Sedangkan NU berkomitmen dalam ikhtiar mencari resolusi konflik dan bina damai misalnya di Afghanistan dan Palestina. Buku ini menjelaskan dengan runtut, lengkap, ringkas dan gamblang mengenai sejarah dan arah pergerakan Muhammadiyah dan NU di ranah demokrasi dan perdamaian. Ingin mengetahui dan membaca lebih lanjut? Buku ini tersedia gratis secara daring, unduh disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *