Fathul Qorib: Hukum-hukum Hibah

1
42
KMNU IPB- Hibah menurut bahasa berasal dari kata hubuub yang berarti “tiupan angin”, atau “orang terbangun dari tidurnya ketika ia terjaga”, maka seakan-akan orang yang melakukan hibah tersebut terjaga untuk melakukan kebaikan.Sedangkan, menurut syara’ hibah adalah adalah memberikan kepemilikan suatu benda secara langsung dan dimutlakkan, saat masih hidup tanpa meminta sedikitpun timbal balik, walaupun kepada orang yang lebih tinggi derajatnya.Singkatnya, hibah merupakan pemberian kepemilikian suatu barang karena Alloh dengan tidak menuntut pengganti, dinyatakan secara lisan melalui serah terima (ijab qabul) untuk pengesahannya.Barang yang dihibahkan adalah barang yang dimiliki penuh oleh orang yang memberi hibah. Hibah harus diberikan dengan barangnya bukan hanya manfaatnya. Mushannif kitab fathul qarib menjelaskan batasan barang yang bisa dihibbahkan di dalam perkataan beliau “setiap barang yang boleh dijual, maka boleh dihibbahkan”. Sesuatu yang tidak sah dijual-belikan, maka tidak sah pula untuk hibbah.Hibbah tidak bisa dimiliki dan belum tetap kecuali barangnya telah diterima dengan seizin pemberi. Seandainya orang yang diberi atau yang memberi meninggal dunia sebelum barang yang dihibbahkan diterima, maka hibbah tersebut tidak rusak, dan yang menggantikan keduanya adalah ahli warisnya di dalam menerima maupun menyerahkannya.Ketika orang yang diberi telah menerima barang pemberiannya, maka bagi si pemberi tidak diperkenankan menarik kembali kecuali ia adalah orang tua orang yang diberi, walaupun seatasnya. Ketika seseorang memberikan seumur hidup suatu barang, semisal rumah , seperti ucapannya, “aku memberikan rumah ini seumur hidup padamu.” Akad tersebut yaitu disebut akad أعمر (akad yang berlaku untuk selamanya). Atau melakukan raqbah (رقبه) rumah tersebut pada orang lain seperti perkataannya, “aku memberikan raqbah rumah ini padamu dan aku menjadikan ruqbah padamu”, atau seseorang mengawasi kepada rumah tersebut, misalnya berkata “aku mengawasimu atas rumah ini, dan kujadikan rumah ini bagimu (pengawasan)” , maksudnya “jika engkau meninggal dulu sebelum aku, maka rumah ini kembali padaku. Dan jika aku meninggal dulu sebelum engkau, maka rumah ini tetap menjadi milikmu.”Hibah berbeda dengan sedekah dan hadiah. Hadiah adalah sedekah yang diberikan dengan niat untuk mendapatkan pahala, hadiah diberikan dengan maksud untuk memuliakan orang yang diberi hadiah, sedangkan hibah adalah memberi barang tanpa mengharap apapun.

KMNU IPBHibah menurut bahasa berasal dari kata hubuub yang berarti “tiupan angin”, atau “orang terbangun dari tidurnya ketika ia terjaga”, maka seakan-akan orang yang melakukan hibah tersebut terjaga untuk melakukan kebaikan.

Menurut syara’ hibah adalah memberikan kepemilikan suatu benda secara langsung dan dimutlakkan saat masih hidup tanpa meminta sedikitpun timbal balik walaupun kepada orang yang lebih tinggi derajatnya.

Singkatnya, hibah merupakan pemberian kepemilikian suatu barang karena Alloh dengan tidak menuntut pengganti, dinyatakan secara lisan melalui serah terima (ijab qabul) untuk pengesahannya.

Barang yang dihibahkan adalah barang yang dimiliki penuh oleh orang yang memberi hibah. Hibah harus diberikan dengan barangnya bukan hanya manfaatnya. Mushannif kitab Fathul Qarib menjelaskan batasan barang yang bisa dihibbahkan di dalam perkataan beliau “setiap barang yang boleh dijual, maka boleh dihibbahkan”. Sesuatu yang tidak sah dijual-belikan, maka tidak sah pula untuk hibbah.

Hibbah tidak bisa dimiliki dan belum tetap kecuali barangnya telah diterima dengan seizin pemberi. Seandainya orang yang diberi atau yang memberi meninggal dunia sebelum barang yang dihibbahkan diterima, maka hibbah tersebut tidak rusak, dan yang menggantikan keduanya adalah ahli warisnya di dalam menerima maupun menyerahkannya.

Ketika orang yang diberi telah menerima barang pemberiannya, maka bagi si pemberi tidak diperkenankan menarik kembali kecuali ia adalah orang tua orang yang diberi, walaupun seatasnya. Ketika seseorang memberikan seumur hidup suatu barang, semisal rumah , seperti ucapannya, “aku memberikan rumah ini seumur hidup padamu.” Akad tersebut yaitu disebut akad أعمر (akad yang berlaku untuk selamanya). Atau melakukan raqbah (رقبه) rumah tersebut pada orang lain seperti perkataannya, “aku memberikan raqbah rumah ini padamu dan aku menjadikan ruqbah padamu”, atau seseorang mengawasi kepada rumah tersebut, misalnya berkata “aku mengawasimu atas rumah ini, dan kujadikan rumah ini bagimu (pengawasan)” , maksudnya “jika engkau meninggal dulu sebelum aku, maka rumah ini kembali padaku. Dan jika aku meninggal dulu sebelum engkau, maka rumah ini tetap menjadi milikmu.”

Hibah berbeda dengan sedekah dan hadiah. Hadiah adalah sedekah yang diberikan dengan niat untuk mendapatkan pahala, hadiah diberikan dengan maksud untuk memuliakan orang yang diberi hadiah, sedangkan hibah adalah memberi barang tanpa mengharap apapun.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here