Fathul Qorib: Shalat (Bagian 3)

Fathul Qorib : Fasal, Hal-hal yang membatalkan SholatHal-hal yang membatalkan Sholat ada 11 ( Fathul qorib ),yaitu:Berbicara dengan sengaja, yaitu ucapan-ucapan yang disengaja dan difahami orang lain . Berbicara selain membaca ayat Al-Qur’an walaupun hanya mengatakan " قِ" yang berarti jagalah, maka itu akan membatalkan sholat.Bergerak yang berlebihan, hitungan berlebihan adalah lebih dari tiga gerakan atau satu gerakan tetapi frontal, misalnya loncat. Meskipun hanya satu gerakan, tetapi itu tidak dihitung satu gerakan karena gerakannya terlalu frontal. Yang tidak dihitung sebagai gerakan yaitu gerakan-gerakan kecil seperti gerakan jari, gerakan bibir, gerakan kelopak mata.Hadats, baik hadats kecil maupun hadats besar.Terkena najis, contohnya kotoran cicak.Terbukanya aurat, kalau terbukanya hanya sebentar kemudian ditutup itu tidak membatalkan sholat.Berubahnya niat, contohnya ketika imam salah, kemudian makmum mengucapkan tasbih ( bagi laki-laki) tetapi hanya berniat mengingatkan imam bukan diniati dzikir, maka dia sholatnya batal.Berpaling dari kiblat, Imam Syafi’i menggunakan acuan dada, ketika dada berpaling dari kiblat maka sholatnya batal.Tertawa terbahak-bahak sampai badannya ikut bergerak-gerak.Makan, contohnya ketika sebelum sholat seseorang makan terlebih dahulu. ketika sholat, terdapat sisa makanan yang tertinggal di gigi , kemudian sisa itu ditelan, maka sholatnya batal.MinumMurtadFasal,Dalam sholat fardhu itu ada 17 rokaat, 34 sujud, 94 takbir, 9 tasyahud, 10 salam, 153 tasbih, dan jumlah rukun sholat fardhu ada 126. Orang yang tidak kuat untuk berdiri, maka diperbolehkan sholat dengan duduk, yang paling afdhal adalah duduk seperti duduk iftirasy. Jika tidak kuat duduk maka sholat dengan tidur miring, lambung kanan berada di sebelah bawah dan miring menghadap kiblat, jika tidak mampu maka menggunakan isyarat.Fasal, perkara yang ditinggalkan ketika sholat.Jika perkara wajib yang ditinggal atau rukun sholat, maka harus ditambah dan disempurnakan sesuai dengan rukun yang ditingggalkan dan ditambah dengan sujud sahwi.Jika yang ditinggalkan adalah sunnah, maka tidak perlu menambah tetapi tetap melakukan sujud sahwi.Jika yang di tinggalkan bukan wajib dan sunnah maka tidak perlu menambah dan tidak perlu sujud sahwi.Rangkuman kajianKitab: Fathul QoribPemateri: ust Hamzah AlfarisiWaktu: Jumat, 30 November 2018Tempat: node ARL lt 2

Fathul Qorib-Terdapat beberapa kajian mengenai shalat pada kitab ini, antara lain: hal-hal yang membatalkan shalat, bilangan shalat, waktu-waktu yang dilarang mendirikan shalat, dan lain-lain. Tulisan tentang shalat ini akan dibagi menjadi beberapa bagian atau seri.

Lima Waktu yang Dilarang untuk Shalat

Dalam fasal ini diterangkan waktu-waktu yang dimakruhkan untuk mendirikan shalat di dalamnya. Ada lima waktu yang dilarang untuk melaksanakan shalat, kecuali ada sebab yang mendahuluinya. Adapun lima waktu tersebut, ialah

  1. Setelah salat subuh sampai terbitnya matahari,
  2. Ketika terbitnya matahari sampai sempurnanya terbit,
  3. ketika matahari tepat di atas kepala (ketika suatu benda tidak mempunyai bayangan) sampai matahari sedikit tergelincir, pengecualian pada hari jumat tidak dilarang, demikian pula pada jika salat dilakukan di tanah haram Makah,
  4. Setelah salat asar sampai terbenamnya matahari,
  5. Ketika matahari terbenam sampai benar-benar sempurna tenggelam.

Hukum Shalat Berjamaah bagi Kaum Lelaki

Berjamaah pada salat jumat hukumnya fardhu ‘ain, adapun berjamah dalam salat fardhu selain salat jumat hukumnya sunnah muakad. Ketika salat berjamaah, makmum wajib niat sebagai makmum, sedangkan imam tidak wajib niat sebagai imam, kecuali pada salat jumat hukumnya sunnah.

Orang yang merdeka boleh makmum kepada seorang budak. Orang baligh boleh makmum kepada murohiq (laki-laki yang sudah tamyiz tetapi belum baligh). Laki-laki tidak diperbolehkan makmum kepada wanita maupun khuntsa (orang yang mempunyai dua alat kelamin dan keduanya berfungsi dengan baik). Wanita boleh makmum kepada wanita. Wanita boleh makmum kepada khuntsa. Khuntsa tidak boleh makmum kepada khuntsa maupun wanita.

Ketika salat berjamaah, imam dan makmum harus dalam satu tempat. Jika makmum tidak bisa melihat imam karena safnya terlalu panjang, maka dia cukup melihat saf depannya, saf depannya bisa melihat saf depannya, berlanjut sampai ke imam. Makmum tidak boleh mendahului imam. Batas toleransi mendahului imam adalah dua kali fi’li (gerakan). Tidak ada penghalang yang menghalangi antara imam dengan makmum atau antara makmum dengan saf depannya. Sehingga makmum tidak tau apa yang dilakukan imam.

Fathul Qorib: Bab Shalat 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *