Categories
Renungan Uncategorized

Kegilaan-KU tiada pernah sempurna

Mungkin sudah menjadi rutinitas bahkan tradisi dikalangan santri dan warga Nahdliyyin akan istilah “bersholawat”. Bait-bait syair sholawat yang mengandung butir-butir mutiara yang sangat indah. Diantara karya sastra yang sangat masyhur adalah Syair-syair Burdah, karya besar Abu Abdillah Muhammad Said Al-Busairy dengan judul kitab Hasyiyah Bajuri ala Matnil Burdah.

Segala puji bagi Allah SWT dan Sholawat serta salam berlimpah keharibaan Nabi Muhammad SAW, seorang hamba yang mempunyai berbagai kesempurnaan dan keistimewaan.  Bahkan syaikh Al-Bajuri Ibrahim berkata : “ketahuilah! Seberapa banyak pun puji sanjungan yang dilantunkan ahli-ahli syair terhadap Nabi Muhammad SAW. Tidaklah pernah mencapai kesempurnaan. Karena kesempurnaan Rasulullah SAW tiada terhitung jumlah kemuliaannya.”

Begitu banyak dan dahsyatnya sanjungan terhadap Rasulullah SAW, andaikata dihimpun dan dikumpulkan menjadi satu, jutaan bahkan ribuan syair lalu digunakan untuk menghitung perangai dan kemuliaan Nabi maka tak ada seorang pun yang mampu merinci, sanjungan dan pujian dari Allah SWT.

Syair mengatakan, “ Aku melihat setiap sanjungan untuk Nabi tiada pernah mencapai sisi kesempurnaan. Walaupun orang yang memuji itu berlebihan dab begitu banyak penyanjung beliau (Rasulullah)  karena Allah Swt telah memuji beliau dengan pujian yang sepatutnya. Maka apalah artinya pujian makhluk dibandingkan dengan pujian Sang Khaliq.” Bahkan ahli balaghah mengatakan bahwa mereka (para penyair) hanya sebagian kecil dari sekian banyak Kemuliaan.  Kenapa kita bersholawat dan melantunkan syair-syair pujian kepada Rasulullah? Ahli sastra memandang bahwa pujian dan sanjungan kepada baginda Rasulullah merupakan sebesar-besarnya Taqarrub dan perbuatan taat. Demi bergantung kepada pribadinya yang mulia dan mengambil berkah dengan berkhidmat pada keagungan Beliau baginda Rasul Saw. Sehingga para ahli sastra, ahli balaghah, dan para penyair banyak menyusun syair-syair pujian yang indah untuk beliau Rasul Saw.

          Syekh Syarifuddin Abu Abdillah Muhammad bin Said Al-Busairi menyusun bait syair dengan kemasan emas kuning dan dirangkainya laksana untaian mutiara dan permata yang disebut Qashidah Burdah. Alkisah, pada saat beliau menyusun nazam/ bait-bait syair beliau sedang menderita lumpuh. Kelumpuhan beliau bahkan menyerang hampir separoh dari anggota tubuh. Bahkan para tabib atau dokter sudah menyerah dan tidak sanggup lagi mengobati penyakit beliau. Pada suatu malam beliau bermimpi berjumpa Rasulullah Saw dalam mimpi Rasul mengusapkan tanganya  nan yang mulia pada bagian tubuh Al-Busairi yang sakit, maka penyakit beliau dengan izin Allah Swt sembuh.

    Dari kisah tersebut sebagian ulama mengatakan bahwa syair Burdah lebih sesuai dinamakan qashidah  “Bara-ah” karena pengarangnya bebas dari penyakit, lantaran qashidah tersebut. Syair beliau dimulai dengan bait yang berisi pujian kepada Allah Swt dan sholawat kepada Nabi Muhammad Saw.
“Segala puji bagi Allah yang menciptakan Makhluk dari tiada, Sholawat bagi Rasulullah yang telah ada sebelum alam ini ada” Ada satu bait syair yang sangat indah saat penulis (Al-Busairi) melarang dirinya berputus asa dan berkata bahwa beliau tiada pernah berputus asa namun takut terputus dari RahmatNya lantaran dosa yang diperbuat. “Semoga Rahmat Tuhanku saat dibagikan, terbagi rata atas orang orang bergelimang maksiat perbuatannya , Wahai Tuhan. . .  jadikanlah harapanku kepadaMu tiada tertolak di sisi-Mu, dan jadikanlah tak terobek hisab amalku nanti.”

Wallahu a’lam

Kontributor : Ahmad Nur Hijayat

Leave a Reply

Your email address will not be published.