Langit di Ufuk Barat : Harmoni Manusia dengan Alam

0
241
Jadi saya akan membahas mengenai tema pertanian dalam arti luas namun dengan topik lebih spesifik tentang pranata mangsa: harmoni antara manusia dan alam. Pertama nanti mengenai dunia pertanian, kedua nelayan, ketiga tentang fenomena alam. Sehingga harmoni manusia dengan alam tidak hanya terjadi pada petani tapi juga terjadi pada nelayan serta leluhur-leluhur kita. Oiya bismillah ila akhirihi, tulisan ini lebih kepada ekosistem langit yang dibuat tanpa pondasi serta ajaran leluhur untuk senantiasa harmoni kepada alam semesta. Dari judul dulu ya gaes, itu diambil pas perjalanan menuju lamongan, fenomena sekumpulan awan yang membentuk wujud tertentu mungkin bagi botanis kejawen mempercayai ada makna tersirat didalamnnya.   Manusia dan alam memiliki ikatan yang saling membutuhkan. Pelestarian alam dan keseimbangannya perlu dijaga agar tercipta kehidupan yang lebih harmonis. Perilaku manusia yang kurang bertanggung jawab menjadi salah satu faktor terjadinya perubahan iklim. Iklim yang berubah memiliki pengaruh besar terhadap pengelolaan pertanian. Petani Jawa masih ada sebagian yang melestarikan kearifan lokal sebagai salah satu cara untuk menjaga keseimbangan alam. Kearifan lokal yang berkaitan dengan pertanian adalah penggunaan kalender pranata mangsa sebagai ketentuan untuk mengolah lahan pertanian (Harini et al. 2019). Pemahaman petani jawa untuk memanfaatkan fenomena alam sebagai pedoman berocok tanam dengan sistem pranatamongso merupakan salah satu bentuk kemampuan manusia memahami lingkungan yang melahirkan praktek pengelolaan lingkungan berbasis kearifan ekologi (Anariza 2016). Sebagaimana kalender tanam leluhur atau pranata mangsa. Pranata Mangsa berasal dari kata “pranata” yang berarti aturan dan “mangsa” berarti masa atau musim. Jadi pranata mangsa sejatinya memberi informasi tentang perubahan musim yang terjadi setiap tahunnya. Pranata Mangsa didasarkan atas peredaran matahari tanpa didukung oleh teori-teori pertanian modern dan alat-alat pertanian modern. Murni berdasarkan atas pengamatan yang teliti terhadap gejala perubahan yang terjadi pada lingkungan hidupnya1. Menurut wisnubroto (1995) pranata mangsa dapat dimanfaatkan sebagai pedoman berbagai kegiatan terutama dalam bidang bercocok tanam. Pembagian umurnya cukup teliti yang dapat disejajarkan dengan kalender Gregorian sampai batas tertentu sesuai dengan keadaan meteorology. Menurut Wisnubroto (1998) banyak petani di Jawa tengah dapat memprakirakan secara semikuantitatif permulaan musim hujan dan permulaan musim kemarau dan juga dapat menentukan waktu yang tepat untuk menanam padi supaya terhindar dari hama dan penyakit. Lihat? Bagaimana leluhur dulu melakukan observasi bahasa kerennya riset ratusan tahun sampai menghasilkan teorema pranata mangsa yg umumnya berlaku di jawa. Sebab daerah lain memiliki kearifan lokalmya masing-2. Lanjut lagi, sekali lagi kita dapat melihat bagaimana langit dikelola sedemikian rupa dengan ciri-2 nya sehingga menjadi titen dan disempurnakan terus menerus menjadi aturan musim di jawa. Langit bagi nelayan tentu menjadi kompas di malam hari juga menjadi titen atau penanda musim ikan tangkap beserta letak koordinatnya meskipun menggunakan feeling good lakasut namun terbukti top cerr selama ratusan tahun silam. Sebagaimana yang saya temui nelayan di natuna mereka masih menggunakan penanggalan namun berdasarkan bulan, di bulan ini musim ikan ini di sebelah sini. Kok keren sekali umatnya kanjeng nabi, bahkan sebelum teknologi gps ditemukan sudah ngambah samudra sak jabalekat.  Tentu kemunculan bentuk awan menyerupai wujud sesuai sudah menjadi hal yang tidak aneh lagi bagi kalangan botanis kejawen. Entah ini isyarat leluhur dalam mengemong anak turunnya di bumi pertiwi ini atau bagaimana yang jelas, tidak ada yang namanya kebetulan. Semua ada makna dan pesannya masing-2 tinggal kita mampu menangkap dan menterjemahkannya atau tidak. Sebagaimana awan caping di atas gunung ternyata telah terbukti bahwa kemunculan awan seperti itu menurut ilmu sains berguna untuk meredam gempa yang terjadi.  Memang, landasan keilmuan serta kesadaran dalam rangka mencari tujuan kehidupan alias menuju rohmat tuhan tentu mendapatkan dampak yang berganda. Pertama sadar bahwa ini memang kuasa tuhan dan kedua semakin yakin karena ilmunya mengantarkan ia kepada pengagungan tuhan semesta. Sungguh beruntung, botanis kejawen itu, agama, sains, dan kejawen diramu menjadi sebuah penghambaan total kepada tuhan. Ajaran budi luhur sebagaimana tugas kenabian untuk menyempurnakan akhlak umat ini tentu sangat korelatif juga dengan alam.  Menyambung kembali mengenai akhlak  bahwa akhlak di sini tidak hanya kepada manusia tapi juga ke seluruh makhluknya apalagi yang berada di bumi nusantara ini. Satu dari tak kira hitungan yang menjadi contoh kekuasaan tuhan. Namun, tuhan justru menghendaki dan menunjukkan sifat kasih sayangnya daripada sifat kuasanya dan kekuataannya. Sebagaimana tuhan mengajarkan kita untuk memulai segala sesuatu yang baik dengan bacaan bismillahirrohmanirrohim. Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang (ajaran maiyah). Maka dari itu, berkasih sayanglah kamu sekalian kepada seluruh makhluk tuhan. Saling bekerja sama dalam kebaikan. Berharmoni dalam kehidupan. Tentu jika hal tersebut sudah terjadi. Tanda dunia tidak akan lama lagi Wallahu a’lam  Daftar Referensi https://8villages.com/full/petani/article/id/5a9fc1f1dc2ada6b3fb971c0. (29 Mei 2020) Anazifa RD. 2016. Pemanfaatan sains tradisional jawa sistem pranatamangsa melalui kajian etnosains sebagai bahan ajar biologi. Pros Demnas Pend IPA Pascasarjana UGM vol 1. Harini S, Sumarmi, Wicaksono AG. 2019. Manfaat penggunaan pranata mangsa bagi petani Desa Mojoreno Kabupaten Wonogiri. Jurnal Inada 2(1):82-97. Wisnubroto S. 1995. Pengenalan waktu tradisional menurut jabaran meteorology dan pemanfaatannya. Jurnal agromet 11(1):15-22. Wisnubroto S. 1998. Sumbangan pegenalan waktu tradisional Pranata Mangsa pada pengelolaan hama terpadu. Jurnal perlindungan tanaman Indonesia 4(1):46-50.

