Pandhawa Pengejawantahan Rukun Islam

0
403
Wayang merupakan budaya khas yang sudah lama berada di Indonesia. Wayang ada sebelum masa walisongo. Berkat kecerdasan dan kecerdikan Kanjeng Sunan Kalijogo, wayang dapat dijadikan media dakwah. Mungkin inilah dasar orang Jawa sering menggunakan istilah “othak athik mathuk”. Cerita wayang yang bersifat ke-Hindu-an dimualafkan dengan seksama dan dalam tempo yang seirama. Sebut saja mulai dari tokoh-tokoh wayang di “Pandhawa Lima”. Kelima tokoh pandhawa itu mencerminkan Rukun Islam yang wajib diimani oleh umat Islam. Tidak hanya dari segi jumlah, namun dari segi keilmuan dan postur tubuh masing-masing tokoh juga bermakna komprehensif. Yudhistira Tokoh pertama dari Pandhawa adalah sang sulung yaitu Yudhistira atau biasa disebut Puntadewa, Dharmakusuma, dll. Yushistira bermakna kokoh/teguh pendirian, Puntadewa bermakna kedamaian, Dharmakusuma bermakna kebenaran yang elok. Yudistira juga memiliki jimat yang bernama “Jimat Kalimasada”. Yudistira ini dapat diasosiasikan dengan Rukun Islam yang pertama, yaitu Syahadat. Jimat Kalimasada sendiri merupakan buatan para walisongo yang sebenarnya adalah Kalimat Syahadat. Dalam ber-Islam maka hendaknya harus mengucap Kalimat Syahadat terlebih dahulu dengan lisan dan hati. Kemudian dalam berislam adalah jalan menuju kedamaian menuju jiwa yang kokoh, dan mengamalkan kebenaran yang indah. Seperti itulah wajah Islam seharusnya, tidak sumbu pendek namun indah dari jauh maupun dekat. Selain itu, dikisahkan bahwa Yudistira memiliki darah putih yang tidak dimiliki oleh para tokoh wayang lainnya. Putih ini dapat dimaknai suci, bahwa islam memanglah jalan menuju kesucian. Bima Tokoh kedua adalah Panenggak Pandhawa, yaitu Bima, Bima memiliki nama lain Werkudara, Bratasena, Abilawa, Sena, Dandunwacana, Gandawastraatmaja, dll.  Nama Bima berarti dahsyat dan hebat. Bima memiliki postur tubuh tinggi, besar, dan gagah. Bima dikisahkan juga pernah disuruh mencari Tirta Pawitasari dan Kayu Gung Susuhing Angin, yang sebenarnya tidak ada keberadaanya oleh Durna. Walaupun tidak menemukan keduanya, Bima berhasil menemukan Dewa Ruci yang sejatinya adalah Sangkan Paraning Dumadi. Tokoh Bima ini sangat terkait dengan Rukun Islam yang kedua, yaitu Sholat. Sholat hukumnya wajib, memaksa, mengikat, dan tanpa kompromi, sholat tidak dapat ditinggal oleh penganut islam siapapun. Sifat sholat yang begitu tegas dalam Rukun Islam sangat sesuai dengan karakter Bima yang tegas dan adil dalam perbuatan. Tubuh tegap dan tinggi dapat menjadi isyarat dari para wali, bahwa sholat itu tiangnya agama. Selain itu, perjalanan spiritualnya dalam menemukan Sang Ruci juga sesuai dengan Shalat yang merupakan perjalanan spiritual Umat Islam berserah diri kepada Alloh subhanahu wa ta’ala. Arjuna Tak berbeda dengan kakak kakaknya, Arjuna juga memiliki beberapa nama, di antaranya Premadi, Dananjaya, Ciptoning, Parta, dll. Arjuna memiliki paras yang sangat tampan dan digandrungi oleh banyak kaum hawa. Selain itu, Arjuna juga gemar bertapa dan sering sekali mendapatkan wahyu/berkat dari para dewa. Kegemaran tapa dari para dewa ini sangat erat kaitannya dengan Rukun Islam Puasa. Puasa layaknya orang bertapa, hukumnya wajib dan diharapkan dengannya mendapat keridhoan Alloh. Puasa juga tidak wajib bagi yang tidak mampu, sama seperti tapa Arjuna, hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu melaksanakannya. Puasa (Bulan Ramadhan) juga merupakan waktu diturunkannya Wahyu Allah yaitu Alquran yang bisa dikaitkan dengan turunnya wahyu-wahyu kepada Arjuna. Nakula dan Sadewa Si kembar Pandhawa yaitu Nakula dan Sadewa yang juga memiliki budi pekerti baik. Keduanya merupakan tokoh terakhir dari para pandhawa. Ketika membicarakan Nakula, tidak dapat dipisahkan dari Sadewa, begitu pula sebaliknya. Kedua tokoh ini tidak banyak ceritanya dibandingkan dengan ketiga kakaknya, namun kedua tokoh pamungkas pandhawa ini memiliki cerita yang sangat unik salah satunya meruwat Dewi Uma. Lakon cerita tersebut jarang dimainkan begitu pula dengan zakat dan haji. Zakat dan haji tidak dilakukan setiap hari namun pada masa masa tertentu dan diwajibkan hanya bagi yang mampu, sesuai dengan busana Nakula dan Sadewa yang bisa dibilang paling lengkap dan rapih dibanding kakak kakaknya. Dari kelima tokoh itulah para walisongo berusaha mengenalkan Islam dengan wajah yang indah, lembut, dan damai. Metode dakwah walisongo sangat sesuai dengan kondisi kultur budaya masyrakat Indonesia, khusunya Pulau Jawa. Seperti ungkapan seorang bijak “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, walisongo berusaha menghadirkan langit budaya yang selaras dengan ajaran Islam.  [Septian Fajar Bima] edited by Mila

Wayang merupakan budaya khas yang sudah lama berada di Indonesia. Wayang ada sebelum masa walisongo. Berkat kecerdasan dan kecerdikan Kanjeng Sunan Kalijogo, wayang dapat dijadikan media dakwah. Mungkin inilah dasar orang Jawa sering menggunakan istilah “othak athik mathuk”. Cerita wayang yang bersifat ke-Hindu-an dimualafkan dengan seksama dan dalam tempo yang seirama. Sebut saja mulai dari tokoh-tokoh wayang di “Pandhawa Lima”. Kelima tokoh pandhawa itu mencerminkan Rukun Islam yang wajib diimani oleh umat Islam. Tidak hanya dari segi jumlah, namun dari segi keilmuan dan postur tubuh masing-masing tokoh juga bermakna komprehensif.

Yudhistira

Tokoh pertama dari Pandhawa adalah sang sulung yaitu Yudhistira atau biasa disebut Puntadewa, Dharmakusuma, dll. Yushistira bermakna kokoh/teguh pendirian, Puntadewa bermakna kedamaian, Dharmakusuma bermakna kebenaran yang elok. Yudistira juga memiliki jimat yang bernama “Jimat Kalimasada”. Yudistira ini dapat diasosiasikan dengan Rukun Islam yang pertama, yaitu Syahadat. Jimat Kalimasada sendiri merupakan buatan para walisongo yang sebenarnya adalah Kalimat Syahadat. Dalam ber-Islam maka hendaknya harus mengucap Kalimat Syahadat terlebih dahulu dengan lisan dan hati. Kemudian dalam berislam adalah jalan menuju kedamaian menuju jiwa yang kokoh, dan mengamalkan kebenaran yang indah. Seperti itulah wajah Islam seharusnya, tidak sumbu pendek namun indah dari jauh maupun dekat. Selain itu, dikisahkan bahwa Yudistira memiliki darah putih yang tidak dimiliki oleh para tokoh wayang lainnya. Putih ini dapat dimaknai suci, bahwa islam memanglah jalan menuju kesucian.

Bima

Tokoh kedua adalah Panenggak Pandhawa, yaitu Bima, Bima memiliki nama lain Werkudara, Bratasena, Abilawa, Sena, Dandunwacana, Gandawastraatmaja, dll.  Nama Bima berarti dahsyat dan hebat. Bima memiliki postur tubuh tinggi, besar, dan gagah. Bima dikisahkan juga pernah disuruh mencari Tirta Pawitasari dan Kayu Gung Susuhing Angin, yang sebenarnya tidak ada keberadaanya oleh Durna. Walaupun tidak menemukan keduanya, Bima berhasil menemukan Dewa Ruci yang sejatinya adalah Sangkan Paraning Dumadi. Tokoh Bima ini sangat terkait dengan Rukun Islam yang kedua, yaitu Sholat.

Sholat hukumnya wajib, memaksa, mengikat, dan tanpa kompromi, sholat tidak dapat ditinggal oleh penganut islam siapapun. Sifat sholat yang begitu tegas dalam Rukun Islam sangat sesuai dengan karakter Bima yang tegas dan adil dalam perbuatan. Tubuh tegap dan tinggi dapat menjadi isyarat dari para wali, bahwa sholat itu tiangnya agama. Selain itu, perjalanan spiritualnya dalam menemukan Sang Ruci juga sesuai dengan Shalat yang merupakan perjalanan spiritual Umat Islam berserah diri kepada Alloh subhanahu wa ta’ala.

Arjuna

Tak berbeda dengan kakak kakaknya, Arjuna juga memiliki beberapa nama, di antaranya Premadi, Dananjaya, Ciptoning, Parta, dll. Arjuna memiliki paras yang sangat tampan dan digandrungi oleh banyak kaum hawa. Selain itu, Arjuna juga gemar bertapa dan sering sekali mendapatkan wahyu/berkat dari para dewa. Kegemaran tapa dari para dewa ini sangat erat kaitannya dengan Rukun Islam Puasa. Puasa layaknya orang bertapa, hukumnya wajib dan diharapkan dengannya mendapat keridhoan Alloh. Puasa juga tidak wajib bagi yang tidak mampu, sama seperti tapa Arjuna, hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu melaksanakannya. Puasa (Bulan Ramadhan) juga merupakan waktu diturunkannya Wahyu Allah yaitu Alquran yang bisa dikaitkan dengan turunnya wahyu-wahyu kepada Arjuna.

Nakula dan Sadewa

Si kembar Pandhawa yaitu Nakula dan Sadewa yang juga memiliki budi pekerti baik. Keduanya merupakan tokoh terakhir dari para pandhawa. Ketika membicarakan Nakula, tidak dapat dipisahkan dari Sadewa, begitu pula sebaliknya. Kedua tokoh ini tidak banyak ceritanya dibandingkan dengan ketiga kakaknya, namun kedua tokoh pamungkas pandhawa ini memiliki cerita yang sangat unik salah satunya meruwat Dewi Uma. Lakon cerita tersebut jarang dimainkan begitu pula dengan zakat dan haji. Zakat dan haji tidak dilakukan setiap hari namun pada masa masa tertentu dan diwajibkan hanya bagi yang mampu, sesuai dengan busana Nakula dan Sadewa yang bisa dibilang paling lengkap dan rapih dibanding kakak kakaknya.

Dari kelima tokoh itulah para walisongo berusaha mengenalkan Islam dengan wajah yang indah, lembut, dan damai. Metode dakwah walisongo sangat sesuai dengan kondisi kultur budaya masyrakat Indonesia, khusunya Pulau Jawa. Seperti ungkapan seorang bijak “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, walisongo berusaha menghadirkan langit budaya yang selaras dengan ajaran Islam.

[Septian Fajar Bima] edited by Mila

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here