Categories
Kajian Islam KMNU IPB Renungan Uncategorized

Jati diri Sarjana Perikanan dan Pertanian Melalui Ilmu Thoriqah

Allah Swt memberikan wahyu kepada Nabi Dawud yang Allah taala juga berikan kepada nabi Muhammad Saw perintah wahyu tersebut supaya kita memperbanyak bahagia karena kita menyembah Allah Swt, berbahagia dan memperbanyak kebahagiaan disaat hati kita tunduk mengagumi kebesaran Allah.

Dalam perjalanan ilmu thoriqah orang yang menyebut nama Allah tetapi hatinya tidak ikut menyertakan Allah maka orang tersebut adalah bohong menjadikan Allah Swt. Sebagai Tuhannya, karena dalam hatinya masih dipenuhi hawa nafsu. Dan sampai kapanpun orang seperti ini takkan pernah merasa bahagia tatkala menyebut nama Allah. Bagi tingkatan orang-orang shiddiqiin hal ini termasuk orang-orang yang tertolak untuk duduk dihadapan Allah Swt. Tetapi bagi tingkatan muridiin orang yang meresap dzikirnya kepada Allah Swt. termasuk orang-orang yang dicintai Allah swt. Sekalipun hati berfikir kemana-mana saat berdzikir. Lebih baik lidah menyebutkan dzikirullah sekalipun hati masih terpaut hal duniawi lainnya. Hanya saja tingkatan pertama muridiin susah untuk memperolah “wijdan.”

Orang yang lidahnya meembaca Al quran, menyebut Allahu Allah, tetapi hatinya tidak merasakan kebesaran Allah Swt. Maka tidak akan pernah mendapatkan wijdan. Seperti apa wijdan tersebut? Ketidaktahuan kita sering kali membuat kita menyalahkan orang lain. Karena orang bodoh cenderung menyalahkan dan orang pandai cenderung berdzikir. Sebagian para alim ulama berkata tentang wijdan “aku berjalan menuju makkah al mukarromah, tatkala aku sudah sampai di kota makkah, di depan kabah aku melihat ada orang tua pada tangannya alquran, orang tua tersebut memandang alquran dia bergoyang dan belum dibaca alquran tersebut olehnya. Lalu aku mengahadap orang tersebut, dan bertanya kepadanya. Ciri orang alim saat belum mengetahui suatu hal adalah dengan bertanya sampai faham dan memperoleh ilmu. Bagaikan lautan tiada pernah merasa cukup dengan turunnya hujan sebanyak apapun sekalipun lautan nantinya akan membanjiri daratan. Orang tua tersebut menjawab, jauhkan dirimu dari aku biarlah aku begini (bergoyang) engkau tiada mengetahui keadaanku. Maksud orang tua tersebut adalah saya ini hanyalah seorang hamba yang tiada artinya dan tiada nilai, yang aku baca adalah ucapan dzat yang maha mulia kalamullah Al quran dan rumah siapa yang aku datangi? Ka’bah baitullah, aku adalah hamba yang penuh dosa dan Allah mengizinkanku membaca kalam-Nya yang mulia dan Allah memberikanku kesempatan hadir berkunjung di rumah-Nya lalu aku merasa bahagia dengan hal itu dan merasa badanku bergoyang sebagai wujud bersyukur karena Allah memberikanku izin membaca kalam-Nya dan hadir di rumah Nya, goyangan ini adalah goyangan kebahagiaan. Bergoyanglah karena kita berbahagia menjadi hamba Allah, menangislah karena banyak dosa kita yang belum diampuni Allah, bukan menangis karena jatuh dalam usaha karena Allah tidak memperkenankan hal yang demikian, menangis karena dosa kita yang terlalu banyak dan merasa belum diampuni.

