Fathul Qorib : Hukum Wakaf dan Pengertiannya

0
83
Pengertian Hukum Wakaf - Ditinjau dari segi bahasa waqaf berarti menanam, sedangkan secara syara’ waqaf merupakan menahan harta untuk dialih milikkan, yaitu dengan cara memindah hak tasharruf (penggunaan) dari pewaqaf (waqif) ke penerima waqaf (mauquf alaih) dengan tujuan mendekat diri kepada Allah Ta’ala. Waqaf hukumnya boleh dan memiliki tiga syaratPertama, harta yang diwaqafkan (mauquf) harus berupa barang yang dapat dimanfaatkan dan keadaannnya tetap (utuh, tahan lama). Oleh karena itu, waqif tidak boleh mewaqafkan uang atau makanan yang hanya sekali pemanfaatannya. Dari segi pemanfaatanya, mauquf dimanfaatkan dengan tujuan sesuai syara’j, bukan alat-alat untuk permainan ataupun perhiasan. Mauquf tidak disyaratkan memiliki kemanfaatan yang ada pada saat itu (aktual). Sehingga hukumnya sah mewaqafkan budak dan keledai yang masih kecil untuk diambil manfaatnya di kemudian hari.Kedua, Waqaf harus diberikan pada asal (mauquf alaih pertama) yang sudah wujud, dan far’ (mauquf alaih selanjutnya) yang tidak terputus (akan selalu ada).Sebagai contoh, waqif tidak boleh mewaqafkan barang kepada anaknya kemudian diwaqafkan kepada orang-orang miskin, sedangkan dia tidak memiliki anak. Contoh ini dinamakan dengan munqati’ al awwal (mauquf alaih yang pertamanya terputus).Berkaitan dengan contoh sebelumnya, jika wakif tidak menyebutkan kata “kemudian setelahnya diberikan pada fuqara’”, maka contoh ini adalah mungqathi’ awwal wal akhir (maukuf pertama dan akhir terputus).Ketiga, waqaf tidak dilakukan pada sesuatu yang diharamkan.Sesungguhnya waqaf tidak disyaratkan harus nampak jelas tujuan ibadahnya, bahkan yang penting tidak mengandung unsur maksiatnya, baik nampak jelas tujuan ibadahnya seperti waqaf kepada kaum fuqara’, atau tidak nampak jelas seperti waqaf kepada orang-orang kaya.Di dalam waqaf disyaratkan pula untuk tidak dibatasi dengan waktu. Misalnya, “aku waqafkan barang ini selama setahun.”, maka waqaf seperti ini tidak sah. Waqaf (penggunaannya) disesuaikan dengan apa yang disyaratkan oleh waqif pada barang tersebut. Misalnya, mendahulukan sebagian dari orang-orang yang mendapatkan waqaf seperti, “aku waqafkan pada anak-anakku yang paling wira’i.”, atau mengakhirkan sebagiannya, seperti “aku waqafkan kepada anak-anakku. Kemudian ketika mereka sudah tidak ada, maka kepada anak-anak mereka.”, atau menyamakan diantara seluruh mauquf alaih, seperti, “aku wakafkan kepada anak-anakku sama rata antara yang laki-laki dan yang perempuan.”, atau mengunggulkan sebagian anak-anaknya di atas sebagian yang lain seperti, “aku waqafkan kepada anak-anakku, yang laki-laki mendapatkan bagian dua kali lipat dari bagian yang perempuan.”Kajian Fiqih (Kitab Fathul Qorib)Oleh: Ustadz Hamzah AlfarisiJumat, 22 November 2019Editor : Mil

Pengertian

Hukum Wakaf – Ditinjau dari segi bahasa waqaf berarti menanam, sedangkan secara syara’ waqaf merupakan menahan harta untuk dialih milikkan, yaitu dengan cara memindah hak tasharruf (penggunaan) dari pewaqaf (waqif) ke penerima waqaf (mauquf alaih) dengan tujuan mendekat diri kepada Allah Ta’ala.

Waqaf hukumnya boleh dan memiliki tiga syarat

Pertama, harta yang diwaqafkan (mauquf) harus berupa barang yang dapat dimanfaatkan dan keadaannnya tetap (utuh, tahan lama). Oleh karena itu, waqif tidak boleh mewaqafkan uang atau makanan yang hanya sekali pemanfaatannya. Dari segi pemanfaatanya, mauquf dimanfaatkan dengan tujuan sesuai syara’j, bukan alat-alat untuk permainan ataupun perhiasan. Mauquf tidak disyaratkan memiliki kemanfaatan yang ada pada saat itu (aktual). Sehingga hukumnya sah mewaqafkan budak dan keledai yang masih kecil untuk diambil manfaatnya di kemudian hari.

Kedua, Waqaf harus diberikan pada asal (mauquf alaih pertama) yang sudah wujud, dan far’ (mauquf alaih selanjutnya) yang tidak terputus (akan selalu ada).
Sebagai contoh, waqif tidak boleh mewaqafkan barang kepada anaknya kemudian diwaqafkan kepada orang-orang miskin, sedangkan dia tidak memiliki anak. Contoh ini dinamakan dengan munqati’ al awwal (mauquf alaih yang pertamanya terputus).
Berkaitan dengan contoh sebelumnya, jika wakif tidak menyebutkan kata “kemudian setelahnya diberikan pada fuqara’”, maka contoh ini adalah mungqathi’ awwal wal akhir (maukuf pertama dan akhir terputus).

Ketiga, waqaf tidak dilakukan pada sesuatu yang diharamkan.
Sesungguhnya waqaf tidak disyaratkan harus nampak jelas tujuan ibadahnya, bahkan yang penting tidak mengandung unsur maksiatnya, baik nampak jelas tujuan ibadahnya seperti waqaf kepada kaum fuqara’, atau tidak nampak jelas seperti waqaf kepada orang-orang kaya.

Di dalam waqaf disyaratkan pula untuk tidak dibatasi dengan waktu. Misalnya,

“aku waqafkan barang ini selama setahun.”,

maka waqaf seperti ini tidak sah. Waqaf (penggunaannya) disesuaikan dengan apa yang disyaratkan oleh waqif pada barang tersebut. Misalnya, mendahulukan sebagian dari orang-orang yang mendapatkan waqaf seperti,

“aku waqafkan pada anak-anakku yang paling wira’i.”,

atau mengakhirkan sebagiannya, seperti “aku waqafkan kepada anak-anakku. Kemudian ketika mereka sudah tidak ada, maka kepada anak-anak mereka.”,

atau menyamakan diantara seluruh mauquf alaih, seperti,

“aku wakafkan kepada anak-anakku sama rata antara yang laki-laki dan yang perempuan.”,

atau mengunggulkan sebagian anak-anaknya di atas sebagian yang lain seperti,

“aku waqafkan kepada anak-anakku, yang laki-laki mendapatkan bagian dua kali lipat dari bagian yang perempuan.”

Kajian Fiqih (Kitab Fathul Qorib)

Oleh: Ustadz Hamzah Alfarisi

Jumat, 22 November 2019

Editor : Mil

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here