Categories
KMNU IPB Uncategorized

KMNU IPB Meluruskan Pemahaman Sholawat melalui Kajian Umum “The Secret of Sholawat”

Tradisi sholawatan adalah tradisi kuno dan tidak berdalil? KMNU IPB mencoba meluruskannya. Melalui kajian umum “The Secret of Sholawat” yang diadakan pada Sabtu, 20 Desember 2014, KMNU IPB mencoba mengangkat isu sholawatan sebagai hal yang bid’ah dan tidak berdalil menjadi jelas hukumnya dalam Islam. Menghadirkan Ustadz Muhammad Yajid Kalam sebagai pembicara,

acara yang berlangsung sejak pukul 13.00 hingga 16.00 di Ruang Kuliah X.202 Fakultas Kehutanan IPB ini mampu memberikan pemahaman kepada peserta yang hadir tentang hukum dan makna sesungguhnya dari sholawat.
Ketua KMNU IPB, Achmad Mujib dalam sambutannya menyampaikan bahwa latar belakang diadakannya acara ini salah satunya berawal dari orang-orang pesantren yang sering menyebut-nyebut nama Baginda Nabi (bersholawat-red). Oleh karena itu, dengan diadakannya acara ini, ia berharap peserta menjadi tahu bagaimana cara “menyebut” nama Rosulullah SAW sehingga menjadi manusia yang utama di sisinya.
Dalam acara ini, ustadz muda dari Bandung yang lebih senang dipanggil Kang Yajid menjelaskan bahwa sholawat berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk jamak dari kata sholat. Arti sholat sendiri adalah doa. Jadi secara harfiah, sholawat berarti doa-doa bagi Baginda Rosulullah saw. Perintah untuk bersholawat telah jelas tertera dalam Al-Qur’an, salah satunya yang terdapat pada Qs. Al-Ahzab ayat 56. Dalam ayat tersebut, disebutkan bahwa bukan hanya manusia, namun Allah dan para malaikat pun bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
“Siapa bilang sholawat tidak disyari’atkan? Yang bilang seperti itu berarti dia menyalahi surat Al-Ahzab,” tegas Kang Yajid.
Satu persatu “rahasia-rahasia” dibalik sholawat pun dipaparkan oleh Kang Yajid. Dari keutamaan, isu-isu yang sering menjadi perdebatan antar golongan umat islam sendiri, cara bersholawat, hingga kisah-kisah orang-orang shalih yang berkaitan dengan sholawat. Salah satu kisah yang dapat menjadi pelajaran bagi umat muslim adalah kisah tentang orang yang lalai bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW sehingga menyebabkan Rosulullah tidak mengenalinya ketika bermimpi bertemu dengan Baginda. Barulah ketika ia membiasakan dirinya bersholawat sebanyak seratus kali dalam sehari, di mimpi selanjutnya Rosulullah SAW mengenalinya dan memberi syafaat kepadanya. Lalu, bagaimana dengan masalah dilagukannya pembacaan sholawat (diiringi hadrah)? Pembacaan sholawat dengan cara didendangkan (dilagukan) tidaklah mengapa, karena Rosulullah SAW pun sembari mempersiapkain perang ahzab, mendendangkan doa-doa keselamatan. Tak lupa, pembacaan mahallul qiyam yang diiringi tim hadrah KMNU IPB pun disisipkan dalam rangkaian acara ini dan membuat peserta yang hadir larut dalam puji-pujian kepada Rosulullah SAW.
Kajian umum yang penuh dengan pembacaan sholawat ini bukan hanya dihadiri oleh anggota KMNU IPB, namun juga dihadiri oleh organisasi-organisasi islam intra kampus lainnya seperti Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM) dan lembaga-lembaga dakwah fakultas yang ada di IPB.

Leave a Reply

Your email address will not be published.