Categories
Renungan Sastra, Puisi, dan Humor

Keringat Juang

Karya : Ricky Gusnia

 

Aku kau dan mereka adalah kita

Diriku dirimu dan dirinya adalah diri kita

Bergumul menjadi satu dan mendarah daging

Dalam satu mimpi dan cita abadi

Yang getarannya selalu bergerilya dalam diri

Yang menyatu dalam hembusan nafas yang terhirup setiap  saat

 

Perjuanganku dan perjuangan mereka

Tanpa cacat sedikitpun dan sempurna

Pengabdianku dan pengabdian mereka

Kupersembahkan tanpa ada pamrih dan sukarela

Namun apa dayalah kami sebagai manusia yang tetap butuh imbalan yang setara

Karena kami punya anak dan istri juga , bukankah kau juga begitu ?

 

Akulah manusia ladang yang ingin hidup kalian bahagia

Keringatku keringat mereka

Kupersembahkan semua untukmu Tuan

Tapi janganlah kau anggap rendah diriku atas profesiku

Bukankah kau juga tau  Sabda Bung Karno , Pangan hidup mati bangsa !

Aku memanggilmu duhai pemimpin dan para pemuda

Untuk berjuang dan berkarya bersama demi negara

Categories
Uncategorized

Struktur Sosial Perempuan Nelayan dalam Perspektif Sains dan Agama  

Peran perempuan merupakan faktor penting dalam menstabilkan ekonomi keluarga masyarakat khususnya nelayan (capture fisheries).  Strategi yang ditempuh oleh rumah tangga nelayan dalam ketidakpastian ekonomi mendorong perempuan nelayan untuk ikut serta dalam mencari nafkah. Disisi lain perempuan nelayan juga lebih dominan dalam mengatur pengeluaran kebutuhan sehari-hari.

Pada umumnya perempuan nelayan hanya menjalankan fungsi domestik dan ekonomi, namun dalam aspek kemasyarakatan, perempuan nelayan mampu menciptakan pranata-pranata sosial yang penting bagi stabilitas social pada komunitas nelayan. Seperti kegiatan pengajian, simpan pinjam, dan arisan yang mempunyai arti penting dalam membantu mengatasi ketidakpastian penghasilan ekonomi keluarga. Selanjutnya, Apakah boleh seorang perempuan mencari nafkah? Bagaimana hukumnya?

Pertama: Pada dasarnya perempuan mempunyai kedudukan yang mulia didalam Islam, kodrat perempuan adalah untuk dimuliakan dan dilindingi. Oleh karena itu, dalam  rumah tangga laki-laki lah yang lebih berperan dalam mencari nafkah di luar rumah. Sedang istri berada di rumah mengatur urusan rumah tangga, mendidik dan membersamai anak.

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzâb [33]: 33)

Kedua : Berdasarkan dalil berikut, ulama memperbolehkan (dengan syarat):

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِر  الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِير.

Dan tatkala ia (Musa) sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”.

Adapun syarat-syarat tersebut diantaranya:

  1. Seorang perempuan bekerja di luar rumah apabila ada kebutuhan untuk itu, tanpa melalaikan tugas pokoknya di dalam mengurus rumah tangga.
  2. Dia bekerja setelah mendapatkan ijin dari suami atau orang tuanya, jika tinggal bersama mereka.
  3. Dia bekerja pada bidang yang sesuai (dengan tabiat perempuan).
  4. Dia bekerja pada tempat kerja yang tidak ada di dilamnya hal-hal yang diharamkan Allah SWT (seperti  khalwat atau ikhtilat).
  5. Menjaga adabnya sebagai wanita Muslimah dan menjauhi hal yang terlarang.
  1. Pekerjaan yang ia kerjaan adalah pekerjaan yang halal.

Rumah Tangga merupakan dua istilah kata yang dikelola sedemikian rupa oleh sepasang manusia, suami dan istri  untuk saling melengkapi. Sebagaimana Sabda Rosulullah SAW :

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (Hadits Riwayat Tirmidzi)

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR. At Tirmidzi)

Rasulullah SAW juga bersabda, “Jika seorang perempuan melaksanakan sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana yang kamu kehendaki.”

Islam merupakan agama yang syamil mutakamil  (sempurna dan menyeluruh). Ajaran islam sangat komprehensif dan terperinci. Islam mengatur segala aspek kehidupan, tak terkecuali keluarga.   Terdapat puluhan ayat Al-Qur’an dan ratusan hadits Baginda Nabi SAW yang membahas permasalahan keluarga. Islam memang memberikan perhatian besar dalam hal penataan keluarga. Hal ini terbukti, bahwa seperempat bagian dari fiqh (hukum islam) yang dikenal dengan rub’ul munakahat  (seperempat masalah fiqih nikah) berbicara tentang keluarga.

Demikianlah, dalam berumah tangga idealnya tak bisa dibangun hanya oleh suami saja, istri juga memiliki  peran yang sangat penting. Begitupula sebaliknya, tanpa suami seorang istri akan kerepotan mengurus keluarga. Pada masing-masing laki-laki dan perempuan ada peran yang tak bisa digantikan.  Antara suami dan istri masing-masing saling membutuhkan dan saling melengkapi satu sama lain. Sekuat apapun laki-laki, tanpa perempuan ia takkan mampu meletakkan kata “tangga” setelah “ rumah”, begitupula sebaliknya.

Wallahu a’lam.

Penulis :

Akhmad Nurhijayat, SPi (Social-Ecological System Of The Oceans Lab – FPIK IPB)

Azif Muthon, Lc (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab)

Categories
Artikel Opini

Langit di Ufuk Barat : Harmoni Manusia dengan Alam

Jadi saya akan membahas mengenai tema pertanian dalam arti luas namun dengan topik lebih spesifik tentang pranata mangsa: harmoni antara manusia dan alam. Pertama nanti mengenai dunia pertanian, kedua nelayan, ketiga tentang fenomena alam. Sehingga harmoni manusia dengan alam tidak hanya terjadi pada petani tapi juga terjadi pada nelayan serta leluhur-leluhur kita.

Oiya bismillah ila akhirihi, tulisan ini lebih kepada ekosistem langit yang dibuat tanpa pondasi serta ajaran leluhur untuk senantiasa harmoni kepada alam semesta. Dari judul dulu ya gaes, itu diambil pas perjalanan menuju lamongan, fenomena sekumpulan awan yang membentuk wujud tertentu mungkin bagi botanis kejawen mempercayai ada makna tersirat didalamnnya.

 Manusia dan alam memiliki ikatan yang saling membutuhkan. Pelestarian alam dan keseimbangannya perlu dijaga agar tercipta kehidupan yang lebih harmonis. Perilaku manusia yang kurang bertanggung jawab menjadi salah satu faktor terjadinya perubahan iklim. Iklim yang berubah memiliki pengaruh besar terhadap pengelolaan pertanian. Petani Jawa masih ada sebagian yang melestarikan kearifan lokal sebagai salah satu cara untuk menjaga keseimbangan alam. Kearifan lokal yang berkaitan dengan pertanian adalah penggunaan kalender pranata mangsa sebagai ketentuan untuk mengolah lahan pertanian (Harini et al. 2019). Pemahaman petani jawa untuk memanfaatkan fenomena alam sebagai pedoman berocok tanam dengan sistem pranatamongso merupakan salah satu bentuk kemampuan manusia memahami lingkungan yang melahirkan praktek pengelolaan lingkungan berbasis kearifan ekologi (Anariza 2016).

Sebagaimana kalender tanam leluhur atau pranata mangsa. Pranata Mangsa berasal dari kata “pranata” yang berarti aturan dan “mangsa” berarti masa atau musim. Jadi pranata mangsa sejatinya memberi informasi tentang perubahan musim yang terjadi setiap tahunnya. Pranata Mangsa didasarkan atas peredaran matahari tanpa didukung oleh teori-teori pertanian modern dan alat-alat pertanian modern. Murni berdasarkan atas pengamatan yang teliti terhadap gejala perubahan yang terjadi pada lingkungan hidupnya1.

