Categories
Opini Uncategorized

Kopi dan kopiah saat libur kuliah

Yang abadi bukanlah kematian apalagi hidup, namun yang abadi adalah tentang mu dan tentang kita. Drama kesedihan cukup sukses mengajarkan kita makna hidup ini. Nikmatnya kopi yang kita seduh bersama serasa senikmat bersulang alkohol di Eropa kala musim dingin. Malam ini hujan turun begitu deras, namun terkadang hujan menyimpan sebuah syair dan meninggalkan makna tersendiri. Rasa terimakasihku terhadap keagungan malam ini sebagai wujud penghambaan atas Dzat Yang Maha Kuasa yang telah mempertemukan kita dalam sebuah diskusi tentang “hidupmu melengkapi hidupku dan hidup kita untuk mereka.”

Aku tidak mempedulikan sebatang rokok yang kalian hisap, karena ku melihat rokok dari sudut pandang tradisi, bukan dari segi kesehatan. Kalian pun tak mempedulikan kopi yang ku buat untuk kita dinikmati bersama. Serasa aneh memang rasa kombinasi tiga sachet kopi jahe di kombinasi dengan sebungkus white coofe dalam satu wadah dengan volume air panas melebihi takaran yang semestinya. Setiap pertemuan memberikan sebuah kesan, kesan yang paling indah adalah ilmu.

Tentang Ilmu, udin mulai membuka diskusi bahwa tentulah berbeda orang yang mngerti dan yang tak mengerti. Ku mulai menambahkan, sesungguhnya ilmu hakikatnya adalah li Ma’rifatillah. Sesekali ku melihat kepulan asap rokok yang di tiupkan oleh Fatah menari indah diterpa angin yang muncul tanpa permisi dari sela pintu dan jendela ruang tamu, sambil menikmati diskusi dengan mereka. Seiring bertambahnya ilmu sikap dan perilaku tentunya juga berubah. Kita bertiga sama-sama sebagai mahasiswa namun cara pandang kita berbeda, contoh kecil tentang air, sebagai seorang mahasiswa manajemen sumberdaya perairan tentulah berbeda cara pandangku melihat air dengan udin mahasiswa dari jurusan kelapa sawit. Dan cara pandang kami berdua pun juga berbeda dengan fatah yang berasal dari kedokteran hewan. Menyikapi perbedaan memang tidak mudah, namun terkadang kita tidak sadar bahwa perbedaan pasti ada,sekecil apapun itu. Bahkan Kita disibukkan dengan perbedaan itu, hingga melupakan bahwa tujuan kita adalah sama, dan kita semua makhluk yang tiada sempurna. Sehingga membutuhkan satu sama lain.

Nafsu, dengan pigmen wujudnya yang beraneka ragam mampu menyihir keimanan dan keyakinan hati kita. Ini bukanlah sebuah ceramah atau tausyiah, ini adalah tentang segelas kopi yang kita nikmati bersama. Tentang sebungkus rokok yang dimainkan asap nya di udara agar menari indah seindah impian kita di masa depan nanti, be happy. Tak usah jauh jauh mengambil contoh. Cukup diri kita bertiga dalam majlis ini. Apa yang kita lakukan selama ini ? jika hidup adalah sebuah permainan dan sandiwara, bisakah kita berperan menawan dan menjadi pemenang dalam tokoh yang dikisahkan dalam sandiwara hidup ini, ataukah kita hanya kucing-kucingan berputar dan balik lagi , terus menerus ditelanjangi kehinaan dan kerendahan sifat hilang sebuah kehormatan sebagai seorang manusia akibat nafsu. Terlalu sombong kita dengan label “Manusia adalah sebaik baik makhluk yang diciptakan oleh Allah.” Bahkan kita lalai kalau kita juga bisa terjun bebas menjadi Makhluk yang rendah serendah rendahnya. Bahkan tak lebih baik dari seekor anjing. Tentang seekor anjing mengingatkan kita untuk flash back dalam sejarah Ashabul kahfi.

Sebatang rokok sudah menjadi abu di hisap angin dan sebagian membekas dalam paru paru Fatah dan udin, tak mengapa. Seteguk kopi sungguh manis terasa di ujung lidahku, terbesit ingatan akan manisnya senyum dia kala itu. Jangan salah pandang terhadap anjing, menegaskan si fatah sambil menyalakan sebatang korek api jresssss,,,, sebatang rokok baru bermerk gudang garam siap menyambung dan menemani kebersamaan kita. Anjing adalah makhluk Allah dan tak sepantasnya kita menyemakan setiap perkara buruk dengan penyebutan kata anjing. Saat makhluk bernama manusia menjadi makhluk yang rendah serendah-rendahnya tentulah menjadi jawaban siapakah yang lebih hina. Hanya nafsu dan belum ada campur tangan syetan yang memiliki kamuflase tinggi dan strategi godaannya yang sistematis , serta perhiasan dunia yang menyilaukan mata dan membatukan hati.

Tak perlu mengkhawatirkan diri, namun muhasabah diri disini harus ada dan memang tetap ada. Disini kita bertiga tiada yang lebih pandai, tiada yang lebih pintar, tiada yang lebih alim, namun kita disini hanya mencari cara yang kiranya tepat dan mawafiq untuk menikmati segelas kopi, hingga kami menemukan cara itu melalui diskusi. Nikmat terbesar dalam hidup ini adalah nikmat Islam dan nikmat Iman. Kita sama sama memilikinya, sekarang kita ibaratkan Iman dan islam kita adalah sebuah rumah. Amaliyah kita atau perbuatan kita adalah barang yang kan menghiasi rumah kita. Sudahkah rumah kita diisi dengan segala keindahan, pernak pernik yang bagus, tatanan ruang yang nyaman dan sejuk dipandang oleh mata, ataukah justru sebaliknya. Rumah kita penuh dengan barang-barang dan perabot yang rusak dan risih untuk dipandang bahkan oleh kita sendiri sebagai pemilik rumah. Begitulah hidup, sudah menjadi kewajiban kita sebagai makhluk yang lemah tiada daya untuk bersandar kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Kita yang miskin untuk selalu berteduh dengan kasih sayang Dzat Yang Maha Kaya. Nyala handphone Advan dengan bunyi lirik lagu Animal Maroon Five sebuah panggilan tak terjawab terlihat pukul 01:17 WIB, menyadarkan kita untuk mensudahi obrolan bersama selama kita menikmati kopi di malam ini. Puji Syukur Alhamdulillah atas segala hidup ini. (Ibnun_Baha’_yasin)

image : imageshack.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.