Jadi saya akan membahas mengenai tema pertanian dalam arti luas namun dengan topik lebih spesifik tentang pranata mangsa: harmoni antara manusia dan alam. Pertama nanti mengenai dunia pertanian, kedua nelayan, ketiga tentang fenomena alam. Sehingga harmoni manusia dengan alam tidak hanya terjadi pada petani tapi juga terjadi pada nelayan serta leluhur-leluhur kita.

Oiya bismillah ila akhirihi, tulisan ini lebih kepada ekosistem langit yang dibuat tanpa pondasi serta ajaran leluhur untuk senantiasa harmoni kepada alam semesta. Dari judul dulu ya gaes, itu diambil pas perjalanan menuju lamongan, fenomena sekumpulan awan yang membentuk wujud tertentu mungkin bagi botanis kejawen mempercayai ada makna tersirat didalamnnya.

 Manusia dan alam memiliki ikatan yang saling membutuhkan. Pelestarian alam dan keseimbangannya perlu dijaga agar tercipta kehidupan yang lebih harmonis. Perilaku manusia yang kurang bertanggung jawab menjadi salah satu faktor terjadinya perubahan iklim. Iklim yang berubah memiliki pengaruh besar terhadap pengelolaan pertanian. Petani Jawa masih ada sebagian yang melestarikan kearifan lokal sebagai salah satu cara untuk menjaga keseimbangan alam. Kearifan lokal yang berkaitan dengan pertanian adalah penggunaan kalender pranata mangsa sebagai ketentuan untuk mengolah lahan pertanian (Harini et al. 2019). Pemahaman petani jawa untuk memanfaatkan fenomena alam sebagai pedoman berocok tanam dengan sistem pranatamongso merupakan salah satu bentuk kemampuan manusia memahami lingkungan yang melahirkan praktek pengelolaan lingkungan berbasis kearifan ekologi (Anariza 2016).

Sebagaimana kalender tanam leluhur atau pranata mangsa. Pranata Mangsa berasal dari kata “pranata” yang berarti aturan dan “mangsa” berarti masa atau musim. Jadi pranata mangsa sejatinya memberi informasi tentang perubahan musim yang terjadi setiap tahunnya. Pranata Mangsa didasarkan atas peredaran matahari tanpa didukung oleh teori-teori pertanian modern dan alat-alat pertanian modern. Murni berdasarkan atas pengamatan yang teliti terhadap gejala perubahan yang terjadi pada lingkungan hidupnya1.

