Hari Hutan Internasional: Hutan dan Keanekaragaman Hayati

0
248
Hari Hutan Internasional diperingati pada 21 Maret setiap tahunnya. Penetapan ini berdasarkan pada hasil Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Resolusi Nomor 67/200 Tahun 2012. Tujuan ditetapkannya Hari Hutan Internasional adalah untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keberadaan semua jenis hutan dan pohon di luar hutan. Berdasarkan UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Jika kita berbicara tentang hutan, maka kita tidak hanya membicarakan tentang kawasannya saja, tetapi meliputi seluruh komponen yang menjadi penyusun ekosistem hutan tersebut seperti tumbuhan, satwa, dan seluruh keanekaragaman hayati yang ada di dalam hutan. Di Indonesia, luasan hutan berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sekitar 125,9 juta hektare (ha) atau seluas 63,7% dari luasan Indonesia. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, meliputi keanekaragaman hayati flora maupun fauna yang ada. Hutan Indonesia ditumbuhi 11% spesies tumbuhan, 12% mamalia, 15% herpetofauna, serta 17% burung dari total populasi dunia. Hal tersebut merupakan modal dasar bagi bangsa Indonesia untuk dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS) di bidang hutan tropika. Hutan-hutan tersebut juga memberikan banyak produk seperti kayu, buah, sayuran, kacang-kacangan, rempah-rempah, obat-obatan, minyak atsiri, pakan ternak, tumbuhan pewarna, pestisida, dan lain-lain. Keanekaragaman hayati yang ada di dalam hutan tersebut merupakan sarana untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia. Dalam ilmu etnobiologi, masyarakat di Indonesia telah lama berinteraksi dengan ekosistem hutan, sehingga muncul pengetahuan lokal tentang pemanfaatan keanekaragaman hayati yang ada di dalam hutan berdasarkan pengalaman masyarakat selama puluhan bahkan ratusan tahun serta melalui proses seleksi dan adaptasi. Pengetahuan lokal (tradisional) masyarakat tersebut harus dijadikan sebagai soko guru (modal dasar) dalam pengembangan industri dan perekonomian negara, khususnya di bidang pangan dan obat. Menurut Hidayat et al. (2010) sesungguhnya lebih dari 6000 spesies tumbuhan dan hewan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Hutan Indonesia telah menyediakan pangan dan obat yang dapat dijadikan sebagai komoditas unggulan pada masing-masing lokasi yang khas dan spesifik. Berdasarkan data penelitian yang dilakukan oleh Hidayat et al. (2010), terdapat lebih dari 100 spesies tumbuhan biji-bijian, sagu, dan umbi-umbian penghasil tepung dan gula, lebih dari 100 spesies tumbuhan kacang-kacangan sebagai penghasil protein dan lemak, 450 spesies tumbuhan buah-buahan sebagai sumber vitamin dan mineral, lebih dari 250 spesies tumbuhan sayur-sayuran sebagai sumber vitamin dan mineral, 70 spesies tumbuhan bumbu dan rempah-rempah, serta 40 spesies tumbuhan bahan minuman. Seluruh potensi keanekaragaman hayati hutan Indonesia tersebut sudah sepatutnya kita manfaatkan untuk mendukung perbaikan kualitas hidup masyarakat Indonesia. Kekayaan hutan Indonesia harus dikelola dan dimanfaatkan secara adil dan lestari guna mendukung pembangunan berkelanjutan. Sudah sepatutnya kita fokus pada pengembangan potensi lokal hutan Indonesia yang sangat kaya dan beragam, dimana pada setiap tempat memiliki kekhasan masing-masing yang barangkali satu tempat berbeda dengan tempat yang lainnya. Hutan dan keanekaragaman hayati merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, jika hutan lestari maka keanekaragaman hayati akan tetap terjaga. Pada momen Hari Hutan Internasional ini mari kita berpikir untuk mengembangkan potensi hutan Indonesia dengan tetap menjaga kelestariannya. Bukan hutan rusak yang kita takutkan; tetapi moral, akhlak, dan iman rusak itulah yang kita takutkan (Prof. Dr. Ir. Ervizal AM Zuhud, MS)
https://www.liputan6.com/global/read/3950213/miris-manusia-rusak-hutan-tropis-seluas-inggris-pada-2018

KMNU IPB – Hari Hutan Internasional diperingati pada 21 Maret setiap tahunnya. Penetapan ini berdasarkan pada hasil Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Resolusi Nomor 67/200 Tahun 2012. Tujuan ditetapkannya Hari Hutan Internasional adalah untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keberadaan semua jenis hutan dan pohon di luar hutan.

