Fathul Qorib Ihya Al Mawat : Mengolah Bumi Yang Mati

PengertianFathul Qorib - Al mawat, sebagaimana yang dijelaskan oleh imam ar Rafi’i di dalam kitab Asy Syarh ash Shagir, adalah lahan yang tidak berstatus milik dan tidak dimanfaatkan oleh seseorang. Sedangkan, Ihya’ al Mawat ialah mengolah bumi yang mati. Adapun yang dimaksud bumi yang mati ialah lahan yang belum dimanfaatkan.SyaratSyarat Ihya’ al Mawat ada dua. Pertama ialah orang yang mengolah bergama islam. Maka bagi orang islam hukumnya sunnah mengolah bumi mati, baik dengan izin imam ataupun tidak. Kecuali jika ada hak yang bersinggungan dengan bumi mawat tersebut. Seperti imam membatasi sebagian dari bumi mawat, kemudian ada seseorang yang ingin mengolahnya, maka ia tidak bisa memilikinya kecuali dengan izin dari imam, demikian menurut pendapat al ashah. Syarat yang kedua yaitu bumi tersebut harus merdeka-tidak bersatatus milik-yang dimiliki oleh orang islam. Lahan yang pernah dihuni namun sekarang sudah tidak lagi, maka statusnya adalah milik orang yang memilikinya jika memang diketahui, baik orang islam atau kafir dzimmi. Urusannya diserahkan pada keputusan imam, mau dijaga, atau dijual dan hasil penjualannya dijaga.Tata CaraTerdapat empat cara dalam ihya al Mawat berdasarkan tujuan dari pengolahan bumi mawat tersebut. Pertama,  jika orang yang mengolah ingin mengolah lahan mawat menjadi sebagai rumah, maka dalam hal ini disyaratkan harus memagari lahan tersebut dengan membangun pagar dengan sesuatu yang terlaku secara adat di tempat tersebut, yaitu berupa bata, batu atau bambu. Selain itu, disyaratkan harus memberi atap diatas sebagian lahan dan memasang pintu. Jika orang yang mengolah ingin menjadikan mawat sebagai kandang binatang ternak, maka cukup membuat pagar yang lebih rendah dari pagarnya rumah, dan tidak disyaratkan harus membuat atap. Kedua, Jika yang mengolah ingin menjadikan mawat sebagai ladang, maka ia harus mengumpulkan tanah di sekelilingnya, meratakan lahan tersebut dengan mencangkul bagian-bagian yang agak tinggi di sana, menimbun bagian-bagian yang berlubang/rendah, mengatur pengairan pada lahan tersebut dengan menggali sumur atau menggali saluran air. Ketiga, Jika orang yang mengolah ingin menjadikan mawat sebagai kandang binatang ternak, maka cukup membuat pagar yang lebih rendah dari pagarnya rumah, dan tidak disyaratkan harus membuat atap. Kempat,  jika yang mengolah lahan mawat ingin membuat kebun, maka ia harus mengumpulkan tanah dan membuat pagar di sekeliling lahan kebun tersebut jika memang hal itu telah terlaku. Di samping itu, juga disyaratkan harus menanam sesuatu menurut pendapat al madzhab.Pemberian AirKetika seseorang menemukan suatu sumber air, maka tidak wajib diberikan pada orang lain secara mutlak. Kewajiban memberikan air tersebut hanya diberlakukan dengan tiga syarat. Syarat pertama, air tersebut lebih dari kebutuhannya, maksudnya orang yang memiliki air tersebut. Jika air itu tidak lebih, maka ia berhak mendahulukan dirinya sendiri dan tidak wajib memberikannya pada orang lain. Syarat kedua, air tersebut dibutuhkan oleh orang lain, baik untuk dirinya sendiri atau binatangnya.Hal ini ketika di sana terdapat padang rumput yang digunakan untuk mengembalakan binatang ternak, dan tidak mungkin mengembala di sana kecuali dengan memberi minum air. Namun, tidak wajib baginya memberikan air tersebutuntuk tanaman atau pohon orang lain. Syarat ketiga, air tersebut masih berada di tempatnya, yaitu tempat keluarnya air baik sumur atau sumber. Sehingga, ketika air ini sudah diambil di dalam sebuah wadah, maka tidak wajib diberikan menurut pendapat shahih. Ketika wajib untuk memberikan air, maka yang dikehendaki dengan ini adalah mempersilahkan binatang ternak orang lain untuk mendatangi sumur, jika pemilik air tidak terganggu pada tanaman dan binatang ternaknya sendiri. Jika ia terganggu dengan kedatangan binatang ternak tersebut, maka binatang ternak tersebut dicegah untuk mendatangi sumur, dan bagi para pengembalanya yang harus mengambilkan air untuk binatang-binatang ternaknya.Kajian Fiqih (Kitab Fathul Qorib)Oleh: Ustadz M. Ainun Na’imJumat, 15 November 2019

Pengertian

Fathul Qorib – Al mawat, sebagaimana yang dijelaskan oleh imam ar Rafi’i di dalam kitab Asy Syarh ash Shagir, adalah lahan yang tidak berstatus milik dan tidak dimanfaatkan oleh seseorang. Sedangkan, Ihya’ al Mawat ialah mengolah bumi yang mati. Adapun yang dimaksud bumi yang mati ialah lahan yang belum dimanfaatkan.

Syarat

Syarat Ihya’ al Mawat ada dua. Pertama ialah orang yang mengolah bergama islam. Maka bagi orang islam hukumnya sunnah mengolah bumi mati, baik dengan izin imam ataupun tidak. Kecuali jika ada hak yang bersinggungan dengan bumi mawat tersebut. Seperti imam membatasi sebagian dari bumi mawat, kemudian ada seseorang yang ingin mengolahnya, maka ia tidak bisa memilikinya kecuali dengan izin dari imam, demikian menurut pendapat al ashah. Syarat yang kedua yaitu bumi tersebut harus merdeka-tidak bersatatus milik-yang dimiliki oleh orang islam. Lahan yang pernah dihuni namun sekarang sudah tidak lagi, maka statusnya adalah milik orang yang memilikinya jika memang diketahui, baik orang islam atau kafir dzimmi. Urusannya diserahkan pada keputusan imam, mau dijaga, atau dijual dan hasil penjualannya dijaga.

Tata Cara

Terdapat empat cara dalam ihya al Mawat berdasarkan tujuan dari pengolahan bumi mawat tersebut. Pertama,  jika orang yang mengolah ingin mengolah lahan mawat menjadi sebagai rumah, maka dalam hal ini disyaratkan harus memagari lahan tersebut dengan membangun pagar dengan sesuatu yang terlaku secara adat di tempat tersebut, yaitu berupa bata, batu atau bambu. Selain itu, disyaratkan harus memberi atap diatas sebagian lahan dan memasang pintu. Jika orang yang mengolah ingin menjadikan mawat sebagai kandang binatang ternak, maka cukup membuat pagar yang lebih rendah dari pagarnya rumah, dan tidak disyaratkan harus membuat atap. Kedua, Jika yang mengolah ingin menjadikan mawat sebagai ladang, maka ia harus mengumpulkan tanah di sekelilingnya, meratakan lahan tersebut dengan mencangkul bagian-bagian yang agak tinggi di sana, menimbun bagian-bagian yang berlubang/rendah, mengatur pengairan pada lahan tersebut dengan menggali sumur atau menggali saluran air. Ketiga, Jika orang yang mengolah ingin menjadikan mawat sebagai kandang binatang ternak, maka cukup membuat pagar yang lebih rendah dari pagarnya rumah, dan tidak disyaratkan harus membuat atap. Kempat,  jika yang mengolah lahan mawat ingin membuat kebun, maka ia harus mengumpulkan tanah dan membuat pagar di sekeliling lahan kebun tersebut jika memang hal itu telah terlaku. Di samping itu, juga disyaratkan harus menanam sesuatu menurut pendapat al madzhab.

Pemberian Air

Ketika seseorang menemukan suatu sumber air, maka tidak wajib diberikan pada orang lain secara mutlak. Kewajiban memberikan air tersebut hanya diberlakukan dengan tiga syarat. Syarat pertama, air tersebut lebih dari kebutuhannya, maksudnya orang yang memiliki air tersebut. Jika air itu tidak lebih, maka ia berhak mendahulukan dirinya sendiri dan tidak wajib memberikannya pada orang lain. Syarat kedua, air tersebut dibutuhkan oleh orang lain, baik untuk dirinya sendiri atau binatangnya.Hal ini ketika di sana terdapat padang rumput yang digunakan untuk mengembalakan binatang ternak, dan tidak mungkin mengembala di sana kecuali dengan memberi minum air. Namun, tidak wajib baginya memberikan air tersebutuntuk tanaman atau pohon orang lain. Syarat ketiga, air tersebut masih berada di tempatnya, yaitu tempat keluarnya air baik sumur atau sumber. Sehingga, ketika air ini sudah diambil di dalam sebuah wadah, maka tidak wajib diberikan menurut pendapat shahih. Ketika wajib untuk memberikan air, maka yang dikehendaki dengan ini adalah mempersilahkan binatang ternak orang lain untuk mendatangi sumur, jika pemilik air tidak terganggu pada tanaman dan binatang ternaknya sendiri. Jika ia terganggu dengan kedatangan binatang ternak tersebut, maka binatang ternak tersebut dicegah untuk mendatangi sumur, dan bagi para pengembalanya yang harus mengambilkan air untuk binatang-binatang ternaknya.

Kajian Fiqih (Kitab Fathul Qorib)

Oleh: Ustadz M. Ainun Na’im

Jumat, 15 November 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *