IPB Siap KKN?

(Gandawastraatmaja)

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan “IPB dilema KKN” yang kemarin saya opinikan dalam rubrik KMNU IPB. Judul “IPB siap KKN?” saya rasa tepat karena begitu prematurnya persiapan persiapan yang ada dan menimbulkan kesan bahwa KKN (Kuliah Kerja Nyata) IPB dipaksakan dengan berbagai alasan dan dianggap TIDAK SIAP.

Kabar pertama menyatakan bahwa IPB mengadakan KKN di bulan Juni, Juli, dan Agustus agar masa studi mahasiswa program sarjana dapat lulus tepat waktu alias tidak terlambat, mengingat kalau mahasiswa telat lulus, IPB juga akan tercoreng secara nilai akreditasi. Kabar kedua menyatakan IPB mengadakan KKN agar Praktik Lapang mahasiswa di Bulan Desember dan Januari tidak terganggu. Kabar ketiga menyatakan kegiatan ini dilakukan agar penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa tingkat akhir tidak terhambat. Kabar keempat menyatakan KKN dilakukan sebagai pemenuhan dharma ketiga Tridharma Perguruan Tinggi dan masih banyak kabar kabar yang berseliweran di jagat sosial maya saat ini. Intinya kabar kabar itu membuat kesan yang tidak siap bagi peserta KKN seperti saya.

Ketidaksiapan IPB dalam menghadapi KKN sudh terlihat sejak pandemi ini terjadi di awal maret yang mengakibatkan IPB harus memulangkan mahasiswanya ke kampung halaman. Pertama, Kuliah KKN yang seharusnya dilakukan setiap akhir pekan pasca UTS langsung tidak terdapat kabar apa apa “seakan akan” KKN IPB ditiadakan. Keduan, Survey yang dilakukan oleh IPB ditiga per empat semester juga menunjukkan ketidak siapan, kanapa survey tidak langsung disebar setelah UTS berakhir? Ketiga, Pengumuman KKN yang terlalu mendadak setelah banyak anggapan “KKN ditiadakan”. Keempat, Pembuatan Proposal, penjajagan perijinan ke Pemkab dan Mitra yang diharapkan cepat kayak buat mie instan. Hal hal tersebut adalah bukti KITA (IPB) TIDAK SIAP KKN. Untuk daerah yang sebelumnya sudah ditunjuk oleh IPB menjadi lokasi KKN akan lebih mudah mengiyakan permintaan IPB, bagaimana dengan daerah yang belum dijajagi oleh IPB? Salah satu Kabupaten yang menolak diadakan KKN adalah daerah saya, terus bagaimana dong Bapak? Ibu?

Ketika saya mengurus perijinan di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), Bakesbangpol menyatakan tidak memberi ijin untuk melakukan kegiatan ini karena kondisi pandemi yang masih belum mununjukkan penurunan di Indonesia. Hal tersebut saya terima dengan lapang dada dan itu menjadi realita yang harus diterima. Pertanyaan saya mulai mengangkasa, bagaimana kalau ternyata bakesbangpol mengijinkan?
Daftar pertanyaan saya susun di paragraf ini,
1. Apa program kerja yang harus dilakukan? Bagi bagi masker? Warga rata rata juga sudah tahu dan menerapkan penggunaan masker
2. Bagaimana mekanisme pengumpulan warga dengan tetap memperhatikan Protab Covid-19?
3. Apakah kegiatan yang kita lakukan dapat sustainable kedepannya, dengan kondisi mahasiswanya yang masih lebih memilih mengejar 4 SKS daripada memberdayakan masyarakat?

KKN ini jelas jelas banyak dipandang oleh teman teman mahasiswa hanya sebagai syarat pemenuhan 4 SKS yang ada. Kalau sudah selesai KKN, ya sudah. Setiap saya berkunjung ke lapangan untuk tugas pengabdian kepada masyarakat, banyak masyrakat yang berpesan “mahasiswa, kampus, dsb jangan hanya datang ke kami untuk satu kali waktu, setelah itu pergi, namun harus berlanjut”.

KKN akan tetap berjalan pada Juni 2020 ini, pesan saya bagi yang kemungkinan lolos dari IPB (tidak menutup kemungkinan saya sendiri), jangan memandang masyarakat sebagai obyek kita, yang menjadikan mereka sebagai bahan penilaian kita, namun manusiakanlah masyarakat. Dengan begitu tanda tanya di judul tulisan ini dapat sedikit demi sedikit terbantahkan. Doa saya bagi kita semua adalah SEMOGA TULISAN INI TERBANTAHKAN OLEH REALITA KEGIATAN KKN IPB JUNI INI, AAMIIN.

Mudik, THR dan Covid-19

Puasa tahun ini rasanya benar-benar berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Adanya pandemi  Covid-19 memaksa masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan berkerumun. Masyarakat dihadapkan pada kondisi yang serba salah, dimana pemerintah memerintahkan stay at home tapi para perantau ingin go home(town). Perantau yang biasanya bisa menikmati jajanan lebaran di kampung halaman, terpaksa harus memilih antara bertahan di perantauan atau beresiko menjadi carrier virus bagi keluarga dan warga di kampung halamannya.

Di sisi lain, perkembangan penanganan pandemi belum terlihat hilal akhirnya. Dalam kurun satu pekan terkahir, peningkatan penduduk yang positif terpapar setidaknya  400 orang setiap harinya dan belum ada tanda-tanda mengalami penurunan. Beberapa ahli meramalkan indonesia akan berkawan dengan pandemi ini untuk waktu yang lebih lama dibanding negara lain di wilayah Asia Tenggara. Salah satu yang menjadi penyebab utamanya ialah masyarakat  yang gemar bersilaturahim dan tidak betah hidup sendiri di kamar.  Inilah resiko terbiasa hidup menjadi masyarakat julid yang menuntut untuk selalu nongki bareng. Sosial media sepertinya tidak cukup mampu menampung hasrat julid ria masyarakat.

Masyarakat indonesia dikenal punya prinsip “mangan ora ngombe ora ngudud ora, sing penting ngumpul”. Sebuah prinsip sederhana untuk menguatkan silaturahim dan saling peduli, yang saat ini seharusnya dicarikan alternatif lain. Belum lagi budaya belanja baju lebaran untuk sanak keluarga yang membuat ibu-ibu berbondong-bondong ke pasar. Tentu saja ini membuat physical distancing hanya sebatas mimpi, karena mau tidak mau ibu-ibu harus saling bersaing untuk mencari baju terbaik dengan harga termurah.

Pandemi juga menyebabkan banyak orang harus berhenti bekerja atau kehilangan pekerjaannya. Kondisi ini menyebabkan resesi besar bagi perekonomian Indonesia, bahkan dunia. Jumlah pengangguran dan penduduk miskin meningkat pesat, namun kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi. Disinilah solidaritas diuji, mulai banyak penggalangan dana dan donasi bagi mereka yang terdampak covid-19 ini. Syukurnya, masih banyak orang-orang yang peduli dengan mereka yang membutuhkan. Walaupun sebagian pekerja tidak lagi mendapatkan THR dari perusahaannya, namun mereka dapat menerima THR berupa bantuan sosial dan zakat dari tetangga yang lebih mampu.

Permasalahan yang menumpuk ini jelas menjadi pukulan besar bagi seluruh rakyat Indonesia. Petani kesulitan mendistribusikan hasil panen, pembeli di kota kesulitan mencari stok, hingga harga-harga beberapa komoditas naik di pasaran. Kepercayaan terhadap pemerintah pun merosot, akibat kebijakan yang dinilai tidak konsisten dan tidak terkoordinasi dengan baik di pusat maupun daerah. Belum lagi kelicikan beberapa oknum pemimpin daerah dari level RT hingga bupati yang mengambil keuntungan di tengah parahnya pandemi. Semoga masyarakat Indonesia saat ini tergolong masyarakat yang kuat seperti nenek moyangnya, meskipun nenek moyangnya pelaut bukan dokter atau tenaga medis.

(Opini oleh Muhammad Ainun Na’im-Alumni KMNU IPB)

IPB Dilema KKN

(Gandawastraatmaja)

Indonesia telah memasuki bulan ketiga kedatangan tamu Yang Terhormaat Covid-19 sejak awal Maret lalu. Semua kegiatan yang biasanya dengan mudah dilakukan dengan tatap muka langsung secara mendadak harus melalui daring (dalam jaringan). Tidak menutup kemungkina kegiatan daring ini akan berlangsung lama bahkan bisa jadi sampai awal 2021. Semoga kalimat saya sebelumnya itu salah, aamiin.

Tidak terkecuali kegiatan perkuliahan yang meliputi kuliah, praktikum, kolokium, seminar, praktik lapang, bahkan hingga pengabdian seperti KKN dipaksakan untuk daring pada beberapa perguruan tinggi. Di awal peristiwa ini bermula, civitas akademika rata rata langsung bingung untuk pengaplikasiannya, tidak terkecuali civitas kampus pertanian IPB. Ya maklum wong ya namanya transisi yang terlalu mendadak pasti di awal kegiatan ada cheos.

Dan sekarang sedikit kerusuhan terjadi kembali, pada saat beberapa perguruan tinggi memilih kkn dilakukan secara daring atau bahkan tidak ada. IPB memberikan solusi untuk tetap ber-KKNria untuk didomisilinya masing masing dengan syarat syarat yang sedikit masuk akal dan beberapa ditentang oleh para mahasiswa.

IPB memprioritaskan untuk menggelar KKN bagi mahasiswa angkatan 2016, fast tarck, Praktik Lapang Des-Jan, dan penerima bidikmisi. Hal tersebut langsung ramai ramai dijadikan pergunjingan oleh mahasiswa IPB yang merasa tidak diberi keadilan dari kebijakan tersebut. Belum lagi ketika live youtube, ada beberapa oknum yang menyatakan kekesalannya dengan kata kata yang tidak akademitif untuk golongan akademisi.

