Categories
KMNU IPB Uncategorized

Kisah Mangga, Pisau, & KMNU IPB

Seperti biasanya, setiap jumat sore kami punya agenda cangkrukan bareng di koridor kampus. Salah seorang teman kami, baru datang dari kampung halamannya. Rupanya dia membawa sebungkus buah mangga yang ranum. Pasti enak dan segar sekali dinikmati di waktu sore sehabis kuliah seharian tadi.
 
“Teman-teman, saya baru tiba. Sewaktu di rumah kemarin, pohon mangga di halaman sedang berbuah. Lebat sekali buahnya. Kata emak, suruh bawa saja untuk oleh-oleh untuk kawan di kampus. Ini, ku bawakan untuk kalian. Ayo, dimakan. Tapi maaf, saya tidak punya pisau. Jadi mangganya belum bisa saya kupas. Adakah yang bersedia mengambilkan pisau untuk ngupas mangga ini?”

Jika ternyata tidak ada satu pun orang yang bersedia mengambil pisau (punya sendiri, pinjam, atau pun beli), apakah semua orang yang sedang berkumpul sore itu akan dapat merasakan segarnya buah manga yang ranum tadi? Tentu tidak.
***

Pernah suatu ketika, saya sesekali makan 2 kali sehari dengan dua potong roti. Hmmm.. rasanya tak nikmat. Sejak saat itu, ada perasaan yang tak pas ketika saya melihat orang yang meminta-minta.
Saya bersyukur saya diberi rasa iba. Rasa itu penting. Rasa membuat kita untuk peka.
***

Kawan, saya dulu di KMNU tak pernah membayangkan akan kenal dengan kalian. Dengan zimam, hasan, fiyah, nudhar, hannim, sholah, wiwik, memey, wati, sahlin, oki, dan lainnya..
Saya juga tak pernah membayangkan akan berkesempatan untuk sowan dan bertemu dengan KH. Hasyim Muzadi, Pak Zawawi, Pak Nandang, Pak ahmad Baso… juga kenal dengan para pembina..
***

KMNU adalah tempat yang enak. Ekstrimnya surga. Hanya saja, bagi sebagian orang, belum ketahuan bagusnya.
Jadi, bagi yang mampu memberi pasir, kasihlah pasir.
Jika ada yang mampu memberi batako, berilah batako.
Ada pula yang bisa membeli genteng, berilah genteng.
Berilah, sebanyak apa yang kau punya.
Jangan pernah merasa, kamu tidak bisa memberi apa-apa.
karena semuanya berawal dari rasa, kemudian proses rela mengambil peran, dan menjalankan peran.
kalau tak ada yang bersabar mengambilkan pisau, semua pasti tak akan bisa merasakan nikmatnya mangga yang tadi saya bawa.
Jadi bagi siapa yang belum tau enaknya, yakin saja. Yakinlah bahwa ada surga.
Hingga belum ketemu pun, cobalah bersabar. Bersabar untuk membantu mengambilkan pisau.
Mari melatih diri kita untuk sabar menunggu. Karena pada saatnya, saya yakin teman-teman akan merasakan sesuatu yang berbeda. Indah.
Terus terang, Saya sangat bahagia melihat adek-adek semua. Terutama saat pergantian pengurus.
Saya tak pernah membayangkan KMNU akan menjadi seperti ini.
Adek-adek menjadi bagian penting dalam bagian hidup yang saya lalui.
Jadi, cari tahu apa yang bisa kita lakukan. Jangan terlalu banyak diam ketika teman kita yang lain sedang sibuk.
Hal gampangnya, ketika sedang beres-beres selepas acara, kursi berantakan, sampah berserakan, kalau orang yang tak peka, pasti akan ditinggal pergi saja.
Kalian, orang yang paling berperan, agar nanti KMNU akan enak bagi siapa pun.
Proses ikhtiar, rela, ikhlas, apapun itu.. itulah yang menimbulkan kenikmatan yang semula kalian tidak tahu.

—Dikutip dari penyampaian Mas Nailul Abror, untuk zimam dan kawan 46 lainnya, sekitar 1,5 tahun yang lalu =D —

Leave a Reply

Your email address will not be published.