Menurut wisnubroto (1995) pranata mangsa dapat dimanfaatkan sebagai pedoman berbagai kegiatan terutama dalam bidang bercocok tanam. Pembagian umurnya cukup teliti yang dapat disejajarkan dengan kalender Gregorian sampai batas tertentu sesuai dengan keadaan meteorology. Menurut Wisnubroto (1998) banyak petani di Jawa tengah dapat memprakirakan secara semikuantitatif permulaan musim hujan dan permulaan musim kemarau dan juga dapat menentukan waktu yang tepat untuk menanam padi supaya terhindar dari hama dan penyakit.

Lihat? Bagaimana leluhur dulu melakukan observasi bahasa kerennya riset ratusan tahun sampai menghasilkan teorema pranata mangsa yg umumnya berlaku di jawa. Sebab daerah lain memiliki kearifan lokalmya masing-2. Lanjut lagi, sekali lagi kita dapat melihat bagaimana langit dikelola sedemikian rupa dengan ciri-2 nya sehingga menjadi titen dan disempurnakan terus menerus menjadi aturan musim di jawa.

Langit bagi nelayan tentu menjadi kompas di malam hari juga menjadi titen atau penanda musim ikan tangkap beserta letak koordinatnya meskipun menggunakan feeling good lakasut namun terbukti top cerr selama ratusan tahun silam. Sebagaimana yang saya temui nelayan di natuna mereka masih menggunakan penanggalan namun berdasarkan bulan, di bulan ini musim ikan ini di sebelah sini. Kok keren sekali umatnya kanjeng nabi, bahkan sebelum teknologi gps ditemukan sudah ngambah samudra sak jabalekat.

Tentu kemunculan bentuk awan menyerupai wujud sesuai sudah menjadi hal yang tidak aneh lagi bagi kalangan botanis kejawen. Entah ini isyarat leluhur dalam mengemong anak turunnya di bumi pertiwi ini atau bagaimana yang jelas, tidak ada yang namanya kebetulan. Semua ada makna dan pesannya masing-2 tinggal kita mampu menangkap dan menterjemahkannya atau tidak. Sebagaimana awan caping di atas gunung ternyata telah terbukti bahwa kemunculan awan seperti itu menurut ilmu sains berguna untuk meredam gempa yang terjadi.

Memang, landasan keilmuan serta kesadaran dalam rangka mencari tujuan kehidupan alias menuju rohmat tuhan tentu mendapatkan dampak yang berganda. Pertama sadar bahwa ini memang kuasa tuhan dan kedua semakin yakin karena ilmunya mengantarkan ia kepada pengagungan tuhan semesta. Sungguh beruntung, botanis kejawen itu, agama, sains, dan kejawen diramu menjadi sebuah penghambaan total kepada tuhan. Ajaran budi luhur sebagaimana tugas kenabian untuk menyempurnakan akhlak umat ini tentu sangat korelatif juga dengan alam.

Menyambung kembali mengenai akhlak  bahwa akhlak di sini tidak hanya kepada manusia tapi juga ke seluruh makhluknya apalagi yang berada di bumi nusantara ini. Satu dari tak kira hitungan yang menjadi contoh kekuasaan tuhan. Namun, tuhan justru menghendaki dan menunjukkan sifat kasih sayangnya daripada sifat kuasanya dan kekuataannya. Sebagaimana tuhan mengajarkan kita untuk memulai segala sesuatu yang baik dengan bacaan bismillahirrohmanirrohim. Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang (ajaran maiyah). Maka dari itu, berkasih sayanglah kamu sekalian kepada seluruh makhluk tuhan. Saling bekerja sama dalam kebaikan. Berharmoni dalam kehidupan. Tentu jika hal tersebut sudah terjadi. Tanda dunia tidak akan lama lagi

Wallahu a’lam

Ahmad Fauzi Ridwan

Daftar Referensi

  1. https://8villages.com/full/petani/article/id/5a9fc1f1dc2ada6b3fb971c0. (29 Mei 2020)
  2. Anazifa RD. 2016. Pemanfaatan sains tradisional jawa sistem pranatamangsa melalui kajian etnosains sebagai bahan ajar biologi. Pros Demnas Pend IPA Pascasarjana UGM vol 1.
  3. Harini S, Sumarmi, Wicaksono AG. 2019. Manfaat penggunaan pranata mangsa bagi petani Desa Mojoreno Kabupaten Wonogiri. Jurnal Inada 2(1):82-97.
  4. Wisnubroto S. 1995. Pengenalan waktu tradisional menurut jabaran meteorology dan pemanfaatannya. Jurnal agromet 11(1):15-22.
  5. Wisnubroto S. 1998. Sumbangan pegenalan waktu tradisional Pranata Mangsa pada pengelolaan hama terpadu. Jurnal perlindungan tanaman Indonesia 4(1):46-50.
Categories
Opini

Obat Herbal Belum Tentu Tanpa Efek Samping

Salam sehat, teman-teman, pada kesempatan kali saya akan berbagai pengetahuan tentang herbal. Informasi yang berkembang di masyarakat bahwa (obat) herbal itu tidak mememiliki efek samping. Apakah pernyataan ini betul? Jawabannya belum tentu, kok bisa begitu? coba simak dulu penjelasan di berikut.

Sebuah paper (jurnal) jadul tahun 1998 yang di tulis oleh Mashour dkk, berjudul “Herbal Medicine for The Treatment of Cardiovascular Disease”, diterbitkan di Arch International Medicine Vol 158

Secara ringkas, paper ini bercerita tentang berbagai bahan-bahan alam (herbal) yang berpotensi untuk mengobati penyakit-penyakit kardiovaskuler (gangguan pada jantung dan pembuluh darah) seperti gagal jantung, angina pectoris (nyeri dada akibat kekurangan darah ke jantung), aterosklerosis (penyempitan dan pengerasan pembuluh darah), dan aritmia (gangguan irama/detak jantung).

Pada tahun itu (1998), Amerika masih memiliki b(u)anyak kekurangan soal herbal medicine , mulai efikasi (kemujaraban) herbal-herbal, standarisasi, dan efek samping (adverse effect). Karena judul tulisan ini efek samping, maka akan saya berikan dua contoh (1) herbal yang memiliki efek samping ringan, dan (2) herbal yang memiliki efek samping berat.

Resin (getah) tumbuhan Commiphora mukul (nama umumnya gugul) dimanfaatkan sebagai obat aterosklerosis pada pengobatan Ayurveda (metode pengobatan alternatif india). Senyawa yang berperan adalah gugulipid. Efek samping yg ditimbulkan hanya seperti sakit kepala, mual dan cegukan.

Tumbuhan Stephania tetrandra (anggur herba) di China dimanfaatkan sebagai obat untuk hipertensi (tekanan darah tinggi). Senyawa yang berperan dalam hal ini adalah tetrandrine. Namun, karena adanya misinformasi tentang senyawa ini, terjadi outbreak gagal ginjal secara progresif yang disebut dengan Chinese herb nephropathy.

Oleh karena itu, menggunakan herbal tetap harus menggunakan takaran tertentu (dosis) yg tepat untuk menghindari efek samping dan menjaga kemujaraban.