Gonjang ganjing tentang kkn 2020 di IPB sebenarnya sudah sejak awal wabah terjadi, mahasiswa mulai berpikir akan tidak adanya KKN, mengingat wabah membuat para mahasiswa harus #dirumahaja. Dan memang yang seharusnya terdapat kuliah KKN disetiap Sabtu pasca UTS semuanya batal dengan adanya wabah ini, wajar beberapa mahasiswa IPB menganggap KKN ditiadakan. Dan ternyata ketika survei dilakukan oleh IPB, hasilnya banyak mahasiswa yang ingin melakukan KKN pada Juli-Agustus. Tetapi keadaan masih seperti demikian. Apa ya bener masih ngotot untuk melangsungkan KKN? Padahal semakin banyak daerah di Indonesia yang menetapkan PSBB dan kasus positif sudah mencapai lebih dari 19 ribu jiwa di Indonesia.

Saran saya sebagai salah satu mahasiswa smester enam IPB, sebaiknya KKN dimoratorium hingga pandemi ini dapat dikendalikan oleh kita semua. Saran kedua adalah KKN ditiadakan pada tahun 2020 ini dan diganti dengan tugas yang mana dapat sebanding dengan KKN, seperti contoh memberdayakan warga di masing masing domisili, namun hanya untuk yang berada di zona hijau. Saran Ketiga adalah kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diadakan oleh IPB seperti IGTF, SUIJI, SLP yang sudah dilakukan sebelum pandemi berlangsung dapat menggantikan KKN. Jika memang kegiatan tersebut belum dapat disetarakan dengan KKN? Kenapa tidak kita coba bersama sama menyetarakan untuk kali ini saja, menghadapi covid-19, dapat disetarakan. Saran keempat KKN benar benar tidak ada untuk tahun 2020 dan tidak perlu diganti dengan tugas.

Dan untuk para rekan dan teman mahasiswa, ayolah jangan terlalu memojokkan IPB yang notabenenya adalah kampus kita sendiri. Hal ini tidak sehat, apalagi sampai sampai memojokkan lewat media sosial. Mari kita cari apa yang salah, jangan siapa yang salah. Kita tahu sama tahulah, kita di IPB adalah akademisi dan sudah semestinya paham cara menyampaikan pendapat yang kritis tetapi santun.

Semoga tulisan saya yang sangat tidak berarti ini dapat menjadi renungan khususnya bagi saya sendiri. Dan semoga wabah ini segera dapat kita kendalikan bersama. Aamiin

#dirumahaja

Wanatani Lestari Mencegah Timbulnya Pandemi

Pandemi COVID-19 cukup membuat dunia gonjang-ganjing. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa virus penyebab penyakit ini diduga bersumber dari satwa liar (sebagai penyakit zoonosis—penyakit yang ditransmisikan dari binatang ke manusia) yang dikonsumsi seperti kelelawar. Potensi penyakit semacam ini dapat muncul sejak bertahun-tahun lalu dan berevolusi seiring dengan interaksi antara manusia dengan satwaliar. Selain itu, evolusi penyakit zoonosis baru diprediksi dapat semakin marak akibat kerusakan ekosistem (contoh: deforestasi) dan perubahan iklim dimana cuaca dan iklim di suatu daerah menjadi tidak menentu.

Salah satu penyebab munculnya penyakit-penyakit baru adalah kerusakan ekosistem seperti deforestasi. Deforestasi adalah alih fungsi lahan dengan tutupan hutan menjadi non-hutan misalnya lahan pertanian, lahan penggembalaan, pertambangan, atau pemukiman. Deforestasi menyebabkan meningkatnya potensi interaksi satwa liar dan manusia. Satwa liar yang selama ini menjadi inang suatu mikroorganisme atau virus  kehilangan habitat akibat deforestasi lalu terdesak dan keluar dari habitatnya.

Hal ini memperbesar potensi interaksi satwa liar tersebut dengan binatang ternak atau manusia begitu pula dengan potensi transmisi patogen.  Akhirnya, mikroorganisme atau virus yang tadinya tidak berbahaya untuk manusia berkembang menjadi penyakit berbahaya. Tentu saja transmisi patogen–inang–manusia tidak semudah itu. Hal ini memiliki mekanisme yang rumit dan perlu dipelajari lebih lanjut.

Keberadaan wanatani (agroforestry) yang umumnya diterapkan pada hutan-hutan rakyat dan hutan adat di Indonesia selama ini telah terbukti menjaga kelestarian lingkungan. Wanatani adalah sistem menanam tanaman penghasil kayu keras dengan tanaman perkebunan atau penghasil pangan lainnya. Wanatani menjamin ketersediaan kayu dan pangan untuk masyarakat tanpa harus merusak hutan alam sebagai ekosistem alami satwa liar.

Dengan begitu, sistem wanatani dapat menjamin kelestarian hutan alam. Wanatani dapat menjaga dan menjadi habitat keanekaragaman hayati yang tinggi dibandingkan kebun monokultur dan pertanian intensif. Terjaganya ekosistem alami satwa liar berarti juga menjaga keberadaan predator alami dari satwa yang berpotensi menjadi inang suatu patogen sehingga populasinya tidak meledak.

Wanatani dalam jangka panjang menjadi tindakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Wanatani dapat menjadi penyerap karbon dan pengendali laju perubahan iklim. Wanatani dapat menjadi metode alternatif penghijauan, reforestasi, maupun pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dengan cara ini, produktifitas lahan dapat ditingkatkan tanpa merusak ekosistem lebih lanjut. Penerapannya dapat dilakukan pada zona-zona penyangga kawasan konservasi, ekosistem perawan, lahan kritis atau lahan rehabilitasi. Dengan menekan laju perubahan iklim, kerusakan eksoistem dapat dicegah begitu pula dengan evolusi penyakit baru. Hal ini akan berlaku dan berdampak dalam jangka panjang.

Satwa liar tidak dapat disalahkan sebagai penyebab penyakit yang telah merenggut ribuan manusia. Satwa liar telah berasosisasi dengan mikroorganisme dan virus tertentu selama ribuan tahun. Hal ini tidak menjadi masalah hingga akhirnya manusia bertambah banyak dan merusak ekosistem lalu mikroorganisme atau virus tersebut menjadi penyakit baru. Masih ada waktu untuk mencegah munculnya penyakit mematikan baru dengan mengubah cara interaksi manusia dengan alam menjadi lebih bijak. Bagaimanapun, menjaga ekosistem asli dari satwa liar adalah solusi terbaik.

Hani Ristiawan—Mahasiswa Koservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB

Kesejahteraan Hewan dalam Islam

Isu animal welfare (kesejahteraan hewan/kesrawan) mulai diperbincangkan sejak awal abad ke-15 sebagai bentuk kedekatan manusia dengan hewan, kemudian terus bergulir. Di beberapa negara seperti Amerika Utara dan Irlandia, undang-undang yang mengatur perlindungan hewan telah disahkan.

Pada tahun 1967, seorang petani asal inggris dan seorang aktivis animal welfare, Peter robert, memprotes dan melawan tindakan kekerasan pada hewan dengan membentuk Compassion in World Farming. Tindakan Peter itu dilatarbelakangi oleh peternakan intensif broiler yang tidak memperhatikan kesejahteraan hewan.

Five of Freedom (FoF) (5 Kebebasan)

Puncaknya pada tahun 2004, Office International des Epizooties (OIE) atau Organisasi Kesehatan Hewan Dunia mengeluarkan standar-standar animal welfare yang mengatur kondisi hewan di bawah pengaturan manusia. FoF yaitu:
1. Freedom from hunger and thirst (bebas dari rasa lapar dan haus)
2. Freedom from thermal and physical discomfort (bebas dari panas dan rasa tidak nyaman)
3. Freedom from injury, disease and pain (bebas dari luka, penyakit dan rasa sakit)
4. Freedom to express most normal pattern of behavior (bebas mengekspresikan perilaku normal dan alamiahnya)
5. Freedom from fear and distress (bebas dari rasa takut dan penderitaan)

Islam Memperlakukan Hewan

Isam muncul pada abad ke-7 yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau diutus untuk memberikan rahmat (kasih sayang) kepada semesta alam seperti dalam surah Al-Anbiya’ ayat 107. Definisi alam yg dimaksud disini adalah selain Allah. Jadi kasih sayang Nabi SAW kepada manusia, jin, hewan, tumbuhan, mikroba, virus, dan makhluk Allah yang lain.

Islam sangat menjunjung tinggi kesejahteraan hewan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama makhluk Allah. Islam memandang hewan dan makhluk hidup lain sebagai hamba Allah yang sama-sama beribadah kepada-Nya. Seperti dalam surah Al-An’am ayat 38:

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗمَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ

“Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.”

Islam memandang hewan secara proporsional, tidak seperti faham animal right yang melarang bentuk pemanfaatan hewan seperti untuk konsumsi, pakaian, objek penelitian, dan pembebanan dalam suatu pekerjaan. Islam melegalkan bentuk pemanfaatan hewan seperti untuk tujuan konsumsi, untuk kendaraan, atau untuk tujuan-tujuan lain. Ini dijelaskan oleh Allah dalam al-quran surat Ghofir Ayat 79-80:

“Allah-lah yang menjadikan hewan ternak untukmu, sebagian untuk kamu kendarai dan sebagian lagi kamu makan (79). Dan bagi kamu (ada lagi) manfaat-manfaat yang lain padanya (hewan ternak itu) dan agar kamu mencapai suatu keperluan (tujuan) yang tersimpan dalam hatimu (dengan mengendarainya). Dan dengan mengendarai binatang-binatang itu, dan di atas kapal mereka diangkut (80).”

Nabi Muhammad SAW menunjukkan sifat kepedulian terhadap kesejahteraan hewan, seperti yang dijelaskan dalam banyak riwayat hadist, dimana beliau mengasihi kucing, burung, anjing, dan hewan-hewan lain.

“Diriwayatkan dari Sa’ad Bin Jubair berkata: suatu ketika aku dihadapan Ibnu Umar, kemudian ada sekelompok orang lewat yang menjadikan sasaran lempar seekor ayam betina. Saat melihat ada Ibnu Umar, mereka berpisah menjauhinya. Ibnu Umar berkata: “Siapa yang melakukan ini ? Sesungguhnya Nabi SAW melaknat orang yang melalukan seperti ini (sasaran lempar) kepada hewan” (HR Bukhari No. 5515).

Pada abad ke-12 , jauh sebelum muncul isu animal welfare di barat, seorang ulama dengan gelar Sulthanul Ulama Syaikh Izzuddin Bin Abdissalam telah merumuskan dan memerinci hak-hak hewan yang harus dipenuhi oleh manusia bila memeliharanya. Hal itu ditulis oleh beliau dalam sebuah kitab Qawaaid Al-Ahkam fi Mashaalih Al-Anam, Juz 1 Halaman 167:

ﺣﻘﻮﻕ البهائم ﻭاﻟﺤﻴﻮاﻥ ﻋﻠﻰ اﻹﻧﺴﺎﻥ، ﻭﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﻳﻨﻔﻖ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻧﻔﻘﺔ ﻣﺜﻠﻬﺎ ﻭﻟﻮ ﺯﻣﻨﺖ ﺃﻭ ﻣﺮﺿﺖ ﺑﺤﻴﺚ ﻻ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻬﺎ، ﻭﺃﻻ ﻳﺤﻤﻠﻬﺎ ﻣﺎ ﻻ ﺗﻄﻴﻖ ﻭﻻ ﻳﺠﻤﻊ ﺑﻴﻨﻬﺎ ﻭﺑﻴﻦ ﻣﺎ ﻳﺆﺫﻳﻬﺎ ﻣﻦ ﺟﻨﺴﻬﺎ ﺃﻭ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺟﻨﺴﻬﺎ ﺑﻜﺴﺮ ﺃﻭ ﻧﻄﺢ ﺃﻭ ﺟﺮﺡ، ﻭﺃﻥ ﻳﺤﺴﻦ ﺫﺑﺤﻬﺎ ﺇﺫا ﺫﺑﺤﻬﺎ ﻭﻻ ﻳﻤﺰﻕ ﺟﻠﺪﻫﺎ ﻭﻻ ﻳﻜﺴﺮ ﻋﻈﻤﻬﺎ ﺣﺘﻰ ﺗﺒﺮﺩ ﻭﺗﺰﻭﻝ ﺣﻴﺎﺗﻬﺎ ﻭﺃﻻ ﻳﺬﺑﺢ ﺃﻭﻻﺩﻫﺎ ﺑﻤﺮﺃﻯ ﻣﻨﻬﺎ، ﻭﺃﻥ ﻳﻔﺮﺩﻫﺎ ﻭﻳﺤﺴﻦ ﻣﺒﺎﺭﻛﻬﺎ ﻭﺃﻋﻄﺎﻧﻬﺎ، ﻭﺃﻥ ﻳﺠﻤﻊ ﺑﻴﻦ ﺫﻛﻮﺭﻫﺎ ﻭﺇﻧﺎﺛﻬﺎ ﻓﻲ ﺇﺑﺎﻥ ﺇﺗﻴﺎﻧﻬﺎ، ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺤﺬﻑ ﺻﻴﺪﻫﺎ ﻭﻻ ﻳﺮﻣﻴﻪ ﺑﻤﺎ ﻳﻜﺴﺮ ﻋﻈﻤﻪ ﺃﻭ ﻳﺮﺩﻳﻪ ﺑﻤﺎ ﻻ ﻳﺤﻠﻞ ﻟﺤﻤﻪ.

Hak-hak hewan ternak atas manusia yaitu:

  1. memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari jenis hewan-hewan tersebut, walaupun hewan-hewan tersebut telah menua atau sakit yang tidak dapat diambil manfaatnya;
  2. tidak membebani hewan-hewan tersebut melebihi batas kemampuannya;
  3. tidak mengumpulkan di antara hewan tersebut atau antara hal-hal yang membuat hewan tersebut terluka, baik dari jenisnya atau selain dari jenisnya dengan mematahkan tulangnya, menusuk, atau melukainya;
  4. menyembelihnya dengan baik jika menyembelihnya, tidak menguliti kulitnya dan tidak pula mematahkan tulang hingga hewan tersebut menjadi dingin dan hilang hidupnya, tidak menyembelih anak hewan tersebut di depannya, namun mengisolasinya;
  5. membuat nyaman kandang dan tempat minumnya,
  6. menyatukan antara jantan dan betina bila telah datang musim kawin;
  7. tidak membuang buruannya,
  8. tidak menembak dengan apapaun yang mematahkan tulangnya atau membunuhnya dengan benda-benda yang menyebabkan tidak halal dagingnya.

Korelasi Animal Welfare dan Syariat Islam

Bila kita mencermati isi dalam five of freedom dengan nash-nash dalam alqur’an, hadist, atupun hukum fiqih pada uraian di atas tidak bertentangan. Keduanya sejalan dalam konteks memerlakukan hewan. Oleh karena itu, animal welfare yang dalam hal ini direpresentasikan dengan FoF tidak bertentangan dengan syariat islam dan bahkan sejalan dengan syariat islam.

Hamzah Alfarisi
(Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Kedokteran Hewan IPB & Khadim Ma’had Jawi)

RAPID TEST COVID-19, EFEKTIFKAH?

WHO mengumumkan COVID-19 sebagai pandemik pada 12 Maret 2020. Hanya butuh waktu 4 bulan sejak kasus pertama di Cina, COVID-19 dinyatakan sebagai pandemik. Dalam waktu 4 bulan pula, virus yang disebut Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) itu sampai di Indonesia. Berawal dari dua orang di daerah Depok yang dinyatakan positif COVID-19, kini COVID-19 telah menjadi wabah di Indonesia. Hingga 14 Mei 2020, 16.006 lebih dikonfirmasi positif, 3.518 diantaranya dinyatakan sembuh, dan 1.043 meninggal.

Apa itu Coronavirus?

Coronavirus adalah virus RNA dengan ukuran partikel 120-160 nm. Sebelum terjadinya wabah COVID-19, ada 6 jenis coronavirus yang dapat menginfeksi manusia, yaitu alphacoronavirus 229E, alphacoronavirus NL63, betacoronavirus OC43, betacoronavirus HKU1, Severe Acute Respiratory Illness Coronavirus (SARS-CoV), dan Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV). Coronavirus yang menjadi etiologi COVID-19 termasuk dalam genus betacoronavirus. Hasil analisis filogenetik menunjukkan bahwa virus ini masuk dalam subgenus yang sama dengan coronavirus yang menyebabkan wabah Severe Acute Respiratory Illness (SARS) pada 2002-2004 silam, yaitu Sarbecovirus. Atas dasar ini, International Committee on Taxonomy of Viruses mengajukan nama SARS-CoV-2.

Gejala Infeksi SARS-CoV-2

Gejala yang timbul pada pasien terinfeksi SARS-Cov-2 sangat beragam dan cenderung tidak menimbulkan gejala spesifik. Sebagian besar pasien yang terinfeksi SARS-CoV-2 menunjukkan gejala-gejala pada sistem pernapasan seperti demam, batuk, bersin, dan sesak napas. Gejala yang paling sering ditemukan adalah demam, batuk kering, dan fatigue. Gejala lain yang dapat ditemukan adalah batuk produktif, sesak napas, sakit tenggorokan, nyeri kepala, mialgia/artralgia, menggigil, mual/muntah, kongesti nasal, diare, nyeri abdomen, hemoptisis, dan kongesti konjungtiva. Sulitnya menentukan gejala spesifik ini berakibat pada sulitnya diagnosis COVID-19. Hingga saat ini, hanya ada dua cara yang digunakan yaitu uji virologi dan uji serologi.

Uji Virologi dalam Diagnosis Covid-19

Uji virologi merupakan uji yang direkomendasikan oleh WHO dan dianggap sebagai kontrol utama dalam diagnosis Covid-19. Uji virologi merupakan uji yang bertujuan untuk mengindentifikasi adanya virus dalam sampel. Metode yang direkomendasikan untuk uji virologi Covid-19 adalah amplifikasi asam nukleat dengan real-time Reverse Trancription Polymerase Chain Reaction (rRT-PCR). Sampel dikatakan positif (konfirmasi SARS-CoV-2) bila rRT-PCR positif pada minimal dua target genom (N, E, S, atau RdRP) yang spesifik SARS-CoV-2; atau rRT-PCR positif betacoronavirus, ditunjang dengan hasil sequencing sebagian atau seluruh genom virus yang sesuai dengan SARS-CoV-2.

Walaupun hasil pengujian dengan rRT PCR ini dinilai paling akurat, namun selalu ada harga dibalik itu. Uji rRT PCR hanya dapat dilakukan jika telah memenuhi standar, terutama terkait fasilitas. Pengerjaan pemeriksaan molekuler membutuhkan fasilitas dengan biosafety level 2 (BSL-2), sementara untuk kultur minimal BSL-3. Selain itu, bahan dan peralatan yang digunakan terbilang jarang terdapat pada lab penelitian di Indonesia. Hal ini menyebabkan ongkos untuk pengujian ini mahal, sekitar Rp 700 ribu per sampel. Waktu pengerjaannya juga terbilang lama. Setidaknya diperlukan waktu 6-7 jam untuk satu sampel. Beberapa alasan tersebut membuat metode rRT PCR kurang sesuai jika dijadikan satu-satunya pengujian terhadap Covid-19. Namun, metode rRT PCR dapat dijadikan pengujian lanjutan serta sebagai kontrol terhadap pengujian lainnya.

Selain uji virologi, terdapat uji serologis yang dapat digunakan dalam diagnosis Covid-19. Uji serologi dilakukan berdasarkan ikatan antigen-antibodi. Metode ini dapat mendeteksi adanya antibodi atau antigen yang terdapat dalam tubuh. Pada umumnya, uji serologis menggunakan sebuah label agar dapat diamati. Hal ini dikarenakan ikatan antigen-antibodi sangat sulit diamati. Perbedaan label ini menghasilkan beberapa teknik serologis yang berbeda. Beberapa label yang diguakan dalam uji serologis ialah enzim (ELISA/EIA), senyawa berfluoresen (IFA), senyawa radioaktif (RIA), dan luminescence (LIA).

Uji serologis dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi yang terbentuk dalam tubuh yang terinfeksi SARS-CoV-2. Antibodi tersebut dibentuk sebagai respon imun tubuh terhadap infeksi SARS-CoV-2. Sejauh ini pengujian serologis Covid-19 dilakukan dengan Immunochromatography (ICT), dimana sampel dibiarkan mengalir melalui sebuah penanda yang terdapat antigen. Jika sampel mengandung antibodi maka reaksi antibodi-antigen akan terjadi dan menghasilkan label yang dapat diamati (umumnya berupa strip berwarna). Proses pengujian serologis ini terbilang cepat yakni hanya butuh 10 menit untuk mendapatkan hasil. Oleh karena itu, pengujian ini dikenal dengan nama Rapid Test. Ongkos pengujian rapid test terbilang jauh lebih murah dibandingkan metode rRT PCR. Tempat pengujian juga tidak terlalu spesifik. Pengujian dapat dilakukan dimanapun, termasuk semua fasilitas kesehatan yang ada. Beberapa faktor tersebut menjadikan rapid test sebagai pengujian yang cukup efektif diterapkan di tengah pandemik.

Rapid test untuk Covid-19 menggunakan kit yang mengandung anti-IgM dan anti-IgG yang akan bereaksi dengan IgM dan IgG dari sampel. IgM dan IgG merupakan salah satu jenis antibodi yang diproduksi oleh tubuh manusia. Keduanya dipilih menjadi indikator dalam diagnosis Covid-19 karena kedua antibodi tersebut yang paling cepat dibentuk ketika ada infeksi. IgM dibentuk sekitar 3-6 hari setelah infeksi, sedangkan IgG dibentuk 8 hari setelah infeksi. Selain itu, antibodi tersebut tidak langsung hilang seiring hilangnya virus dalam tubuh. Pada dasarnya, rapid test digunakan untuk mendeteksi antibodi yang terbentuk, bukan mendeteksi virus SARS-CoV-2. Hal tersebut tentunya dapat mempengaruhi hasil dari pengujian, misalnya terdapat istilah false positive dan false negative.

False positive adalah keadaan dimana hasil rapid test seseorang dinyatakan positif namun sebenarnya tidak ada virus dalam tubuh sesorang tersebut. Hal ini tentu saja dapat terjadi jika pengujian dilakukan setelah virus itu hilang dari tubuh. Seperti yang kita tahu bahwa antibodi tidak akan langsung hilang seiring hilangnya infeksi virus.

False negative adalah keadaan dimana hasil rapid test seseorang negatif namun sebenarnya orang tersebut tengah terinfeksi virus SARS-CoV-2. Hal ini dapat terjadi jika pengujian dilakukan setelah infeksi virus namun sebelum terbentuknya antibodi. Seperti yang kita tahu bahwa antibodi tidak terbentuk seketika saat infeksi, namun beberapa hari setelah infeksi.

Strategi dalam Uji dan Diagnosis Covid-19

Terdapat cara untuk menanggulangi beberapa kekurangan dari masing-masing metode. Cara yang dapat ditempuh ialah melakukan rapid test sebagai pengujian awal. Jika hasil rapid test positif, maka dilanjut dengan pengujian dengan rRT PCR. Hal ini untuk mencegah terjadinya false positive. Jika hasil rapid test negatif, maka ditunggu sekitar satu minggu kemudian dilakukan pengujian ulang dengan rapid test. Hal ini untuk mencegah terjadinya false negative. Selain itu, pengujian harus dilakukan secara masif dan menyeluruh. Pengujian harus dilakukan kepada setiap individu dalam satu populasi agar dapat mendapat gambaran penyebaran secara komprehensif.

Referensi:

Susilo A, Rumende CM, Pitoyo CW, Santoso WD, Yulianti M, Herikurniawan, Sinto R, Singh G, Nainggolan L, Nelwan EL, et al. 2020. Coronavirus disease 2019: review of current literatures. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia. 7(1): 45-67.

Li Z, Yi Y, Luo X, Xiong N, Liu Y, Li S, Sun R, Wang Y, Hu B, Chen W, et al. 2020. Development and clinical application of a rapid IgM-IgG combined antibody test for SARS-CoV-2 infection diagnosis. Journal of Medical Virology. doi: 10.1002/jmv.25727.

