Categories
KMNU IPB Opini Uncategorized

KURBAN dalam Segi Syari’at dan Ilmu Kedokteran Hewan

Bulan Dzulhijjah atau bulan haji tentu identik dengan kurban. Pelaksanaan kurban saat bulan Dzulhijjah dapat dilakukan pada tanggal 10 sampai 13, atau sampai akhir hari tasyrik. Kurban pertama kali dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, saat beliau mendapatkan perintah untuk menyembelih Nabi Isma’il. Sesaat sebelum Nabi Ibrahim akan menyembelih Nabi Isma’il, malaikat Jibril mengganti Nabi Isma’il dengan domba qibas yang berasal dari surga. Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan bahwa domba merupakan hewan pertama yang digunakan umat islam untuk berkurban.

Salah satu ayat dalam Alqur’an yang berisi perintah untuk berkurban yaitu surat Al Kautsar ayat 2. Dalam ayat tersebut Allah SWT berfirman : Dirikanlah sholat karena tuhan-Mu dan berkurbanlan. Dalam kitab Fathul Qorib Fasl fii ahkamil udhiyah, hukum kurban disebutkan yaitu sunnah muakkad. Sunnah muakkad merupakan sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Oleh karena itu, bagi orang-orang yang dalam segi ekonomi dianggap mampu, sangat dianjurkan untuk melakukan kurban.

Dalam kitab Fathul Qorib disebutkan pula bahwa hewan-hewan yang boleh digunakan untuk berkurban yaitu unta, sapi, domba dan kambing. Namun, penjelasan tersebut masih bisa di Qiyas-kan kembali, contohnya yaitu sapi dapat di Qiyas-kan dengan kerbau. Di Indonesia, kurban menggunakan kerbau biasa dilakukan oleh masyarakat kabupaten Kudus. Tradisi kurban menggunakan kerbau oleh masyarakat Kudus telah dimulai sejak masa sunan Kudus. Sunan Kudus berkurban menggunakan kerbau untuk menghormati pemeluk agama Hindu yang menganggap sapi adalah hewan suci. Sikap dari sunan Kudus ini menjadi bukti bahwa islam merupakan agama yang toleran.

Ada beberapa syarat hewan yang dapat dijadikan untuk kurban. Beberapa syarat hewan kurban ditinjau dari ilmu kedokteran hewan diantaranya yaitu :

  1. Hewan telah dewasa. Untuk unta telah mencapai umur 5 tahun, sapi dan kerbau 2 tahun, kambing 1 tahun, dan domba 6 bulan.
  2. Hewan tidak cacat. Cacat disini bisa berupa mata yang buta atau kaki yang pincang dsb.
  3. Hewan harus dalam keadaan sehat.
  4. Hewan tidak boleh terlalu kurus, dianjurkan yang gemuk.

Berdasarkan tinjauan tersebut, hal yang sangat penting untuk diperhatikan yaitu tentang kesehatan hewan. Kesehatan hewan penting untuk diperhatikan karena ada beberapa penyakit hewan yang dapat ditularkan pada manusia. Penyakit tersebut diantaranya yaitu antraks, TBC, brucellosis dsb. Untuk mencegah penularan penyakit tersebut, maka sebelum dan sesudah disembelih harus dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi hewan. Beberapa gejala pada hewan yang harus diwaspadai yaitu suhu yang sangat tinggi (maksimal 400C untuk kambing dan domba, dan 390C untuk sapi), hewan ambruk sebelum disembelih, mata terlihat lesu, dan mukosa tubuh terlihat pucat. Apabila gejala tersebut ditemukan, sangat disarankan untuk mengisolasi hewan kurban.

Pemeriksaan lebih lanjut dapat dilakukan dengan pemeriksaan post-mortem yaitu pemeriksaan organ hewan setelah disembelih. Organ yang harus diperiksa setelah penyembelihan yaitu jerohan merah (jantung, hati, limpa, paru-paru dan ginjal). Apabila pada organ-organ tersebut ditemukan kelainan yang bersifat lokal (sebagian), maka dianjurkan untuk memotong (mengiris) bagian yang mengalami kelainan tersebut, lalu membuangnya. Sedangkan apabila terdapat kelainan yang “aneh” seperti berubahnya bagian dalam paru-paru menjadi seperti keju, dianjurkan bagi panitia untuk melaporkan temuan tersebut kepada dinas terkait untuk segera ditindaklanjuti, karena gejala perkejuan tersebut merupakan tanda-tanda dari penyakit TBC pada hewan.

Selain pemeriksaan terhadap hewan, hal penting yang harus diperhatikan yaitu tatacara penyembelihan hewan kurban. Di Indonesia, standar daging yang dapat dikonsumsi yaitu ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal). Aman disini berarti aman dari bahan-bahan berbahaya,seperti bahan kimia dll., sehat berarti hewan tidak mengidap suatu penyakit, utuh berarti daging hewan tidak dicampur dengan hewan lain,seperti oplos daging babi, sedangkan Halal berarti hewan disembelih sesuai syari’at islam.

Penyembelihan yang baik menurut syari’at Islam yaitu terpotongnya 3 saluran dari hewan (saluran pernapasan, pencernaan dan buluh darah) atau dalam istilah kedokteran hewan, yaitu trakhea, esofagus, arteri carotis communis dan vena jugularis. Selain itu, sebelum hewan dipotong harus dipersiapkan pisau yang sangat tajam. Pisau yang tajam ini digunakan untuk mengurangi rasa sakit hewan. Penelitian menunjukkan pisau yang sangat tajam apabila digunakan untuk menyembelih, akan memberi efek pemingsanan kepada hewan, sehingga hewan tidak mengalami rasa sakit saat disembelih.

Hamdan Ubaidillah / Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan IPB

Leave a Reply

Your email address will not be published.