Penyandang Disabilitas dalam Dunia Perawi Hadis

0
50
Disabilitas yang disandang oleh seseorang tidak menghalangi orang tersebut untuk berkarya dan berprestasi. Sejatinya, ketidaksempurnaan merupakan sesuatu yang melekat pada setiap insan bahkan segala ciptaan. Ajaran Islam menekankan bahwa ketidaksempurnaan pada diri seseorang termasuk penyandang disabilitas seharusnya menjadi sarana untuk berdamai dengan kondisi dan tidak berputus asa terhadap rahmat Allah. Allah berfirman dalam Alquran surah al-Mulk: 1-2;“Mahasuci Dzat yang dalam genggamnya kerajaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa di antara kalian yang paling baik amal perbuatannya. Dia Mahamulia lagi Maha Mengampuni.”   Sosok dengan disabilitas dikenal dan turut mewarnai perkembangan agama Islam contohnya dalam dunia periwayatan (rawi) hadis Nabi saw. Sebenarnya tidak ada pelarangan seorang difabel atau penyandang disabilitas menjadi perawi hadis profesional. Aspek yang terpenting adalah sejauh mana orang tersebut memenuhi kriteria menjadi perawi yang kredibel. Paling tidak ada lima kriteria utama:Ketaatan menjalankan agama (adl),Memiliki hafalan yang baik (dabth),Dapat dibuktikan pertemuan dengan gurunya (ittishal sanad),Tidak bertentangan dengan hadis lain (syaddz), danTidak ada cacat yang tersembunyi (illat).Meskipun seseorang memiliki keterbatasan fisik namun dapat memenuhi kriteria tersebut dan adapat diuji secara adil menggunakan standar-standar ilmu hadis orang tersebut dapat dikategorikan sebagai perawi yang andal dan periwayatannya dianggap sahih. Ibnu Hibban, seorang ulama hadis terkemuka dan kritikus professional perawi hadis, menyebutkan tidak kurang dari 14 orang perawi berkualitas penyandang disabilitas kebutaan di dalam kitabnya al-Tsiqat.Salah satu perawi  tersebut yaitu Abu Mu’awiyah yang bernama lengkap Muhammad bin Khazim al-Kufi. Abu Mu’awiyah dicatat pernah belajar kepada ulama-ulama besar seperti Hisyam bin Urwah, keponakan dari Aisyah, istri Nabi saw. Abu Mu’awiyah merupakan guru dari Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in, keduanya merupakan kritikus rawi terkemuka yang sampai sekarang pernyataan mereka selalu dikutip. Salah satu sosok ulama penyandang disabilitas kebutaan lain adalah Hafsh bin Umar Abu Umar al-Dharir. Ibnu Hibban mencatat bahwa Hafsh bin Umar selain seorang perawi hadis yang andal juga ahli dan mengusai ilmu waris (fara’id), astronomi (hisab), sastra (puisi), sejarah Arab kuno, dan ilmu fikih.Hal ini menunjukkan bahwa pada masa kedua tokoh besar itu terdapat kesempatan bagi siapapun untuk belajar dan berkembang serta adanya apresiasi terhadap karya orang lain tanpa melihat kekurangan fisik yang ada pada seseorang. Dengan lingkungan yang mendukung dapat menimbulkan motivasi yang kuat dari dalam diri penyandang disabilitas untuk berkarya sesuai dengan minat mereka. Dengan begitu, sosok dengan karya dan prestasi besar dapat muncul dari penyandang disabilitas. (HR)Sumber: Huda MK. 2015. Para Ahli Hadis Difabel. Pekalongan (ID): Menara Publisher.

Disabilitas yang disandang oleh seseorang tidak menghalangi orang tersebut untuk berkarya dan berprestasi. Sejatinya, ketidaksempurnaan merupakan sesuatu yang melekat pada setiap insan bahkan segala ciptaan. Ajaran Islam menekankan bahwa ketidaksempurnaan pada diri seseorang termasuk penyandang disabilitas seharusnya menjadi sarana untuk berdamai dengan kondisi dan tidak berputus asa terhadap rahmat Allah. Allah berfirman dalam Alquran surah al-Mulk: 1-2;

“Mahasuci Dzat yang dalam genggamnya kerajaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa di antara kalian yang paling baik amal perbuatannya. Dia Mahamulia lagi Maha Mengampuni.”   

Sosok dengan disabilitas dikenal dan turut mewarnai perkembangan agama Islam contohnya dalam dunia periwayatan (rawi) hadis Nabi saw. Sebenarnya tidak ada pelarangan seorang difabel atau penyandang disabilitas menjadi perawi hadis profesional. Aspek yang terpenting adalah sejauh mana orang tersebut memenuhi kriteria menjadi perawi yang kredibel. Paling tidak ada lima kriteria utama:

  1. Ketaatan menjalankan agama (adl),
  2. Memiliki hafalan yang baik (dabth),
  3. Dapat dibuktikan pertemuan dengan gurunya (ittishal sanad),
  4. Tidak bertentangan dengan hadis lain (syaddz), dan
  5. Tidak ada cacat yang tersembunyi (illat).

Meskipun seseorang memiliki keterbatasan fisik namun dapat memenuhi kriteria tersebut dan adapat diuji secara adil menggunakan standar-standar ilmu hadis orang tersebut dapat dikategorikan sebagai perawi yang andal dan periwayatannya dianggap sahih. Ibnu Hibban, seorang ulama hadis terkemuka dan kritikus professional perawi hadis, menyebutkan tidak kurang dari 14 orang perawi berkualitas penyandang disabilitas kebutaan di dalam kitabnya al-Tsiqat.

Salah satu perawi  tersebut yaitu Abu Mu’awiyah yang bernama lengkap Muhammad bin Khazim al-Kufi. Abu Mu’awiyah dicatat pernah belajar kepada ulama-ulama besar seperti Hisyam bin Urwah, keponakan dari Aisyah, istri Nabi saw. Abu Mu’awiyah merupakan guru dari Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in, keduanya merupakan kritikus rawi terkemuka yang sampai sekarang pernyataan mereka selalu dikutip. Salah satu sosok ulama penyandang disabilitas kebutaan lain adalah Hafsh bin Umar Abu Umar al-Dharir. Ibnu Hibban mencatat bahwa Hafsh bin Umar selain seorang perawi hadis yang andal juga ahli dan mengusai ilmu waris (fara’id), astronomi (hisab), sastra (puisi), sejarah Arab kuno, dan ilmu fikih.

Hal ini menunjukkan bahwa pada masa kedua tokoh besar itu terdapat kesempatan bagi siapapun untuk belajar dan berkembang serta adanya apresiasi terhadap karya orang lain tanpa melihat kekurangan fisik yang ada pada seseorang. Dengan lingkungan yang mendukung dapat menimbulkan motivasi yang kuat dari dalam diri penyandang disabilitas untuk berkarya sesuai dengan minat mereka. Dengan begitu, sosok dengan karya dan prestasi besar dapat muncul dari penyandang disabilitas. (HR)

Sumber: Huda MK. 2015. Para Ahli Hadis Difabel. Pekalongan (ID): Menara Publisher.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here