Tulisan oleh Aziz Syamsul Huda, mahasiswa departemen Biokimia, Institut Pertanian Bogor.

Benarkah Minum Teh setelah Makan?

Minum teh setelah makan sudah menjadi kebiasaan kita sehari-hari. Bahkan, tidak lengkap rasanya bila makan tanpa teh. Namun, apakah kalian tahu bahwa teh mengandung senyawa tertentu yang dapat mengganggu kerja usus ?

Sejarah Teh dan Macam-macamnya
Teh dengan nama ilmiah Camellia sinensis berasal dari Tiongkok. Kemudian, teh sampai ke indoneisa diibawa oleh Andreas Cleyer pada tahun 1664 dan ditanaman dalam skala besar di kebun Percobaan Cisurupan, Jawa Barat.

Teh berdasarkan tingkat oksidasinya dikelompokkan menjadi empat yaitu, teh putih, teh hijau, teh oolong, dan teh hitam. (1) Teh putih dibuat dari pucuk daun yang tidak teroksidasi. (2) Teh hijau dibuat dari pucuk daun yang mengalami proses oksidasi secara minimal dan dihentikan dengan proses pemanasan.

(3) Teh olong yaitu daun teh yang dibuat dengan cara mengoksidasi dengan kadar oksidasi antara teh hijau dan teh hitam. (4) Teh hitam adalah daun teh yang dioksidasi secara penuh (hampir 100%) sekitar dua minggu hingga satu bulan.

Pengaruh Teh Terhadap Aktivitas Enzim Pencernaan

Enzim pencernaan berfungsi untuk membantu proses pencernaan dalam tubuh. Untuk memahaminya, kita perlu paham tentang proses pencernaan terlebih dahulu. Selanjutnya, kita bahas pengaruh teh terhadap proses pencernaan baik pada pada kondisi sehat atau pada penyakit, khususnya diabetes.

Proses Pencernaan Karbohidrat
Makanan yang kita konsumsi seperti nasi mengandung karbohidrat kompleks. Karbohidrat di dalam mulut akan dipecah oleh enzim alfa-amilase menjadi disakarida atau oligosakarida. Setelah itu, keduanya akan ditelan dan melewati kerongkongan, lambung, dan usus. Di usus halus (intestinum), disakarida atau oligosakarida selanjutnya akan dipecah oleh enzim alfa-glukosidase menjadi monosakarida yaitu glukosa.

Glukosa akan diserap (absorbsi) oleh usus halus dan kemudian masuk ke pembuluh darah untuk diedarkan ke seluruh tubuh. Dari penjelasan singkat ini, ada dua enzim kunci dalam pencernaan karbohidrat yaitu enzim alfa-amilase dan alfa-glukosidase. Tanpa kedua enzim tersebut, karbohidrat komplek tidak dapat diserap oleh tubuh.

Pengaruh Teh pada Orang Sehat

Berdasarkan hasil penelitian, seluruh jenis esktrak teh dapat menghambat kerja dua enzim kunci tersebut. Berdasarkan penelitian Jungbae Oh dkk (2015), teh mampu menghambat kerja enzim glukosidase dan alfa-amilase yang menganggu proses pencernaan karbohidrat. Daya hambat tertinggi ditunjukkan secara berurutan oleh teh hitam, teh oolong, dan teh hijau.

Menurut hasil penelitian Satoh dkk (2015) dari Hokkaido Pharmaceutical University School of Pharmacy mengungkapkan bahwa ekstrak teh mengandung senyawa phloretin dan phloridzin yang menganggu masuknya glukosa ke dalam usus.

Pada orang sehat, konsumsi teh dengan jumlah yg berlebihan dapat menggangu penyerapan glukosa ke usus. Namun, penghambatan masuknya glukosa ke dalam usus ini bermanfaat bagi seseorang yang sedang menjalankan program diet atau penderita diabetes.

Pengaruh Teh pada Penderita Diabetes

Pada orang sehat, meminum teh dapat menggangu penyerapan glukosa, namun justru pada penderita diabetes sangat bermanfaat. Mengapa? Karena penderita diabetes terjadi gangguan penyerapan glukosa oleh tubuh yang menyebabkan kadar glukosa yang tinggi di dalam darah.

Kadar glukosa tinggi ini dapat memperburuk penyakit diabetes yang dapat menstimulasi komplikasi. Oleh karena itu, minum teh sebelum atau bersamaan dengan mengkonsumsi karbohidrat dapat menghambat kerja enzim alfa-glukosidase dan alfa-amilase yang menyebabkan penyerapan glukosa terganggu dan kenaikan kadar glukosa darah dapat dicegah. Oleh karena itu, minum bermanfaat bagi penderita diabetes untuk mencegah naiknya kadar glukosa dalam darah.

Hamzah Alfarisi
Mahasiswa Sekolah Pascasarjana IPB