Categories
Kajian Islam Uncategorized

Kunci Menuju Jalan Kehidupan Akhirat

Catatan kecil ditemani gerimis hujan

Bogor, 12 Dzulqo’dah 1435 H @Majlis Ta’lim Darul Futuh
Bismillahirrohmaanirrohiim..
Alhamdulillahirabbil’aalamiin..
Allohumma sholli ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa’alaa aalihii wa ashhaabihi ajma’iin..
والمانع من السلوك عدم الارادة والمانع من عدم الارادة عدمالايمان
“…Penghalang dari jalan (menuju akhirat) adalah tidak adanya kehendak (mencari jalan) dan penghalang tidak adanya kehendak adalah tidak adanya iman.”
Demikian sepenggal maqolah pembuka pada Tamami (Ta’lim Malam Minggu) di Darul Futuh semalam. Kunci seorang muslim menuju jalan kehidupan akhirat adalah adanya keinginan untuk mencari jalan tersebut. Adapun keinginan (irodah) untuk bersuluk tergantung dengan iman seseorang. Tahapan orang bersuluk yaitu ingat-sadar-berkeinginan-suluk. Pertama seseorang ingat akan kebutuhan bekal di akhirat. Kedua, ia sadar bahwa apa yang dilakukannya di dunia dibalas di akhirat kelak, baik amal kebaikan maupun maksiat yang ia lakukan selama hidup. Berangkat dari kesadaran inilah, seseorang akan muncul keinginan untuk bertaubat dan memperbaiki diri untuk bekal kehidupan akhirat nantinya. Setelah muncul keinginan, tahap selanjutnya yaitu bersuluk, mencari jalan menuju kehidupan akhirat. Dalam bersuluk, akhirat dipandang dengan mata hati bukan mata dhahir, sebagaimana perkataan Imam Abi Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghozali, “Barangsiapa memandang akhirat dengan mata hatinya yang mana pandangannya tersebut penuh dengan keyakinan, maka hidupnya akan meraih kesakinahan.”  Dengan demikian, mutlak untuk memandang akhirat dengan penuh keyakinan (Ingat Al Baqarah ayat 3). Pertanyaan kemudian yang muncul, bagaimana kita bisa yakin jika tidak belajar pada ahli yakin? Itulah mengapa pentingnya berguru, menuntut ilmu pada ulama sholihinas shiddiiqiin.
Akan tiba suatu masa dimana kaum di masa tersebut enggan mengunakan akal untuk berfikir dan hanya mengedepankan syahwatnya. Hal ini mulai Nampak di zaman sekarang ini, semakin bertambahnya waktu manusia beserta akhlaknya semakin rusak. Maka penting untuk memelihara akhlaq sejak dini dimulai dari lingkup rumah tangga keluarga.
Jawaban salah satu pertanyaan jamaah>>
Beberapa hal yang mempengaruhi kecenderungan seorang anak nantinya, apakah cenderung pada dunia ataukah akhirat:
    1.     Makanan yang diberikan orang tuanya. Makanan yang diberikan haruslah halal dan niatkan untuk kebutuhan akhirat nanti.
     2.     Proses ‘pembuatan’ (saat bapak-ibu berjima’), usahakan jangan sampai lupa untuk berdoa. Minimal membaca doa Allohumma jannibnasy syaithon wa jannibasy syaiton maa rozaqnaa.
    3.     Saat masa kehamilan, niatkan segala hal yang dilakukan ayah dan ibu untuk kebaikan sang anak. Tips: jika memasuki umur kandungan 4 bulan, mencari gambar atau foto Ulama (Orang Sholeh),  kemudian sering-seringlah berkirim fatihah untuk sang alim tersebut dengan niatan tabarruk. Insya Alloh barokah.
      4.     Pemberian nama, harapan dan keinginan orang tua yang terselip dalam nama sang anak akan mempengaruhi perjalanan hidup anak nantinya. Jadi, jangan remehkan pemberian nama pada seorang anak karena nama adalah doa dari kedua orang tua untuk sang anak.
  
Wallohu a’alam
Demikian coretan kecil saat mengaji. Semoga bermanfaat.
  
احب الدين
  

Leave a Reply

Your email address will not be published.