Categories
Opini Uncategorized

Pemimpin Cerminan Rakyatnya (?)

Semua bisa salah, Profesor bisa salah, ilmuwan bisa salah, politikus bisa salah, mahasiswa juga sering salah. Apalagi pemerintah, juga bisa salah. Maka, jika yang saya sampaikan ini semua salah, karena saya manusia, tetapi jika benar hanya dari Allah swt.

Hampir setiap hari kita mendengar analisis, ungkapan, kesimpulan, persepsi-persepsi dari ilmuwan hingga hujatan orang awam tentang pemerintahan di negeri kita. Negara yang menganut paham demoktrasi, dengan mayoritas penduduknya beragama Islam ini sering pemerintahnya dikecam karena dianggap kurang memihak pada rakyat kecil. Dan tidak sedikit dari umat Islam pula yang kurang setuju dengan demokrasi. Demokrasi hanya dianggap sebagai adopsi sistem pemerintahan negara-negara barat. Misalnya saja demokrasi ala Yunani, itu kan hanya bagaimana masyarakat bermusawarah menentukan X dan Y dalam proses bernegara. Sungguh ini adalah pola pikir yang sangat terbatas, atau mereka memang sengaja membatasi pola pikir mereka sendiri. Cara berfikir seperti  ini akan membuat kita tidak bisa adil dalam menatap fenomena-fenomena sosial, terutama perilaku yang men”dewa”kan pemerintah atau malah menghujat habis-habisan pemerintah.

Padahal, sumber utama kesejahteraan pada hakikatnya adalah masyarakat negara itu sendiri. Adapun “Produsen Agung”-nya tentu saja Allah. Itulah yang secara rutin menjadi bahan pusingnya penguasa. Orang yang mengagung agungkan penguasa, memandang penguasa itu bisa sebagai juru sejahtera, juru selamat, dan mereka tidak sadar telah menyebutkan kata-kata yang menyekutukan Tuhan, “Saya yakin hanya presiden X yang bisa membuat masyarakat sejahtera. ”Tanpa bercermin pada dirinya sendiri, bahwa dirinya tidak mau berjuang untuk kesejahteraannya, sehingga di negeri ini sangat minim orang yang mau menciptakan usaha sendiri, mereka berduyun-duyun ketika pemerintah membuka lowongan pekerjaan. Tentu sangat banyak dari mereka yang niatnya bukan untuk mengabdikan diri pada negara, ya boro-boro untuk niat itu, paling ya Cuma niat ngganduli pemerintah, dengan gaji yang tiap bulan sudah tertera jelas nominalnya. Ya itu hanya contoh kecil.

Sesungguhnya rakyat yang lebih banyak mencaci maki pemimpinnya daripada berdoa untuk kebaikan pemimpinnya adalah manusia yang tidak memahami al-Qur’an dan Sunnah. Sedangkan di Al-Qur’an tertera dengan jelas “ulil amri minkum”. Alkisah, ada seorang sahabat yang datang menghampiri Khalifah Ali bin Abi Thalib dan bertanya. Mengapa rakyatmu saat ini tidak patuh kepadamu sebagai seorang khalifah tidak seperti di zaman Umar bin Khattab? Kemudian Sayyidina Ali menjawab, karena ketika Umar menjadi khalifah, yang menjadi rakyatnya adalah saya dan Utsman. Sedangkan ketika saya menjadi khalifah, rakyatnya adalah kalian yang tidak patuh. Pernyataan Khalifah Ali ini tentu menjadi tamparan keras bagi si penanya, bahwa sosok pemimpin itu merupakan cerminan dari rakyatnya.

Lalu bagaimanakah sikap kita terhadap pemimpin sedangkan virus tersebut telah menyerang penalaran, menurut dawuh Gus Mus, bersikaplah sedang-sedang saja dalam segala hal. Bersikap sedang-sedang saja bukan berarti acuh tak acuh dengan pemimpin, tetapi hindarilah sikap berlebihan dalam mengagungkan maupun membenci pemimpin, ungkap beliau.

Kita tahu bahwa republik ini didirikan oleh anak muda, didirikan oleh kaum terdidik, didirikan oleh semangat gagasan menjadi Indonesia. Sebagai kelompok masyarakat yang dianggap sebagai kaum terdidik, sudah seharusnya kita tidak hanya berfikir, tanpa ada tindakan nyata. Cukup mulai dari diri kita, kita bertekad untuk memajukan diri kita. Jika ada satu juta orang saja yang berfikiran dan bertindak, maka bukan hal yang tidak mungkin untuk membuat negara kita maju dan mandiri. Bertindaklah dengan hati, pikiran dan lisan disertai sikap rendah diri kepada-Nya. Awali dengan rasa syukur kita telah menjadi bagian dari Indonesia yang kaya dengan dengan berbagai sumberdaya alam.

Kalau kita adalah manusia Indonesia yang sudah terlalu capek memimpikan harapan-harapan akan perubahan mendasar di Indonesia mulailah dengan memperbaiki diri pribadi. Jangan selalu menyalahkan orang lain tanpa mengoreksi diri. Karena negara yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghoffur terwujud sebab peran baik rakyatnya.

 

 

Sumber gambar : http://gemmagazines.net

Leave a Reply

Your email address will not be published.