Berdasarkan UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Jika kita berbicara tentang hutan, maka kita tidak hanya membicarakan tentang kawasannya saja, tetapi meliputi seluruh komponen yang menjadi penyusun ekosistem hutan tersebut seperti tumbuhan, satwa, dan seluruh keanekaragaman hayati yang ada di dalam hutan. Di Indonesia, luasan hutan berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sekitar 125,9 juta hektare (ha) atau seluas 63,7% dari luasan Indonesia.

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, meliputi keanekaragaman hayati flora maupun fauna yang ada. Hutan Indonesia ditumbuhi 11% spesies tumbuhan, 12% mamalia, 15% herpetofauna, serta 17% burung dari total populasi dunia. Hal tersebut merupakan modal dasar bagi bangsa Indonesia untuk dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS) di bidang hutan tropika. Hutan-hutan tersebut juga memberikan banyak produk seperti kayu, buah, sayuran, kacang-kacangan, rempah-rempah, obat-obatan, minyak atsiri, pakan ternak, tumbuhan pewarna, pestisida, dan lain-lain. Keanekaragaman hayati yang ada di dalam hutan tersebut merupakan sarana untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia.

Dalam ilmu etnobiologi, masyarakat di Indonesia telah lama berinteraksi dengan ekosistem hutan, sehingga muncul pengetahuan lokal tentang pemanfaatan keanekaragaman hayati yang ada di dalam hutan berdasarkan pengalaman masyarakat selama puluhan bahkan ratusan tahun serta melalui proses seleksi dan adaptasi. Pengetahuan lokal (tradisional) masyarakat tersebut harus dijadikan sebagai soko guru (modal dasar) dalam pengembangan industri dan perekonomian negara, khususnya di bidang pangan dan obat. Menurut Hidayat et al. (2010) sesungguhnya lebih dari 6000 spesies tumbuhan dan hewan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

Hutan Indonesia telah menyediakan pangan dan obat yang dapat dijadikan sebagai komoditas unggulan pada masing-masing lokasi yang khas dan spesifik. Berdasarkan data penelitian yang dilakukan oleh Hidayat et al. (2010), terdapat lebih dari 100 spesies tumbuhan biji-bijian, sagu, dan umbi-umbian penghasil tepung dan gula, lebih dari 100 spesies tumbuhan kacang-kacangan sebagai penghasil protein dan lemak, 450 spesies tumbuhan buah-buahan sebagai sumber vitamin dan mineral, lebih dari 250 spesies tumbuhan sayur-sayuran sebagai sumber vitamin dan mineral, 70 spesies tumbuhan bumbu dan rempah-rempah, serta 40 spesies tumbuhan bahan minuman. Seluruh potensi keanekaragaman hayati hutan Indonesia tersebut sudah sepatutnya kita manfaatkan untuk mendukung perbaikan kualitas hidup masyarakat Indonesia.

Kekayaan hutan Indonesia harus dikelola dan dimanfaatkan secara adil dan lestari guna mendukung pembangunan berkelanjutan. Sudah sepatutnya kita fokus pada pengembangan potensi lokal hutan Indonesia yang sangat kaya dan beragam, dimana pada setiap tempat memiliki kekhasan masing-masing yang barangkali satu tempat berbeda dengan tempat yang lainnya. Hutan dan keanekaragaman hayati merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, jika hutan lestari maka keanekaragaman hayati akan tetap terjaga. Pada momen Hari Hutan Internasional ini mari kita berpikir untuk mengembangkan potensi hutan Indonesia dengan tetap menjaga kelestariannya.

Bukan hutan rusak yang kita takutkan; tetapi moral, akhlak, dan iman rusak itulah yang kita takutkan (Prof. Dr. Ir. Ervizal AM Zuhud, MS)

Penulis : Primadhika Al Manar

Divisi Bioprospeksi dan Konservasi Tumbuhan Tropika, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB

PUSTAKA

Hidayat S, Hikmat A, Zuhud EAM. 2010. Hutan sebagai sumber pangan. Paper. Belum dipublikasikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here