Mudik, THR dan Covid-19

0
409
Suasana acara BUMN Mudik Bareng Idul Fitri 1440 H Tahun 2019 di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (30/5/2019). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj. Aprillio Akbar / ANTARA FOTO (https://lokadata.id/artikel/mudik-hendak-dilarang-pemerintah-beri-iming-iming-insentif)

Puasa tahun ini rasanya benar-benar berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Adanya pandemi  Covid-19 memaksa masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan berkerumun. Masyarakat dihadapkan pada kondisi yang serba salah, dimana pemerintah memerintahkan stay at home tapi para perantau ingin go home(town). Perantau yang biasanya bisa menikmati jajanan lebaran di kampung halaman, terpaksa harus memilih antara bertahan di perantauan atau beresiko menjadi carrier virus bagi keluarga dan warga di kampung halamannya.

Di sisi lain, perkembangan penanganan pandemi belum terlihat hilal akhirnya. Dalam kurun satu pekan terkahir, peningkatan penduduk yang positif terpapar setidaknya  400 orang setiap harinya dan belum ada tanda-tanda mengalami penurunan. Beberapa ahli meramalkan indonesia akan berkawan dengan pandemi ini untuk waktu yang lebih lama dibanding negara lain di wilayah Asia Tenggara. Salah satu yang menjadi penyebab utamanya ialah masyarakat  yang gemar bersilaturahim dan tidak betah hidup sendiri di kamar.  Inilah resiko terbiasa hidup menjadi masyarakat julid yang menuntut untuk selalu nongki bareng. Sosial media sepertinya tidak cukup mampu menampung hasrat julid ria masyarakat.

Masyarakat indonesia dikenal punya prinsip “mangan ora ngombe ora ngudud ora, sing penting ngumpul”. Sebuah prinsip sederhana untuk menguatkan silaturahim dan saling peduli, yang saat ini seharusnya dicarikan alternatif lain. Belum lagi budaya belanja baju lebaran untuk sanak keluarga yang membuat ibu-ibu berbondong-bondong ke pasar. Tentu saja ini membuat physical distancing hanya sebatas mimpi, karena mau tidak mau ibu-ibu harus saling bersaing untuk mencari baju terbaik dengan harga termurah.

Pandemi juga menyebabkan banyak orang harus berhenti bekerja atau kehilangan pekerjaannya. Kondisi ini menyebabkan resesi besar bagi perekonomian Indonesia, bahkan dunia. Jumlah pengangguran dan penduduk miskin meningkat pesat, namun kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi. Disinilah solidaritas diuji, mulai banyak penggalangan dana dan donasi bagi mereka yang terdampak covid-19 ini. Syukurnya, masih banyak orang-orang yang peduli dengan mereka yang membutuhkan. Walaupun sebagian pekerja tidak lagi mendapatkan THR dari perusahaannya, namun mereka dapat menerima THR berupa bantuan sosial dan zakat dari tetangga yang lebih mampu.

Permasalahan yang menumpuk ini jelas menjadi pukulan besar bagi seluruh rakyat Indonesia. Petani kesulitan mendistribusikan hasil panen, pembeli di kota kesulitan mencari stok, hingga harga-harga beberapa komoditas naik di pasaran. Kepercayaan terhadap pemerintah pun merosot, akibat kebijakan yang dinilai tidak konsisten dan tidak terkoordinasi dengan baik di pusat maupun daerah. Belum lagi kelicikan beberapa oknum pemimpin daerah dari level RT hingga bupati yang mengambil keuntungan di tengah parahnya pandemi. Semoga masyarakat Indonesia saat ini tergolong masyarakat yang kuat seperti nenek moyangnya, meskipun nenek moyangnya pelaut bukan dokter atau tenaga medis.

(Opini oleh Muhammad Ainun Na’im-Alumni KMNU IPB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here