Dari Maroko : Mengenang Almarhum Dr. Ir. Aji Hermawan, M.M.

0
157
Saya cukup terkejut dengan berita kewafatan Almarhum malam tadi waktu Maroko. Saya sangat sedih dengan kepergian Almarhum, tapi saya juga ingat bahwa cepat atau lambat saya juga akan menyusul beliau. Ini hanya persoalan waktu, adapun kematian itu sendiri adalah sebuah kepastian. Guna menghidupkan sunah Rasulullah SAW untuk menyebut-nyebut kebaikan orang yang telah mendahului kita, maka saya berusaha menulis risalah singkat ini dengan segala keterbatasan. Semoga bisa menjadi persaksian baik atas Almarhum dan menjadi sebab beliau dikumpulkan bersama hamba-hamba-Nya yang saleh di surga yang tertinggi bersama Baginda Rasul SAW. Saya memang tidak punya hubungan khusus dan spesial dengan Almarhum. Hubungan saya dengan beliau semasa hidup memang tidak bisa dikatakan dekat jika dibandingkan dengan para senior saya, sekalas Mas Zimam dan lainnya. Hanya saja saya banyak mendengar berita tentang beliau dari lisan kawan-kawan. Saya pernah menjadi anggota KMNU ditingkat IPB dan pengurus di tingkat nasional yang notabene beliau adalah salah satu pembinanya. Saya juga pernah satu komisi dengan beliau di MUI Kota Bogor sebelum saya berangkat ke Maroko. Jika saya diminta meringkas kebaikan Almarhum maka saya akan menyifati beliau sebagai sosok yang rendah hati . Ini tidak bisa dipungkiri siapapun. Akhlak , penampilan, tutur kata, dan raut wajahnya tidak sedikitpun menunjukkan tanda-tanda bahwa beliau adalah sosok doktoral di bidang kelautan dengan peringkat sempurna, tokoh kunci pengembangan teknologi terapan di IPB, anggota majelis ulama, wakil sekertaris jenderal PBNU, dan salah satu penyandang dana setiap kegiatan besar mahasiswa NU IPB. Sosok yang tidak pernah mengumbar janji, apalagi hingga mengingkarinya. Tidak banyak berteori. Beliau tipe yang langsung action dan berkontribusi nyata jika dimintai tolong (bahkan saat tidak dimintai tolong sekalipun). Saya tidak pungkiri bahwa saya (atau mungkin lebih tepatnya kami) banyak berinteraksi dengan orang yang notabene lebih pintar dan lebih kaya dibanding beliau, tapi tidak satupun yang mengalahkan nyatanya kontribusi beliau dalam hal moril maupun materil. Itu pandangan saya. Kadang penyakit yang menghinggapi orang (yang merasa) besar adalah keyakinan bahwa dirinya lebih pintar dan lebih kaya dari pada orang lain, sehingga ide baik harus berasal dari dirinya. Sedang orang lain (hanya) sebagai pelaksana tugas. Ia sudah merasa cukup baik dengan memberi orang lain pekerjaan untuk mewujudkan ide baiknya dan (tentunya) menanggung dana yang diperlukan untuk mewujudkan ide itu. Padahal ini sama sekali tidak tepat untuk dunia pendidikan. Mungkin dunia bisnis iya, tapi tidak untuk dunia pendidikan. Almarhum mencerminkan sosok pembina (atau mungkin istilah sakralnya murabbi atau istilah kerennya mentor) yang saat bertemu dengan anak binaannya akan menanyakan kabarnya, pencapaian yang telah diraihnya, masalah yang dihadapinya, solusi yang direncanakannya, dan kontribusi apa yang beliau bisa berikan untuk membantunya. Terkadang malah beliau yang terlebih dahulu menghubungi dan mengontak via telepon selular. Ini bukan sekali atau dua kali beliau lakukan, tapi berkali-kali. Kalau anda baca kitab Qawaidh At-Tasawwuf karya Ahmad Zarruq mengenai hubungan guru dan murid, nah persis seperti itu. Membebaskan binaannya berkembang sesuai pasion masing-masing hingga mencapai tingkat yang beliau anggap sudah bisa dilepaskan ke alam bebas. Almarhum sosok yang membina, bukan mempekerjakan. Sedikitpun beliau tidak berniat untuk menjadi kaya-raya ataupun terkenal dengan apa yang telah beliau lakukan, bahkan sebaliknya, berpesan untuk tidak menyebutnya namanya. Selalu menekankan bahwa beliau hanya seorang mentor. Tidak lebih. Semua orang merasakan keakraban dengan Almarhum, baik senior maupun junior, mahasiswa maupun dosen, murid maupun kawan. Semua merasakan kehangatan candaannya dan kebaikan hatinya. Lebih dari itu, kendati Almarhum tinggal di Bogor, berkuliah di IPB, dan kemudian mengabdi di almamaternya tersebut, beliau adalah sosok yang gigih memperjuangkan Ahlussunnah Wal Jamaah. Tidak ada seorangpun yang bisa mengingkari kontribusinya terhadap Nahdlatul Ulama dan segala hal yang berhubungan dengan Nahdlatul Ulama. Hingga di penghujung hayat, beliau masih menjabat Wasekjen PBNU, salah satu pembina KMNU IPB, dan pendukung kuat berdirinya Pondok Pesantren ala NU di sekitar IPB. Terakhir, saya memohon kepada Allah SWT agar mengampuni kesalahan Almarhum, menerima segala amal kebaikannya, dan menempatkannya di surga-Nya yang tertinggi bersama Sang Kakasih Almarhum Rasulullah Muhammad SAW. Semoga kesaksian kita atas kebaikan Almarhum ini dijadikan salah satu sebab bertambahnya derajat beliau di sisi Allah SWT. Takziah dan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan. Semoga diberi ketabahan dan kesabaran. Untuk segenap kader dan binaan beliau, saya mengajak untuk terus melanjutkan semangat dan usaha kebaikan Almarhum. Wallahul Muwaffia ila Aqwamith Thariq. Fes, 30 Rajab 1441 Adhli Al-Qarni
Dr. Ir. H. Aji Hermawan, MM.

