Categories
Ke-Indonesia-an Opini Renungan Uncategorized

Curahan Hati Santri di Pesisir Pantai Selatan

“Dalam bentangan angkasa yang aku membaca
Banyak gambaran yang tidak aku baca dalam buku”
Pangumbahan, pesisir pantai selatan yang indah dengan hamparan pasir putihnya, tempat mendarat penyu demi melangsungkan hidupnya. Ekosistem alam yang didesain Dzat Yang Maha Kuasa dengan segala keindahannya.

Keindahan itu seindah keberadaannya, dan kelembutan itu selembut wujudnya. Kusampaikan kabar bahagia saat puncak malam nan gulita bahwa sang fajar akan tiba. Maha Suci Allah Dzat yang Maha Bijaksana.
Ku jejakkan telapak kaki ,tracking dari satu pos ke pos selanjutnya sepanjang garis pantai. Satu hal yang pasti, Ku telah melupakan bahwa berjalan diatas lembutnya pasir bukanlah hal yang sepele, bukankah sering kali kaki bengkak dan terluka bila digunakan berjalan terus menerus. Dengan angkuh ku mengira bahwa berdiri diatas kedua kaki adalah sebuah hal yang mudah, sedang keduanya bisa patah dan tak mampu lagi menopang tubuh kita, bukan? Aduhai Yaa Nafsiy . . . betapa rendahnya diri ini, tiada bersyukur atas segala kenikmatan hidup, kala mendengar deburan ombak bergemuruh saling berebut mendahului dan menghempas daratan berpasir. Tiada pernah ku mengingat adanya ku mendengar bahwa ada campur tangan Dzat yang maha pengasih yang menjauhkan ku dari tuli.
Sejauh mata memandang terlihat luas membentang lautan biru. Khas pantai selatan dengan gelombang yang besar memberi hiasan buih-buih ombak yang terasa lembut menyentuh telapak tangan. Sejenak ku menengadah ke atas terlihat arakan awan menari indah di angkasa dan gagah menghias kaki langit yang menyatu biru dengan lautan. Masih, ku tiada menyadari betapa agung karunia Tuhan Semesta Alam. Seperti inikah kiranya kenikmatan yang tiada tara dan kesempurnaan hidup yang sering kali tak pernah disyukuri, bahkan tak jarang ku berbuat dusta. Acapkali ku sibuk memikirkan sesuatu yang tidak ada, namun lupa mensyukuri segala yang ada. Jiwaku yang rapuh mudah terguncang oleh kerugian materi yang menghujam setiap saat. Seolah lupa bahwa di tangan ini Tuhan telah menitipkan kunci kebahagiaan, menunjukkan jembatan wasilah pengantar kedamaian, karunia, dan kenikmatan. Dalam segala sesuatu terdapat Bukti, yang menunjukkan bahwa Dia adalah dzat yang maha Agung.
(Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik Qs. Al-mu’minun 14)
(Yang menciptakan segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya Qs. As-sajdah 7)

Hari semakin tampak gelap, Matahari mulai menyapa di ufuk barat, pohon kelapa dan vegetasi tanaman darat sepanjang garis pantai melambai syahdu kekiri dan kekanan diterpa angin laut mengisyarakatkan suatu makna yang sulit untukku menerjemahkannya. Seekor burung camar terlihat gagah terbang mengitari garis pantai, di sudut pepohonan terlihat burung pipit sedang asik menikmati pergantian hari. Masing masing memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Sama halnya pada manusia. Setiap manusia memiliki kelebihan, potensi, dan bakat masing-masing. Sayyidinaa Rasulullah Saw. Pun menempatkan setiap setiap sahabatnya sesuai dengan karakteristik para sahabat. Ali R.A misalkan ditempatkan pada posisi kehakiman, Muadz masalah keilmuwan, Ubay bagian yang berkaitan dengan alquran, Zaid masalah faraid, khalid bin walid masalah jihad, dan Qaisy ibn tsabit dalam bidang orasi. Setiap pribadi adalah unik. Tentulah tidak adil membandingkan kekurangan diri dengan kelebihan orang lain. Layaknya menempatkan parfum di tempat pedang, atau kala pedang ditempatkan di tempat parfum. Maha suci Allah, salah satu tanda kebesaranNya adalah perbedaan sifat yang ada pada manusia dengan setiap karakter karakter yang dimilikinya. Perbedaan bahasa atau warna kulitnya.
Kebahagian memang sederhana, namun terkadang kesederhanaan tak semua orang mampu mengartikannya. Seperti duduk bareng, makan bersama, berbagi cerita, membagi beban, dan tertawa ria. Keriangan adalah wajah yang berseri, air yang mengalir, awan yang berarak, langit yang cerah, dan mencintai kebaikan. Pun kesedihan, yang tiada guna dan tiada manfaat, bahkan justru mampu mengurung dalam keterpurukan. Tiada alasan untuk bersedih karena Allah Swt. Rabb yang menentukan takdir, Yang memberi ampunan, Yang menutupi kesalahan, Yang memberi rizki, Maha melihat, Maha Mendengar, semua urusan dan masalah hidup ada dalam kuasa-Nya. Rahmat Allah sungguhlah luas, pintu selalu terbuka lebar. Karunia selalu Allah berikan setiap saat. Sebuah syair berkata:
Ku harap engkau bersikap manis walaupun kehidupan demikian pahit
Lapang hati dan ridho walau orang lain murka
Jika Cinta membara tentulah yang lain adalah ringan
Bukankah yang berada diatas tanah itu adalah tanah?

Berdiri di tepi pantai memanglah menyenangkan, Maha Asik Tuhan telah menganugerahkan karunia segala keindahan semesta. Sejenak ku teringat nasihat kiai saat mengaji, “Samudra sangatlah luas, tak kan pernah rusak atau terganggu hanya karena lemparan batu kerikil seorang bocah,” baru ku mengira makna yang tersirat dalam nasihat itu, akankah jiwa yang lapang, pribadi yang mulya, dan keikhlasan hidup dan keteguhan jiwa yang tinggi, terpengaruh dan diliputi rasa cemas dan sedih hanya karena celaan hidup ini. Jika lebih bijak dan arif, mengingat pesan gus muwafiq “anggaplah itu pupuk kompos” segala bentuk kritikan hidup, kesedihan, ujian, cobaan, bahkan musibah adalah pupuk yang subur untuk menumbuhkan rohani dan jiwa kita menjadi sosok pribadi yang bernilai tawar tinggi di hadapan Sang pencipta Alam Dzat Yang Maha Kasih dan sesama umat manusia. Terimakasih pangumbahan, pesisir pantai selatan yang memberikan ku banyak ilmu tentang kehidupan dan sains. Everything has beauty but not everyone sees it (Confucious)

by : Ibnun.
image : id.wikipedia.org

Leave a Reply

Your email address will not be published.