Menurut wisnubroto (1995) pranata mangsa dapat dimanfaatkan sebagai pedoman berbagai kegiatan terutama dalam bidang bercocok tanam. Pembagian umurnya cukup teliti yang dapat disejajarkan dengan kalender Gregorian sampai batas tertentu sesuai dengan keadaan meteorology. Menurut Wisnubroto (1998) banyak petani di Jawa tengah dapat memprakirakan secara semikuantitatif permulaan musim hujan dan permulaan musim kemarau dan juga dapat menentukan waktu yang tepat untuk menanam padi supaya terhindar dari hama dan penyakit.

Lihat? Bagaimana leluhur dulu melakukan observasi bahasa kerennya riset ratusan tahun sampai menghasilkan teorema pranata mangsa yg umumnya berlaku di jawa. Sebab daerah lain memiliki kearifan lokalmya masing-2. Lanjut lagi, sekali lagi kita dapat melihat bagaimana langit dikelola sedemikian rupa dengan ciri-2 nya sehingga menjadi titen dan disempurnakan terus menerus menjadi aturan musim di jawa.

Langit bagi nelayan tentu menjadi kompas di malam hari juga menjadi titen atau penanda musim ikan tangkap beserta letak koordinatnya meskipun menggunakan feeling good lakasut namun terbukti top cerr selama ratusan tahun silam. Sebagaimana yang saya temui nelayan di natuna mereka masih menggunakan penanggalan namun berdasarkan bulan, di bulan ini musim ikan ini di sebelah sini. Kok keren sekali umatnya kanjeng nabi, bahkan sebelum teknologi gps ditemukan sudah ngambah samudra sak jabalekat.

Tentu kemunculan bentuk awan menyerupai wujud sesuai sudah menjadi hal yang tidak aneh lagi bagi kalangan botanis kejawen. Entah ini isyarat leluhur dalam mengemong anak turunnya di bumi pertiwi ini atau bagaimana yang jelas, tidak ada yang namanya kebetulan. Semua ada makna dan pesannya masing-2 tinggal kita mampu menangkap dan menterjemahkannya atau tidak. Sebagaimana awan caping di atas gunung ternyata telah terbukti bahwa kemunculan awan seperti itu menurut ilmu sains berguna untuk meredam gempa yang terjadi.

Memang, landasan keilmuan serta kesadaran dalam rangka mencari tujuan kehidupan alias menuju rohmat tuhan tentu mendapatkan dampak yang berganda. Pertama sadar bahwa ini memang kuasa tuhan dan kedua semakin yakin karena ilmunya mengantarkan ia kepada pengagungan tuhan semesta. Sungguh beruntung, botanis kejawen itu, agama, sains, dan kejawen diramu menjadi sebuah penghambaan total kepada tuhan. Ajaran budi luhur sebagaimana tugas kenabian untuk menyempurnakan akhlak umat ini tentu sangat korelatif juga dengan alam.

Menyambung kembali mengenai akhlak  bahwa akhlak di sini tidak hanya kepada manusia tapi juga ke seluruh makhluknya apalagi yang berada di bumi nusantara ini. Satu dari tak kira hitungan yang menjadi contoh kekuasaan tuhan. Namun, tuhan justru menghendaki dan menunjukkan sifat kasih sayangnya daripada sifat kuasanya dan kekuataannya. Sebagaimana tuhan mengajarkan kita untuk memulai segala sesuatu yang baik dengan bacaan bismillahirrohmanirrohim. Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang (ajaran maiyah). Maka dari itu, berkasih sayanglah kamu sekalian kepada seluruh makhluk tuhan. Saling bekerja sama dalam kebaikan. Berharmoni dalam kehidupan. Tentu jika hal tersebut sudah terjadi. Tanda dunia tidak akan lama lagi

Wallahu a’lam

Ahmad Fauzi Ridwan

Daftar Referensi

  1. https://8villages.com/full/petani/article/id/5a9fc1f1dc2ada6b3fb971c0. (29 Mei 2020)
  2. Anazifa RD. 2016. Pemanfaatan sains tradisional jawa sistem pranatamangsa melalui kajian etnosains sebagai bahan ajar biologi. Pros Demnas Pend IPA Pascasarjana UGM vol 1.
  3. Harini S, Sumarmi, Wicaksono AG. 2019. Manfaat penggunaan pranata mangsa bagi petani Desa Mojoreno Kabupaten Wonogiri. Jurnal Inada 2(1):82-97.
  4. Wisnubroto S. 1995. Pengenalan waktu tradisional menurut jabaran meteorology dan pemanfaatannya. Jurnal agromet 11(1):15-22.
  5. Wisnubroto S. 1998. Sumbangan pegenalan waktu tradisional Pranata Mangsa pada pengelolaan hama terpadu. Jurnal perlindungan tanaman Indonesia 4(1):46-50.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here