Saya cukup terkejut dengan berita kewafatan Almarhum malam tadi waktu Maroko. Saya sangat sedih dengan kepergian Almarhum, tapi saya juga ingat bahwa cepat atau lambat saya juga akan menyusul beliau. Ini hanya persoalan waktu, adapun kematian itu sendiri adalah sebuah kepastian.

Guna menghidupkan sunah Rasulullah SAW untuk menyebut-nyebut kebaikan orang yang telah mendahului kita, maka saya berusaha menulis risalah singkat ini dengan segala keterbatasan. Semoga bisa menjadi persaksian baik atas Almarhum dan menjadi sebab beliau dikumpulkan bersama hamba-hamba-Nya yang saleh di surga yang tertinggi bersama Baginda Rasul SAW.

Saya memang tidak punya hubungan khusus dan spesial dengan Almarhum. Hubungan saya dengan beliau semasa hidup memang tidak bisa dikatakan dekat jika dibandingkan dengan para senior saya, sekalas Mas Zimam dan lainnya. Hanya saja saya banyak mendengar berita tentang beliau dari lisan kawan-kawan. Saya pernah menjadi anggota KMNU ditingkat IPB dan pengurus di tingkat nasional yang notabene beliau adalah salah satu pembinanya. Saya juga pernah satu komisi dengan beliau di MUI Kota Bogor sebelum saya berangkat ke Maroko.

Jika saya diminta meringkas kebaikan Almarhum maka saya akan menyifati beliau sebagai sosok yang rendah hati . Ini tidak bisa dipungkiri siapapun. Akhlak , penampilan, tutur kata, dan raut wajahnya tidak sedikitpun menunjukkan tanda-tanda bahwa beliau adalah sosok doktoral di bidang kelautan dengan peringkat sempurna, tokoh kunci pengembangan teknologi terapan di IPB, anggota majelis ulama, wakil sekertaris jenderal PBNU, dan salah satu penyandang dana setiap kegiatan besar mahasiswa NU IPB.

Sosok yang tidak pernah mengumbar janji, apalagi hingga mengingkarinya. Tidak banyak berteori. Beliau tipe yang langsung action dan berkontribusi nyata jika dimintai tolong (bahkan saat tidak dimintai tolong sekalipun). Saya tidak pungkiri bahwa saya (atau mungkin lebih tepatnya kami) banyak berinteraksi dengan orang yang notabene lebih pintar dan lebih kaya dibanding beliau, tapi tidak satupun yang mengalahkan nyatanya kontribusi beliau dalam hal moril maupun materil. Itu pandangan saya.

Kadang penyakit yang menghinggapi orang (yang merasa) besar adalah keyakinan bahwa dirinya lebih pintar dan lebih kaya dari pada orang lain, sehingga ide baik harus berasal dari dirinya. Sedang orang lain (hanya) sebagai pelaksana tugas. Ia sudah merasa cukup baik dengan memberi orang lain pekerjaan untuk mewujudkan ide baiknya dan (tentunya) menanggung dana yang diperlukan untuk mewujudkan ide itu. Padahal ini sama sekali tidak tepat untuk dunia pendidikan. Mungkin dunia bisnis iya, tapi tidak untuk dunia pendidikan.

Almarhum mencerminkan sosok pembina (atau mungkin istilah sakralnya murabbi atau istilah kerennya mentor) yang saat bertemu dengan anak binaannya akan menanyakan kabarnya, pencapaian yang telah diraihnya, masalah yang dihadapinya, solusi yang direncanakannya, dan kontribusi apa yang beliau bisa berikan untuk membantunya. Terkadang malah beliau yang terlebih dahulu menghubungi dan mengontak via telepon selular. Ini bukan sekali atau dua kali beliau lakukan, tapi berkali-kali. Kalau anda baca kitab Qawaidh At-Tasawwuf karya Ahmad Zarruq mengenai hubungan guru dan murid, nah persis seperti itu. Membebaskan binaannya berkembang sesuai pasion masing-masing hingga mencapai tingkat yang beliau anggap sudah bisa dilepaskan ke alam bebas.

Almarhum sosok yang membina, bukan mempekerjakan. Sedikitpun beliau tidak berniat untuk menjadi kaya-raya ataupun terkenal dengan apa yang telah beliau lakukan, bahkan sebaliknya, berpesan untuk tidak menyebutnya namanya. Selalu menekankan bahwa beliau hanya seorang mentor. Tidak lebih.

Semua orang merasakan keakraban dengan Almarhum, baik senior maupun junior, mahasiswa maupun dosen, murid maupun kawan. Semua merasakan kehangatan candaannya dan kebaikan hatinya.

Lebih dari itu, kendati Almarhum tinggal di Bogor, berkuliah di IPB, dan kemudian mengabdi di almamaternya tersebut, beliau adalah sosok yang gigih memperjuangkan Ahlussunnah Wal Jamaah. Tidak ada seorangpun yang bisa mengingkari kontribusinya terhadap Nahdlatul Ulama dan segala hal yang berhubungan dengan Nahdlatul Ulama. Hingga di penghujung hayat, beliau masih menjabat Wasekjen PBNU, salah satu pembina KMNU IPB, dan pendukung kuat berdirinya Pondok Pesantren ala NU di sekitar IPB.

Terakhir, saya memohon kepada Allah SWT agar mengampuni kesalahan Almarhum, menerima segala amal kebaikannya, dan menempatkannya di surga-Nya yang tertinggi bersama Sang Kakasih Almarhum Rasulullah Muhammad SAW. Semoga kesaksian kita atas kebaikan Almarhum ini dijadikan salah satu sebab bertambahnya derajat beliau di sisi Allah SWT. Takziah dan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan. Semoga diberi ketabahan dan kesabaran. Untuk segenap kader dan binaan beliau, saya mengajak untuk terus melanjutkan semangat dan usaha kebaikan Almarhum.

Wallahul Muwaffia ila Aqwamith Thariq.

Fes, 30 Rajab 1441

Adhli Al-Qarni

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here