Categories
Ke-Indonesia-an Uncategorized

“MENSYUKURI DAN MENGKHIANATI KEMERDEKAAN”

Oleh Ustadz Ahmad Said
(Pengasuh Majlis Ta’lim Darul Futuh)
Kemerdekaan suatu bangsa itu adalah suatu nikmat yg sangat besar dari Allah SWT. Bayangkan jika kita sekarang ini masih dijajah seperti zaman dulu sebelum 17 agustus 45…? Sudah pasti tidak akan ada pembangunan fisik, badan dan raga seperti yg ada sekarang ini. Iyaa Jalanan sudah pada beraspal bahkan sampai di pelosok kampong sekalipun. Listrik sudah mengambil perannya yg tidak kalah penting dan bisa dinikmati oleh rakyat seluruh rakyat Indonesia. Ilmu pengetahuan dan teknologi juga cukup pesat perkembangan dan pemasarannya. Tapi apakah semua nikmat tersebut kita sudah mensyukurinya…? Mungkin kita tidak tau kalau kemerdekaan itu sebuah nikmat dan kita tidak tahu pula cara mensyukuri nikmat kemerdekaan.
Kalau kita melihat dalam sejarah bangsa kita …. Betapa gigihnya para pejuang dan pahlawan bangsa walau pun dengan sarana yg minim mereka berani maju dan berjuang demi masa depan bangsa. Mengapa hal tersebut bisa terjadi. Di antara sebabnya adalah bahwa Jiwa mereka telah mendapatkan bimbingan rohani dan sudah dibangun oleh para Ulama yg berjiwa Ikhlas, Amanah dan Kesatria. Iya bimbingan rohani dan pembangunan Jiwa. Hal ini sebagaimana yg diisyaratkan oleh para pendahulu kita dalam lagu Indonesia Raya “Bangunlah Jiwanya…Bangunlah Badannya”. Iyaa kalau para pendahulu kita dulu berjiwa pengkhianat, berjiwa materialis yg penting kaya sendiri di bawah penderitaan bangsanya maka mereka akan bekerja sama dengan para penjajah mengorbankan dan menjual bangsanya ke bangsa lain. Tapi tidak mereka berani berkorban harta dan bahkan nyawa demi orang lain yang artinya para pejuang kita telah memiliki jiwa kepahlawanan, pengorbanan, amanah, loyalitas dst dari berbagai macam bentuk kejiwaan yg indah yg pernah mereka contohkan bagi seluruh anak dan generasi bangsa ini. BAgaimana dengan jaman kita sekarang ..? ingatkah kita akan makna perjuangan mereka tersebut..? bisakah kita melanjutkan perjuangan untuk anak dan generasi penerus bangsa yg berikutnya..? iyaa Negara kita sekrang jangankan mikirin masa depan anak bangsa..anak indonesia yg baru lahir aja sudah harus menanggung hutang para Pengkhianat bangsa yg membangun bangsa ini secara fisik dan melupakan pembangunan jiwanya.
Iya sehebat apapun bangunan fisik, infrastruktur yg ditinggalkan oleh orang tua atau pendahulu kita, jika anaknya tidak berjiwa yg patriotis, berjiwa amanah, bermartabat atau bahkan sebaliknya berjiwa materialis, maka akan betapa mudah bangunan fisik dan infrastruktur dan peninggalan tersebut pada akhirnya akan dijual atau dibiarkan terbengkalai karena dia lebih memikirkan materi dan kepentingan pribadinya yg tidak punya loyalitas. Atau akan dijadikan sebagai ladang korupsi dan eksploitasi yg tidak memikirkan bagaimana nanti nasib generasi penerusnya. Kenapa Pembangunan Jiwa ini dilupakan oleh kita semua dan oleh para pemimpin bangsa ini…??
Orang yg mensyukuri nikmat kemerdekaan adalah orang yg mampu memanfaatkan kemerdekaan untuk membangun suatu generasi sehingga berjiwa seperti para pendahulunya. Sehingga dari pembangun jiwa tersebut kemerdekaan akan terus dipertahankan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya bukan malah dibuang, disia-siakan dan bahkan dijual ke bansa lain. Sehingga tidak mungkin bangsa ini dalam berbagai macam aspek kehidupan memiliki ketergantungan kpd Bangsa lain karena jiwa anak bangsanya sudah memiliki martabat, berjiwa tidak mau menyerah dan pasrah, beretos kerja tinggi, patriotis dan Gemar berkorban. Adapun para pengkhianat kemerdekaan adalah orang yg mampu memanfaatkan kemerdekaan untuk membangun fisik dan infrastruktur saja sehingga membodoh-bodohi masyarakat dengan meninggalkan pembangunan jiwa anak bangsanya. Mereka berusaha menutupi kebobrokan jiwanya dengan menampakkan keberhasilan pembangunan fisik. Padahal dengan adanya proyek pembangunan infrastruktur yg sengaja mereka ada adakan dan terkadang mengada-ada itu, mereka bermaksud mencari kesempatan dan ladang basah yg bisa dikorupsi bahkan secara systematis. Dan bahkan sangking bodohnya jiwa dan pola pikir generasi dan anak bangsa ini, mereka mau mempelajari suatu pelajaran yg pada akhirnya hanya mencetak generasi buruh atau pekerja atau (setelah istilahnya dihaluskan menjadi) karyawan yg merasa bangga memiliki selembar ijazah dan kenangan berupa buku pelajaran yg pada akhirnya nasib buku pelajaran anak bangsa tersebut hanya berakhir menjadi barang rongsokan atau hiasan rak buku yg tidak akan dibuka-buka dan berlaku lagi. Mereka dibodoh bodohi sehingga obsesi terbesar dalam hidupnya..bagaimana saya punya ijazah..setelah punya ijazah bangaimana saya bisa bekerja menjadi buruh, pekerja atau karyawan walau di perusahaan asing. Setelah menjadi buruh berusaha menutupi kehinaan martabatnya dengan besarnya upah atau gaji yg bisa dia pake untuk membeli produk orang asing yg mana keuntungannya juga akan kembali kepada mereka.
Sadarlah wahai saudaraku..jangan mau kalian dikhianati …bangkitlah seperti para pendahulu kalian…MERDEKA

Leave a Reply

Your email address will not be published.