Ngaji Serat Kalatidha (1)

0
196

Serat Kalatidha, Pupuh (Bait) 1, Gatra (Baris) 1

R Ng. Ronggo Warsito merupakan salah seorang pujangga keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang memiliki keberkahan ilmu “weruh sadurunge winarah” yang bermakna tahu sebelum orang lain tahu. Begitu banyak karya sastra yang digubahnya dalam bentuk tembang macapat yang ringkas namun memiliki pemaknaan yang sangat mendalam. Tidak jarang gubahan R. Ng. Ronggo Warsito masih relevan di jaman abad melenium seperti saat ini. Menurut pendapat banyak ahli, R. Ng. Ronggo Warsito sebenarnya menggambarkan kejadian kejadian pada masa tersebut, namun banyak juga kejadian yang beliau gubah dalam serat yang ditulis memiliki kemiripan pada masa-masa selanjutnya. Dalam pemilihan diksi kata Jawa, beliau sangat dalam dan mengerti penggunaan bahasa Jawa yang sesuai untuk menggambarkan kondisi masyarakat pada saat itu.

Mangkya Darajating Praja – Serat Kalatidha, Bab 1, Baris 1

Pemilihan kata mangkya (baca : mangkyo) yang memiliki arti sangat luas digunakan oleh beliau di awal Serat, mangkya memiliki terjemahan Bahasa Indonesia tampak, terlihat, diketahui, dan memiliki padanan kata dengan katon, kaweruhan, pengerten, dsb. Beberapa peneliti menafsirkan kata mangkya dengan kata yang menunjukkan waktu yang berarti sekarang. Bahasa yang dipakai dalam serat ini menggunakan serat sastra yang indah dan tidak semua orang dapat menafsirkan dengan mudah sehingga tidak jarang para peneliti dan ahli pun memiliki perbedaan pendapat dalam menafsirkan serat yang ditulis oleh para Pujangga jaman dahulu, tidak hanya R. Ng. Ronggo Warsito tetapi juga pujangga lainnya.

Kata kedua menggunakan diksi darajating (baca : darojating) yang memiliki arti martabatnya. Kata dasar dari darajating adalah darajat yang sebelumnya ditambahi imbuhan ing untuk menunjukkan kepunyaan dari subyek. Sedangkan, kata ketiga adalah praja, kita sering sekali mendengar kata praja, dan sangat mudah untuk dilafalkan namun tidak jarang pelafal dari kata praja tidak mengetahui makna dari praja itu sendiri.

Praja memiliki arti yang sangat luas begitu juga dengan makna yang sangat dalam. Praja bisa diartikan dengan prajurit, pasukan, pemerintah, keraton, batalion, dan sebagainya. Penggunaan kata praja sangat luas, sehingga banyak penulis menggunakan kata praja untuk konteks yang ingin disampaikannya. Pengartian kata praja secara singkatnya dapat dilihat pada konteks tulisannya. Penggunaan kata praja di praja muda karana (pramuka) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-pp), kelas jelas memiliki arti yang berbeda , karena secara konteks sudah berbeda. Praja di pramuka bermakna jiwa sedangkan praja di Satpol PP adalah pasukan atau angkatan militer.

Jadi penggunaan kalimat mangkya darajating praja diartikan oleh beberapa ahli sebagai “martabat negara tampak”. Yang bermakna bahwa martabat asli dari suatu negara telah tampak dengan jelas dan tidak perlu ditutupi. Kondisi keraton pada saat itu menunjukkan sesuatu yang jelas, sehingga tidak perlu ditutupi apa-apa, kalaupun berbohong sama halnya dengan menyembunyikan diri di balik satu jari telunjuk, sangat tampak jelas. Kondisi seperti itulah yang hendak digambarkan oleh R. Ng. Ronggo Warsito. Kondisi yang dapat dilihat bersama, dan mengejutkannya, sekarang juga terjadi mangkya darajating praja yang dapat ditafsir masing-masing oleh para pembaca yang budiman.

Sumber Pustaka :

Permana CP, Nurhayati E. Ragam bahasa Serat Kalatidha serta relevansinya dalam pembelajaran Bahasa Jawa siswa SMPN 7 Yogyakarta. Jurnal Lingtera. 1(1): 39-53.

Ronggowarsito. 2015. Zaman Edan Cetakan 4. Yogyakarta (ID): Penerbit Forum.

(Cak Bim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here