Cilebut (08/03), bertempat di kediaman salah satu alumni Ponpes Raudhatut Tholibin (Rembang, Jawa Tengah), rekan-rekan KMNU IPB menghadiri pengajian yang diselenggarakan oleh Jama’ah Majlis Ta’lim Raudhatul Jannah. Pengajian yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. ini mengundang K.H. Ahmad Mushtofa Bisri (Rois Aam PBNU) sebagai pengisi mauidhoh hasanah. Acara dimulai dengan pembacaan yasin, tahlil dan maulid Syaraful Anam yang dipimpin oleh beberapa ibu-ibu anggota majlis ta’lim Raudhatul Jannah. Acara kemudian dilanjutkan dengan tilawatul qur’an yang disusul dengan sambutan dari perwakilan majlis ta’lim Raudhatul Jannah dan perwakilan alumni Ponpes Raudhatut Tholibin, Ustadz Misbah.
Tepat pada pukul 10.37 WIB, K.H. Ahmad Musthofa Bisri atau yang lebih akrab disapa dengan Gus Mus mulai menyampaikan mauidhoh hasanah dengan mengangkat bahasan “Cinta Rasululloh”. Beliau mengawali ceramah dengan menyampaikan bahwa saat ini banyak ummat Islam yang cinta terhadap  Rasulnya dengan cinta platonis, yakni cinta terhadap seseorang yang belum pernah ia jumpai dan kenali. Idealnya jika orang telah cinta, maka ia akan berusaha untuk mengenal yang dicintainya. Begitu halnya dengan cinta pada Rasululloh. Sayangnya, kini banyak ummat Islam yang mengaku cinta Rasululloh namun karena tak mengenal Rasululloh mereka melakukan tindakan-tindakan yang tidak disukai oleh Rasululloh. “Untuk itu, peringatan maulid nabi perlu dilaksanakan dalam rangka untuk mengenal lebih dekat Nabi Muhammad saw”, tutur Gus Mus.          
Gus Mus juga menyampaikan bahwa dalam Al Qur’an tidak akan kita jumpai Alloh memuji Nabi Muhammad saw. dalam hal paras maupun penampilan. Akan tetapi Alloh memuji Nabi Muhammad dalam hal akhlaq dan kesantunan beliau. Gus Mus mengatakan, “Rasululloh adalah manusia yang paling manusia, manusia yang mengerti manusia dan manusia yang memanusiakan manusia”. Untuk itu kita harus mensyukuri nikmat Alloh atas ditakdirkannya kita sebagai manusia yang menjadi ummat Rasululloh.
Rasululloh merupakan suri tauladan paling sempurna yang diutus untuk menyampaikan ajaran agama Islam, agama yang memerintahkan kewajiban-kewajiban yang tidak memberatkan ummatnya. “Innad diina yusrun, sesungguhnya agama itu mudah,” imbuh Gus Mus. Contoh kecilnya, haji diwajibkan bagi mereka yang mampu. Bagi yang tidak mampu maka tidak diwajibkan. Begitu pula zakat, hanya diwajibkan bagi mereka yang memiliki dan masih banyak hal lain yang jika kita renungkan agama memberikan kemudahan untuk ummatnya dalam beribadah.
Gus Mus menutup ceramahnya dengan menyampaikan esensi ajaran yang didakwahkan oleh Rasululloh saw. adalah kesederhanaan yang berimbang. Inilah yang harus diteladani dalam meneruskan dakwah Islam saat ini. Sederhana dan berimbang bagi yang kaya dan miskin, bagi yang terdidik dan tak terdidik, maupun bagi yang fanatik maupun yang loyal.
Usai memberikan mauidhoh hasanah, Gus Mus memimpin doa untuk menutup acara peringatan maulid Nabi tersebut. Setelah acara maulid Nabi ditutup, rekan-rekan KMNU IPB yang hadir dalam acara tersebut menemui Gus Mus untuk ‘ngaji’ lagi dengan beliau. Dalam ngaji singkat tersebut, Gus Mus menyampaikan bahwa kaum muda di lingkungan kampus seperti halnya KMNU IPB mulai saat ini harus bergerak untuk memberikan kontribusi nyata untuk NU. Nahdhatul Ulama’ (NU) dilahirkan dari jama’ah yang identik dengan sifat tradisional yang kemudian berkembang menjadi sebuah jam’iyyah atau organisasi yang dituntut untuk terorganisir, namun sampai saat ini belum terorganisir dengan baik. Untuk itu,  peran mahasiswa NU yang mengenyam kehidupan perguruan tinggi sangat diperlukan sebagai jembatan yang menghubungkan tradisionalisme tersebut dengan modernitas agar organisasi NU dapat terorganisir dengan baik.
Dalam ngaji singkat ini pula Gus Mus memberikan himbauan pada warga NU terutama mahasiswa Nahdhiyin yang saat ini mulai memasuki masa perang politik untuk tidak salah pilih pemimpin. “Pilihlah pemimpin yang mau memikirkan Indonesia dan juga rakyat Indonesia”, ujar beliau. Ngaji singkat ini diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Gus Mus. Melalui ngaji dengan ulama seperti ini, semoga semangat Nahdhiyin untuk menggerakkan NU kian membara. Bangkitlah NU-ku, sejahteralah bangsaku.
Ditulis oleh: UcHieb_udDien (Darmaga, 7 Jumadil Uulaa 1435 H)  

                       
1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *