Bermula hanya dari kerinduan akan tradisi mengaji di kampung halaman. Tidak ada lintasan akan berubahnya rindu itu menjadi sayang. entah apa yang menjadi alasan sayang itu. padahal darimu tak ku peroleh bongkahan emas, gunungan permata atau pun pangkat jabatan yang tinggi. justru darimu banyak perjuangan dan mungkin pengorbanan yang ku lakukan. tangis, sedih dan haru lah yang kerap ku lalui. akan tetapi seiring waktu berjalan, seiring itu pula ku temukan jawaban. jengkal demi jengkal dari langkah kakiku bersamamu, ku temukan jawaban. hanya dengan satu alasan inilah yang membuatku kian sayang padamu. seberat apapun ujian, sekeras apapun terpaan masalah, sebanyak apapun cucuran keringat yang keluar untukmu, sebanyak apapun acuhan yang tak menghargaiku, dan sejuta alasan lain yang memintaku meninggalkanmu.. maka cukuplah ALLOH menjadi alasan untuk aku tetap menyayangimu.
Seperti halnya daun di ranting, sayangku berubah dimakan oleh waktu. dulunya ia hijau, lalu menguning, kemudian mengering dan akhirnya gugur terpisah dari ranting. Meski begitu, ketahuilah aku tetap menyayangimu. hanya wujud sayangku yang berbeda. mungkin dulu sayangku nampak begitu amat besar seperti halnya daun hijau yang nampak begitu segar dan menyegarkan. lalu berubah warna menjadi kuning yang mungkin terkesan melayu. tapi ketahuilah, sejatinya aku tetap menyayangimu. hanya wujud sayangku saja yang berbeda. bahkan sama halnya dengan daun kering yang telah gugur dari ranting, aku tetap menyayangimu. hanya wujud sayangku saja yang berbeda. hanya caraku menyayangimu sajalah yang berbeda. sekali lagi, bagaimana pun pegang lah janjiku, aku tetap menyayangimu.
kmnuku sayang..
sayangku kmnu..
kmnu, ku sayang..
ku sayang kmnu..
Darmaga, 24 Robi’ul Awwal 1435H
salam sayang dari sang penyayang untuk yang tersayang

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *