Categories
KMNU IPB Opini Uncategorized

“Konsumsi Bersih” sebagai Sikap Konsumen yang Cerdas Lingkungan

Manusia sebagai makhluk sosial tak lepas dari interaksi antar sesamanya. Bentuk interaksi tersebut sangat beragam, salah satunya interaksi dalam hal produksi dan konsumsi. Kedua hal tersebut sangat erat kaitannya dengan manusia, apa lagi di era industri seperti sekarang ini. Banyak industri berkembang di hampir semua sektor untuk memenuhi kebutuhan manusia dan daya konsumsi manusia juga kini mulai meningkat. Meningkatnya sektor industi juga sebaiknya diimbangi dengan meningkatnya kepedulian terhadap lingkungan. Maka dari itu sekarang sudah banyak industi yang menerapkan produksi bersih. Produksi bersih merupakan suatu strategi untuk menghindari timbulnya pencemaran industri melalui pengurangan timbulnya limbah (waste generation) pada setiap tahap dari proses produksi untuk meminimalkan atau mengeliminasi limbah sebelum segala jenis potensi pencemaran terbentuk.

Produksi bersih mampu mengurangi limbah yang dihasilkan, mengurangi penggunaan energi, dan menambah keuntungan. Kemudian untuk mendukung usaha dari pihak industri, kita sebagai konsumen juga bisa menerapkan “konsumsi bersih”, yaitu usaha dalam memenuhi kebutuhan hidup dengan mengurangi limbah yang dihasilkan. Konsumsi bersih bertujuan untuk mencegah dan meminimalkan terbentuknya limbah atau bahan pencemar lingkungan diseluruh proses konsumsi. Pentingnya konsumsi bersih bukan hanya untuk diri sendiri, tapi berguna bagi lingkungan sekitar bahkan berguna untuk generasi yang akan datang.

Prinsip pokok dalam konsep konsumsi bersih dituangkan dalam 4R, yaitu rethink, reduction, reuse, dan recycle. Upaya konsumsi bersih ini tidak dapat berhasil dilaksanakan tanpa adanya perubahan dalam pola pikir, sikap dan tingkah laku, maka dari itu konsep rethink sangat penting sebagai awal dari perubahan menuju konsumen yang lebih baik. Implikasi dari rethink adalah perubahan dalam pola pikir dalam menggunakan barang atau jasa agar lebih meminimalkan limbah yang dihasilkan. Ada pepatah pernah berkata “consume as much as you want, but change the way you consume”, kita bisa mengkonsumsi seberapa banyak yang kita mau, tapi kita harus memilih cara yang paling tepat, cara yang bisa meminimalkan limbah yang terbentuk.

Reduction atau pengurangan limbah pada sumbernya adalah tindakan yang dapat mengurangi atau mencegah timbulnya pencemaran di awal konsumsi. Sebagai contoh saat kita membeli barang di swalayan, kalau kita bisa memakai tas kita untuk wadah dari barang tersebut, kita tidak perlu plastik sebagai wadah, kita juga bisa membawa ecobag sebagai wadahnya. Saat membeli makan, lauk pauk, minuman, kita bisa menggunakan tempat makan untuk mengurangi penggunaan plastik ataupun kertas minyak yang bisa menimbulkan pencemaran.

Reuse atau penggunaan kembali adalah suatu tindakan yang memungkinkan suatu limbah dapat digunakan kembali tanpa mengalami perlakuan fisika, kimia, ataupun biologi. Implikasi dari reuse adalah penggunaan kembali plastis sebagai pembungkus atau wadah barang saat membeli sesuatu. Recycle atau daur ulang adalah tindakan yang memanfaatkan limbah dengan memprosesnya menjadi barang atau alat yang dapat dicapai melalui perlakuan fisika, kimia, atau biologi. Sebagai contoh pemanfaatan botol air mineral menjadi tempat alat tulis, kardus bekas untuk tempat buku, dan lain sebagainya.

Sebenarnya tidak terlalu susah untuk menjadi konsumen yang cerdas, konsumen yang peduli lingkungan. Hal hal sederhana seperti yang tertulis di atas merupakan contohnya, ada juga contoh-contoh lain yang bisa dijadikan sikap “konsumsi bersih”. Kepedulian datang dari diri sendiri, kalau kita terlalu sering melihat dan mencontoh orang lain yang tidak peduli pada lingkungan, tentunya kepedulian susah untuk terbentuk. Mulailah dari diri sendiri untuk berubah, tidak perlu melihat orang lain, karena dengan kita peduli terhadap lingkungan, berarti kita telah menjaga keberlangsungan hidup manusia.

Kontributor : RIzqy Akhmad Tsani | SIL 50

Leave a Reply

Your email address will not be published.