Tatkala di malam hari tidak menunaikan sholat tahajjud itu yang lebih layak untuk kita tangisi dan air mata yang kelak akan dimulyakan oleh Allah Swt dan inilah makna Allahu Akbar. Wijdan merupakan tarikan hati karena hati memandang diri kita rendah dan memandang Allah dzat yang maha mulia lalu kita lebur dalam kekuasaan Allah, diriku yang berlumur dosa lalu Allah gerakkan lidah kita menyebut nama Allah kemudian hati terbuka menerima sirrun (rahasia) dari Allah kemudian bergoyang, itulah yang disebut wijdan. Goyangan hati yang tunduk dihadapan Allah Swt. Goyangannya pun tentu dengan tarikan tarikan makna laailaha illallah sampai nafas kemudian ke kanan kena dua lathifah kemudian ke kiri kena dua lathifah kemudian ke tengah melewati lathifatul akhyar, jadi goyangannya pun teratur. Pohon yang di terpa angin dan melambai atau bergoyang pertanda pohon tersebut kokoh akar tancapnya. Jika banyak melafadzkan laailaha illallah dan laailaha illallah masuk kedalam hati futuhatul ilahiyyah maka orang tersebut goyangannya masuk kedalam lathifah dan tidak akan patah tertimpa musibah.

Di dalam Alquran lafadz “idza” dan “in” memiliki faidah atau fungsi yang berbeda, hal ini dibahas dalam ilmu balaghah. Lafadz idza masuk pada sesuatu yang jasmu’ sesuatu yang pasti dan kita tidak akan bisa menolaknya. Lalu lafadz in biasanya masuk pada fiil mudhore’ dan maknanya adamul jasmi atau nadzirun sesuatu yang tidak pasti dan biasanya kejadiannya jarang.

Sebesar apapun musibah tatkala hati masih bisa melafadkan laa ilaha illallah pasti akan terlalui, banyak hal yang didunia ini tak bisa diselesaikan dengan uang dan materi. Wal akhiratu khoirul laka minal ulaa, dzikir adalah urusan kita dengan Allah. Ada banyak yang mengatakan saya sudah lama dzikir tapi ekonomi tetap seperti ini, kalau sampai kita hitung hitungan dan Allah pun mulai hitung-hitungan maka tidak akan ada satupun makhluk dunia yang akan selamat. Nikmat yang besar adalah saat lidah kita berdzikir kepada Allah swt. Musibah hanya ada dunia dan tidak akan pernah ada di akhirat yang ada hanyalah siksa, sebesar apapun musibah pasti ada jalan keluar dan se-sabar apapun kita di akhirat siksa tiada pernah ada habisnya. Nikmat Allah pasti datang adanya dan begitu besar, karena hawa nafsu nikmat yang besar tersebut tertutup oleh hawa nafsu. Dan nikmat Allah menjadi terlupa. Tidak ada makhluk satupun yang mengatakan terlepas dari nikmat Allah. Karena lafadz idza masuk ke dalam fiil madhi adalah sesuatu yang tidak akan tertolak.

Dalam ilmu thoriqah seperti apakah keadaan hati ini dan agama melihat akhirat lebih dekat. Kita hidup banyak mendapatkan nikmat Allah swt. Daripada tatkala mendapatkan musibah dan setanlah yang menutup kita dari rasa syukur kepada Allah swt. Sebab kalau orang sudah merasa sedih kemudian akan menyalahkan agama.

Waktu kita bekerja maka bekerjalah sungguh sungguh, tatkala berdzikir maka berdzikirlah khusu’ kepada Allah supaya memperoleh wijdan dan lezatnya wijdan jauh lebih nikmat daripada dunia dan seisinya. Melalui ilmu sains dan terapannya dalam bidang pertanian dan perikanan serta disiplin ilmu yang lainnya semoga kita senantiasa mengagungkan kebesaran ciptaan Allah swt dan merasa bahwa diri kita masih membutuhkan bimbingan para dosen, kiai, alim ulama, dan Al mursyid. Sebaik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain, semoga dengan ilmu dan amaliah kita senantiasa menjadikan amal sebagai amaliah yang mutaaddi dan istiqamah, sebagai rahmat bagi seluruh alam. (ibnun)

Kajian Ilmu Thoriqah fi ma’had Raudhah Al Hikam masyayikhinaa Al Mursyid Kiai Zain

Leave a Reply

Your email address will not be published.