Malu dan Takdim Terhadap Santri

0
292
https://www.almunawwir.com/category/khotbah-jumat/

Jujur ketika saya masih kecil, saya suka sekali dengan cerita cerita bernafaskan islami, mulai dari sejarah sejarahnya, hingga shirah nabawiyah, dan salah satu tokoh sahabat yang saya idolakan adalah Sayyidina Umar Ibn Khattab yang menurut saya beliau adalah salah satu santri dari Kanjeng Nabi. Bahkan saya ada kepikiran bagaimana agar Islam ini diterima seluruh manusia tanpa terkecuali, bukan main pemikiran saya waktu kecil, sangat muluk muluk dan sangat minim literasi, ya maklum namanya juga anak kecil, yang Alhamdulillah memiliki Ghirah yang sangat tinggi terhadap agama yang saya anut.

Saya waktu TK mengaji di pengajian yang berada di lingkungan Muhammadiyah yang masuknya hanya setiap sore jam 3 sore selesai jam 5. Mulai dari belajar alif, ba, ta, dst. Masuk SD saya bertemu dengan guru agama yang bisa dibilang NU kenthel, Pak B namanya, semakin saya senang dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, sempat ketika itu saya pikirkan. Mengapa mata pelajarannya adalah “pendidikan” bukan pengajaran? Pertanyaan itu terjawab oleh beliau, tanpa saya tanyakan terlebih dahulu. Bahwa beda jauh antara pendidikan dan pengajaran. Pendidikan tidak sekadar mengajar di lebih dari itu,jauh makna harfiahnya dari pengajaran, pendidikan itu yang ngemong, ya bersopan, ya bersantun, ya bertata, ya berkrama, ya belajar, ya memahami, ya memaknai, dan sangat luas artinya. Pada intinya pengajaran/pelajaran adalah secuil arti (bukan makna) dari pendidikan. Dari uraian yang singkat dari Guru tersebut saya sangat tertarik dengan pesantren akhirnya.

Iya pesantren, saya punya cita cita besar untuk menjadi seorang santri, namun saya selalu tidak mampu menempuhnya saya rasa. Saya selalu segan menjadi santri. Dulu selepas SD saya sempat punya keinginan 50% masuk di pesantren dan menjadi santri. Ketika itu ayah saya (Allahumaghfirlah) menyarankan saya untuk masuk Gontor saja kalo pingin jadi santri. Tetapi harapan saya adalah di Lirboyo. Kenapa di Lirboyo? Ya jelas, karena guru SD saya nyantri di Lirboyo, saya sangat takjub dengan Lirboyo, tidak tanggung tanggung, bahkan saya mengidolakan tokoh tokohnya, seperti Kiai Agus Maksum Jauhari, Wali Pendekar dari Lirboyo.

Ya, saya sangat mengagumi pesantren, tetapi seperti terjadinya hari ini, saya bukanlah santri. Jadi, saya malu terhadap para santri santri. Saya selalu takdim pada para santri santri, karena jujur menjadi santri bagi saya adalah suatu tugas yang berat. Iya itu tadi, menjadi santri harus bersedia dididik, yang mana saya belum tentu bisa mengiyakan semua pendidikan di pesantren, walaupun saya tahu itu baik dan bagus. Seperti menghafal Alquran, muroti, bandongan, dsb itu sangat bagus. Tetapi saya merasa mungkin saya tidak sanggup melakoninya. Kemudian saya masuk SMP, suatu hal yang baru karena baru lulus dari SD, saya dididik oleh Bu Nurul, Guru Agama masa SMP, juga seperti Pak Bahrun, Bu Nurul adalah NU kenthel. Saya semakin takjub dengan pendidikan santri, padahal saya berada di lingkungan SMP, saya semakin malu dengan para santri, yang ya bisa dikata, SMP mulai tergerus akhlaknya, dan ini membuat saya seharusnya mawas diri. SMP memberi kenangan untuk menjadi siswa. Iya siswa yang sedikit mbalelo, karena itu adalah watak saya, yang tidak jarang mbalelo terhadap guru saya.

Selepas lulus SMP, ternyata teman teman saya ada yang meneruskan nyantri, bahkan adik kelas saya ada yang juga nyantri. Nyantri di Gontor tepatnya, saya tertegun dan malu. Masuk SMA, seperti biasa, yang saya sukai adalah pelajaran sejarah dan matematika, namun saya masuk MIPA, karena saya suka matematika, dan menurut saya, sejarah dapat dipelajari lebih secara otodidak dengan banyak membaca. Benar saya masuk MIPA, tetapi saya masih sangat doyan dengan sejarah, pelajaran sejarah bisa dibilang saya sangat menyukainya, hanya satu tahun saya tidak menyukai sejarah, lebih dikarenakan cara mengajar pengajarnya yang terlalu melihat tulisan daripada memahami tulisan, saya sangat membenci hal tersebut. Tetapi mau dikata apa? Pengajar lebih berkuasa daripada siswanya. Setelah itu saya mulai menikmati sejarah seperti  air kelapa yang masuk ke dalam kerongkongan, segar dan tanpa hambatan. Memahami sejarah begitu mudah dan menyenankan dengan Bu Sumilah sebagai gurunya. Mengalir dan mengalir.

Selepas SMA, saya kuliah di Peternakan, masih sangat suka dengan sejarah, hingga saya membeli buku Atlas Walisongo, tulisan dari Kiai Agus Sunyoto, yaitu Ketua LESBUMI NU. Dalam buku tersebut dijelaskan, siapa santri sebenarnya? Dari mana asal kata santri sebenarnya? Saya baca dan ternyata santri berasal dari kata sastri, sastri berasal dari sastra, jelas sudahlah bahwa santri bermakna pembelajar sastra. Ini merupakan pengertian yang tinggi, sastra tidak hanya mencakup tulisan-tulisan indah namun juga berisi makna yang mendalam. Suluk dalam budaya jawa merupakan sastra, tembang juga merupakan sastra, pantun juga merupakan sastra. Jadi, santri ini sangat sangat luas cakupannya, seperti yang saya tuliskan di paragraf pertama, tidak hanya belajar, tetapi juga bersantun, bersopan, dst. Semakin malu dan takdim terhadap santri. Saya dengan teman teman saya yang dari pesantren, saya selalu merasa takdim dan hormat. Tidak peduli itu adik tingkat saya waktu kuliah. Saya takdim terhadap para santri, terlebih lagi, memang pesantren selalu mengmbangkan santri santri yang kondang kapracondang, dan tak jarang memiliki aji yang linuwih. Seperti Gus Dur, Gus Mus, Gus Muwafiq, Gus Miftah, Habib Luthfi, Cak Nun, dan Cak Nur. Di kontrakan saya juga adalah lulusan pesantren dan saya kalau orang barat simbol penghormatan adalah angkat topi, saya angkat blangkon dalam batin saya. Hingga sekarang, salah satu cita-cita saya masih sama, menjadi santri.

Tulisan oleh Gandawastraatmaja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here