Sekian.
Hamzah Alfarisi

Tulisan lainnya

Categories
Kajian Islam Renungan Sastra, Puisi, dan Humor

Ngaji Serat Kalatidha (1)

Serat Kalatidha, Pupuh (Bait) 1, Gatra (Baris) 1

R Ng. Ronggo Warsito merupakan salah seorang pujangga keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang memiliki keberkahan ilmu “weruh sadurunge winarah” yang bermakna tahu sebelum orang lain tahu. Begitu banyak karya sastra yang digubahnya dalam bentuk tembang macapat yang ringkas namun memiliki pemaknaan yang sangat mendalam. Tidak jarang gubahan R. Ng. Ronggo Warsito masih relevan di jaman abad melenium seperti saat ini. Menurut pendapat banyak ahli, R. Ng. Ronggo Warsito sebenarnya menggambarkan kejadian kejadian pada masa tersebut, namun banyak juga kejadian yang beliau gubah dalam serat yang ditulis memiliki kemiripan pada masa-masa selanjutnya. Dalam pemilihan diksi kata Jawa, beliau sangat dalam dan mengerti penggunaan bahasa Jawa yang sesuai untuk menggambarkan kondisi masyarakat pada saat itu.

Mangkya Darajating Praja – Serat Kalatidha, Bab 1, Baris 1

Pemilihan kata mangkya (baca : mangkyo) yang memiliki arti sangat luas digunakan oleh beliau di awal Serat, mangkya memiliki terjemahan Bahasa Indonesia tampak, terlihat, diketahui, dan memiliki padanan kata dengan katon, kaweruhan, pengerten, dsb. Beberapa peneliti menafsirkan kata mangkya dengan kata yang menunjukkan waktu yang berarti sekarang. Bahasa yang dipakai dalam serat ini menggunakan serat sastra yang indah dan tidak semua orang dapat menafsirkan dengan mudah sehingga tidak jarang para peneliti dan ahli pun memiliki perbedaan pendapat dalam menafsirkan serat yang ditulis oleh para Pujangga jaman dahulu, tidak hanya R. Ng. Ronggo Warsito tetapi juga pujangga lainnya.

Kata kedua menggunakan diksi darajating (baca : darojating) yang memiliki arti martabatnya. Kata dasar dari darajating adalah darajat yang sebelumnya ditambahi imbuhan ing untuk menunjukkan kepunyaan dari subyek. Sedangkan, kata ketiga adalah praja, kita sering sekali mendengar kata praja, dan sangat mudah untuk dilafalkan namun tidak jarang pelafal dari kata praja tidak mengetahui makna dari praja itu sendiri.

Praja memiliki arti yang sangat luas begitu juga dengan makna yang sangat dalam. Praja bisa diartikan dengan prajurit, pasukan, pemerintah, keraton, batalion, dan sebagainya. Penggunaan kata praja sangat luas, sehingga banyak penulis menggunakan kata praja untuk konteks yang ingin disampaikannya. Pengartian kata praja secara singkatnya dapat dilihat pada konteks tulisannya. Penggunaan kata praja di praja muda karana (pramuka) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-pp), kelas jelas memiliki arti yang berbeda , karena secara konteks sudah berbeda. Praja di pramuka bermakna jiwa sedangkan praja di Satpol PP adalah pasukan atau angkatan militer.

Jadi penggunaan kalimat mangkya darajating praja diartikan oleh beberapa ahli sebagai “martabat negara tampak”. Yang bermakna bahwa martabat asli dari suatu negara telah tampak dengan jelas dan tidak perlu ditutupi. Kondisi keraton pada saat itu menunjukkan sesuatu yang jelas, sehingga tidak perlu ditutupi apa-apa, kalaupun berbohong sama halnya dengan menyembunyikan diri di balik satu jari telunjuk, sangat tampak jelas. Kondisi seperti itulah yang hendak digambarkan oleh R. Ng. Ronggo Warsito. Kondisi yang dapat dilihat bersama, dan mengejutkannya, sekarang juga terjadi mangkya darajating praja yang dapat ditafsir masing-masing oleh para pembaca yang budiman.

Sumber Pustaka :

Permana CP, Nurhayati E. Ragam bahasa Serat Kalatidha serta relevansinya dalam pembelajaran Bahasa Jawa siswa SMPN 7 Yogyakarta. Jurnal Lingtera. 1(1): 39-53.

Ronggowarsito. 2015. Zaman Edan Cetakan 4. Yogyakarta (ID): Penerbit Forum.

(Cak Bim)

Categories
Nahdlatul Ulama Opini

NU Normal, New Normal Ala NU

Baru-baru ini telah beredar kabar bahwa Indonesia tengah bersiap untuk menuju fase New Normal Life atau kehidupan normal baru dalam menghadapi pandemic virus corona atau biasa disebut Covid-19. Namun, seperti disampaikan Presiden Joko Widodo, saat new normal diberlakukan, penting bagi masyarakat untuk tetap memerhatikan dan mengikuti aturan protokol kesehatan Covid-19. Sebagai wujud kesiapan new normal, Kementerian Kesehatan dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 telah menyusun protokol kesehatan. Selain menaati aturan seperti selalu mencuci tangan, baik menggunakan sabun maupun hand sanitizer, juga ditekankan pentingnya menjaga jarak sosial dan fisik (physical distancing). Lalu bagaimana warga Nahdliyin dalam menyikapi hal tersebut ?

Tentu kita semua sudah mengetahui bahwa warga Nahdliyin memiliki kekhasan tradisi keagamaan yang sudah berlangsung sejak lama di Nusantara seperti pengajian, sholawatan, tahlilan, maulidan dan lain sebagainya. Dalam pelaksanaannya, membutuhkan massa yang bisa dibilang cukup banyak. Maka dari itu, perlu dilakukan kajian khusus mengenai tata cara pelaksanaan kegiatan keagamaan tersebut sehingga penyebaran virus corona bisa dicegah.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Bupati Anas, dan pengurus NU berusaha mematangkan sejumlah skema normal baru (new normal) di sektor tradisi keagamaan. Anas meminta masukkan para ulama dan PCNU untuk perumusan protokol bidang keagamaan, seperti tahlilan, yang banyak diamalkan di Banyuwangi. Dari hasil masukkan para tokoh serta insan kesehatan, nantinya disusun panduan protokol kesehatan untuk kegiatan tradisi keagamaan.

New normal ini perlu untuk disimulasikan sesegera mungkin. NU harus siap dalam mensosialisasikan new normal kepada para jamaah. Warga Nahdliyin harus memberi contoh untuk selalu taat terhadap protokol kesehatan demi kemaslahatan umat. NU harus menjadi contoh sebagai masyarakat beragama yang memiliki kerja sama yang baik, gotong rotong, dan memiliki disiplin medis yang tinggi demi terciptanya keamanan dan keselamatan seluruh warga Indonesia. Dengan jumlah warga NU yang mencapai sekitar 90 juta jamaah, apabila semua menaati setiap aturan pemerintah dan ulama, Nahdlatul Ulama maka akan memiliki dampak yang besar dalam membendung dan menghentikan penyebaran virus Covid–19. Bagaimanapun juga, selain mengupayakan ikhtiar dhohir juga perlu adanya ikhtiar batin untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME agar pandemi ini segera berakhir.

#IndonesiaJanganTerserah

#MariBersinergiBersama

Penulis : Ricky Gusnia

Categories
Opini

IPB Siap KKN?

(Gandawastraatmaja)

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan “IPB dilema KKN” yang kemarin saya opinikan dalam rubrik KMNU IPB. Judul “IPB siap KKN?” saya rasa tepat karena begitu prematurnya persiapan persiapan yang ada dan menimbulkan kesan bahwa KKN (Kuliah Kerja Nyata) IPB dipaksakan dengan berbagai alasan dan dianggap TIDAK SIAP.

Kabar pertama menyatakan bahwa IPB mengadakan KKN di bulan Juni, Juli, dan Agustus agar masa studi mahasiswa program sarjana dapat lulus tepat waktu alias tidak terlambat, mengingat kalau mahasiswa telat lulus, IPB juga akan tercoreng secara nilai akreditasi. Kabar kedua menyatakan IPB mengadakan KKN agar Praktik Lapang mahasiswa di Bulan Desember dan Januari tidak terganggu. Kabar ketiga menyatakan kegiatan ini dilakukan agar penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa tingkat akhir tidak terhambat. Kabar keempat menyatakan KKN dilakukan sebagai pemenuhan dharma ketiga Tridharma Perguruan Tinggi dan masih banyak kabar kabar yang berseliweran di jagat sosial maya saat ini. Intinya kabar kabar itu membuat kesan yang tidak siap bagi peserta KKN seperti saya.

Ketidaksiapan IPB dalam menghadapi KKN sudh terlihat sejak pandemi ini terjadi di awal maret yang mengakibatkan IPB harus memulangkan mahasiswanya ke kampung halaman. Pertama, Kuliah KKN yang seharusnya dilakukan setiap akhir pekan pasca UTS langsung tidak terdapat kabar apa apa “seakan akan” KKN IPB ditiadakan. Keduan, Survey yang dilakukan oleh IPB ditiga per empat semester juga menunjukkan ketidak siapan, kanapa survey tidak langsung disebar setelah UTS berakhir? Ketiga, Pengumuman KKN yang terlalu mendadak setelah banyak anggapan “KKN ditiadakan”. Keempat, Pembuatan Proposal, penjajagan perijinan ke Pemkab dan Mitra yang diharapkan cepat kayak buat mie instan. Hal hal tersebut adalah bukti KITA (IPB) TIDAK SIAP KKN. Untuk daerah yang sebelumnya sudah ditunjuk oleh IPB menjadi lokasi KKN akan lebih mudah mengiyakan permintaan IPB, bagaimana dengan daerah yang belum dijajagi oleh IPB? Salah satu Kabupaten yang menolak diadakan KKN adalah daerah saya, terus bagaimana dong Bapak? Ibu?

Ketika saya mengurus perijinan di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), Bakesbangpol menyatakan tidak memberi ijin untuk melakukan kegiatan ini karena kondisi pandemi yang masih belum mununjukkan penurunan di Indonesia. Hal tersebut saya terima dengan lapang dada dan itu menjadi realita yang harus diterima. Pertanyaan saya mulai mengangkasa, bagaimana kalau ternyata bakesbangpol mengijinkan?
Daftar pertanyaan saya susun di paragraf ini,
1. Apa program kerja yang harus dilakukan? Bagi bagi masker? Warga rata rata juga sudah tahu dan menerapkan penggunaan masker
2. Bagaimana mekanisme pengumpulan warga dengan tetap memperhatikan Protab Covid-19?
3. Apakah kegiatan yang kita lakukan dapat sustainable kedepannya, dengan kondisi mahasiswanya yang masih lebih memilih mengejar 4 SKS daripada memberdayakan masyarakat?

KKN ini jelas jelas banyak dipandang oleh teman teman mahasiswa hanya sebagai syarat pemenuhan 4 SKS yang ada. Kalau sudah selesai KKN, ya sudah. Setiap saya berkunjung ke lapangan untuk tugas pengabdian kepada masyarakat, banyak masyrakat yang berpesan “mahasiswa, kampus, dsb jangan hanya datang ke kami untuk satu kali waktu, setelah itu pergi, namun harus berlanjut”.

KKN akan tetap berjalan pada Juni 2020 ini, pesan saya bagi yang kemungkinan lolos dari IPB (tidak menutup kemungkinan saya sendiri), jangan memandang masyarakat sebagai obyek kita, yang menjadikan mereka sebagai bahan penilaian kita, namun manusiakanlah masyarakat. Dengan begitu tanda tanya di judul tulisan ini dapat sedikit demi sedikit terbantahkan. Doa saya bagi kita semua adalah SEMOGA TULISAN INI TERBANTAHKAN OLEH REALITA KEGIATAN KKN IPB JUNI INI, AAMIIN.